PSSI memiliki cara untuk menangani sejumlah pemain Tim Nasional (Timnas) Indonesia yang mengalami star syndrome. Bagi yang belum tahu, star syndrome adalah kondisi seseorang merasa hebat, meski kenyataannya tidak seperti itu.
Karena merasa sudah memiliki karier gemilang dan berkesempatan membela Timnas Indonesia, performa si pemain cenderung stagnan. Aktivitas di luar lapangan menjadi penyebab si pemain cenderung tak maksimal saat membela skuad Garuda di ajang-ajang resmi.
Kasus Nurhidayat Haji Harris dapat dijadikan contoh. Bek yang baru saja bergabung Bersama AAHA PS Pati Football Club ini dicoret pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong, saat menjalani pemusatan Latihan di Dubai, Uni Emirat Arab.
Banyak pihak menyebut, Nurhidayat Haji Harris dicoret karena tidak menjaga pola makan. Sekretaris Jenderal (Sekjen) PSSI Yunus Nusi membenarkan bahwa Nurhidayat Haji Harris memang tidak menjaga pola makan.
Namun, bukan itu saja yang membuat mantan bek PSM Makassar tersebut dicoret dari Timnas Indonesia. Ada faktor lain yang membuat bek 22 tahun itu ditendang dari skuad Timnas Indonesia.
“Kita sudah menyiapkan dokter psikologis untuk membina karakter para pemain. Tapi, kita tak bisa mengungkap secara pasti tindakan yang dilakukan Nurhidayat, karena kita harus menjaga psikologis-nya. Bukan hanya itu saja (tak menjaga pola makan), ada hal lain yang membuatnya dicoret,” kata Yunus Nusi saat hadir di program Special Dialogue hasil kerja sama Okezone dan Sportstars.id.
Aktivitas Nurhidayat Haji Harris di luar lapangan kerap menjadi sorotan netizen. Ia tak segan memamerkan gaya pacaran mewahnya dengan sang kekasih.
(Nurhidayat Haji Haris bersama sang kekasih)
Ketika merayakan hari jadi pacaran yang keenam bulan, Nurhidayat Haji Harris tak segan memberikan sang kekasih mobil mewah! Karena itu, harapannya, aktivitas di luar lapangan tidak menganggu performa si pemain di dalam arena.
Bahkan karena alasan banyak pemain yang terjangkit star syndrome inilah, pelatih Shin Tae-yong lebih tertarik memanggil pemain-pemain muda. Ambil contoh ketika Timnas Indonesia U-19 yang dipersiapkan turun di Piala Dunia U-20 2021 menjalani pemusatan Latihan di Kroasia.
(Pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong. (Foto: PSSI)
Shin Tae-yong lebih mudah menerapkan strategi keinginannya karena para pemain yang ditangani lebih mudah diatur. Alhasil, hanya dalam kurun enam bulan, performa David Maulana dan kawan-kawan meningkat pesat, termasuk mengalahkan Qatar 2-1 dan menghajar Hajduk Split 4-0.
“Shin Tae-yong dan tim lebih asyik menangani pemain-pemain yang dibawa TC ke Kroasia. Sebab, para pemain belum terlalu mengenal dunia hiburan, popularitas, sehingga mereka lebih mudah untuk ditangani. Tak heran dalam jangka enam bulan, stamina, fisik dan kebugaran mereka sudah terbentuk,” kata Yunus Nusi.
Dalam kasus ini, bukan hanya federasi yang mesti menjaga para pemain dari masalah star syndrome. Klub-klub juga harus mengambil peran supaya hal-hal ini seperti ini tidak terus-menerus terjadi, dan membuat kualitas sepakbola Indonesia tak kunjung terangkat.
(Ramdani Bur)