DALAM meniti karier, semua orang tak bisa memastikan apakah langkahnya akan berjalan mulus atau justru sebaliknya. Beberapa orang bahkan harus menelan pil pahit. Hal ini bisa terjadi meski dalam DNA-nya telah mengalir darah yang sesuai dengan bidang yang tengah ditekuninya. Nasib yang kurang baik itu pun turut dirasakan oleh adik pesepakbola asal Brasil, Ricardo Kaka.
Sang adik yang bernama lengkap Rodrigo Manuel Izecson dos Santos memutuskan untuk meniti karier yang sama dengan sang kakak, yakni menjadi pesepakbola. Tetapi, perjalanan karier Digao –panggilan akrab Rodrigo Manuel Izecson dos Santos– nyatanya tak berjalan semulus Kaka. Digao terus menelan pil pahit sehingga akhirnya memutuskan untuk gantung sepatu lebih dini dari Kaka.
Karier Kaka dapat melambung tinggi setelah dirinya tampil gemilang bersama Sao Paulo FC. Dari sana, Kaka mendapat kesempatan untuk mengepakkan sayapnya ke kancah internasional dengan bergabung ke AC Milan, Real Madrid, dan akhirnya mengakhiri karier di Orlando City.
(Baca juga: Intip Aksi Kaka yang Buat Messi Kerepotan pada 2006)
Selama perjalanan kariernya, Kaka pun berhasil merengkuh berbagai gelar juara. Bersama Milan, Kaka mengantarkan klub meraih gelar juara di Liga Italia pada musim 2003-2004, Super Copa Italiana 2004, Liga Champions 2007, Piala Super UEFA 2007, dan Piala Dunia Antarklub 2007.
Kemudian saat memperkuat Madrid, ia membawa tim keluar sebagai kampiun di Liga Spanyol 2011-2012 dan Copa Del Rey 2010-2011. Terakhir bersama Tim Nasional (Timnas) Brasil, Kaka dapat mempersembahkan trofi Piala Dunia 2002 serta Piala Konfederasi pada musim 2005 dan 2009.
Tak hanya berhasil meraih trofi bersama klub, Kaka juga meraih berbagai prestasi secara individu. Ia memenangkan Ballon d'Or pada 2007, Pemain Terbaik FIFA pada 2007, Pemain Asing Terbaik Liga Italia pada 2004, 2006, 2007, Pemain Terbaik Liga Italia pada 2004 dan 2007, Top Assist Liga Champions pada musim 2004-2005 dan 2011-2012, Golden Ball Piala Konfederasi FIFA 2009, dan masih banyak lagi.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan sang adik yang harus tertatih-tatih selama berkarier di sepakbola. Wajah Digao sendiri sebenarnya telah mewarnai beberapa klub papan atas dunia, salah satunya AC Milan. Sayangnya, di sana Digao tak mampu menorehkan karier cemerlang. Ia bahkan tak pernah meraih trofi bersama klub.
Digao dianggap sebagai salah satu pemain yang paling menyedihkan di Liga Italia. Selama kariernya, Digao hanya bermain di 38 pertandingan tanpa mencetak satu pun gol. Melihat kondisi ini, ia akhirnya menyerah dan memutuskan pensiun di usianya yang baru 32 tahun.
(Fetra Hariandja)