SETELAH Michael Owen merebut trofi Ballon dOr 2001, Inggris tak pernah lagi mengeluarkan sang pemain merebut gelar berbentuk bola emas tersebut. Setelah itu, pencapaian terbaik wakil-wakil asal Inggris hanyalah finis di posisi dua perebutan trofi Ballon dOr.
Momen itu terjadi pada 2005 setelah Frank Lampard menduduki posisi dua klasemen akhir peraih trofi Ballon dOr. Saat itu, Lampard yang mengoleksi 148 angka kalah dari pesepakbola asal Brasil yang tengah membela Barcelona, Ronaldinho Gaucho (225).
Setelah kesuksesan Lampard, tak ada lagi pesepakbola asal Inggris yang mampu menembus posisi tiga besar atau nominator peraih trofi Ballon dOr. Karena itu, para pesepakbola asal Inggris saat ini, setidaknya wajib mengikuti performa yang ditunjukkan Super-Lamps –julukan Lampard– di musim 2004-2005.
Pada 2004-2005 atau musim pertama Chelsea ditangani Jose Mourinho, Lampard tampil luar biasa. Berperan sebagai gelandang tengah dalam pola 4-3-1-2 racikan Mourinho, Lampard tampil trengginas.
Tercatat dari 58 pertandingan di semua kompetisi, Lampard mengoleksi 19 gol dan 20 assist! Berkat gol dan assist yang diciptakan Lampard, Chelsea pun meraih prestasi luar biasa.
The Blues –julukan Chelsea– dibawa Lampard meraih trofi Liga Inggris dan Piala Liga Inggris. Bahkan di Liga Champions, Chelsea pun tampil luar biasa. Langkah Chelsea dihentikan Liverpool di semifinal setelah kalah agregat 0-1.
Bahkan, gol tunggal Liverpool yang dicetak LuisGarcia masih menjadi perdebatan hingga kini. Mourinho hingga kini tidak menganggap tendangan Luis Garcia sudah melewati garis gawang Chelsea yang dikawal Petr Cech.
Padahal, jika saat itu Chelsea menang atas Liverpool dan menundukkan AC Milan di partai puncak Liga Champions, peluang Lampard meraih trofi Ballon dOr terbuka lebar. Meski begitu, kesuksesan Lampard menembus posisi dua besar pada penganugerahan Ballon dOr 2005 tetaplah luar biasa.
(Ramdani Bur)