Banyak yang tidak menyangka jabatan Kemenpora akan jatuh kepada Roy Suryo. Figur yang mulanya dikenal luas publik karena sering dimintai komentar-nya terkait persoalan teknologi, dan foto yang kontroversial itu kini diserahi tiga tugas utama oleh Presiden SBY.
Konsolidasi di Kemenpora pasca kasus Hambalang, meningkatkan prestasi terutama di SEA Games, dan menyelesaikan kisruh PSSI. Karena bidang yang biasa dikulik-kulik Roy Suryo, sebelum menjabat Kemenpora, juga akrab dengan penulis, saya tergelitik untuk menyampaikan pendapat dan harapan kepada Roy Suryo terutama terkait penyelesaian konflik di sepakbola.
Sepakbola dan IT
Banyak yang skeptis ketika Roy Suryo terpilih sebagai Menpora, begitu juga saya. Latar belakangnya di Informasi dan Teknologi (IT), tapi dipilih menjadi Menteri yang mengurusi Pemuda dan Olahraga. What?
Memang tahun-tahun belakangan ini beberapa keputusan Presiden sering menimbulkan tanda tanya di masyarakat. Meskipun demikian saya mencoba mencari titik singgung dunia IT dengan bidang olahraga yang mengusung kata 'respect dan sportifitas'.
Dan, ternyata optimisme saya kembali tumbuh, ketika saya menemukan hal positif di dunia IT dan layak diterapkan di Olahraga. Yaitu, `Berpikir Logic`, khususnya untuk persoalan sepakbola negeri ini.
PSSI vs KPSI
Perseteruan antara PSSI dan KPSI sudah berlangsung beberapa tahun ini. Efek dari perseteruan ini sangat merugikan kepentingan bangsa, terlihat jelas dalam pembentukan Timnas saat perhelatan Piala AFF 2012 kemarin.
Media turut berperan dalam pergolakan ini. Ada yang menyebut PSSI Ancol --PSSI La Nyala-- dan ada yang menyebut PSSI Solo --PSSI Djohar--.Penulis sendiri memilih tidak mau diperdaya 'permainan kata' oleh media, cukup PSSI dan KPSI. Beberapa kali penulis menemukan pemberitaan tidak berimbang di media resmi, bahkan dalam netizen masyarakat pendukung masing-masing kubu juga saling berbalasan opini tentang ini.
Identifikasi
Baiknya kita memulai Identifikasi. Penulis menyarankan agar Bapak Menpora memulai analisa dari protes masyarakat terhadap Nurdin Halid dan Nugraha Besoes. Kemudian munculnya nama Arifin Panigoro dan Djohar Arifin. selanjutnya, Data krusial yang perlu diamati adalah Audit PT. Liga Indonesia dan munculnya Liga Primer. Tidak lupa juga untuk mengamati faktor pembentuk KPSI di Ancol dan ada apa dengan KLB di Solo dan Bali? Jika Analisa identifikasi ini lengkap kemudian Bapak akan menemukan efek kisruh sampai saat tulisan ini dibuat.
Dari Praktisi IT untuk Pakar Telematika.
Saya percaya latar belakang di dunia IT masih mempunyai pengaruh di pola pikir Roy Suryo hingga saat ini. Berpikir Logic tidak hanya tentang true dan false, tapi juga tentang alasan, argumentasi.Pernyataan tentang 'menyatukan atau meniadakan keduanya' menurut penulis tidak `logic`.hal yang tidak `logic` menurut penulis ada pada item 2 yaitu 'meniadakan keduanya;.
Jika diambil kasus yang sama pada dunia IT dengan membuat persamaan bahwa Institusi / Organisasi sebagai Operating System (OS), langsung memutuskan install ulang Operating System jika terjadi error kurang bijak dan sangat instan. Ada baiknya running di state Safe Mode atau Single Mode untuk identifikasi dan kemudian memperbaiki dengan beberapa opsi perbaikan.
Ada juga opsi perbaikan/ganti komponen jika ternyata hardware yang rusak, install ulang tidak selalu menyelesaikan masalah pada kasus ini. Saya juga mengenal Bapak Menpora sebagai kolektor/penggemar Gadget ada juga metode `rooting` yang kadang diperlukan untuk OS Android, saya yakin Bapak Menpora mengerti hal ini.
Kembali pada pernyataan menyatukan atau meniadakan kedua Institusi, Penulis berpendapat bahwa opsi pertama untuk keduanya perlu running pada state `Safe Mode` yaitu kembali berpatokan pada kaidah/aturan/statuta institusi dan hukum.
Semisalnya, Liga Indonesia adalah PT, serahkan pada Hukum yang berlaku jika pemilik yang sah dan tercatat menghendaki Audit dan perbaikan. Hal ini akan menyelamatkan klub-klub ISL yang merupakan aset dan kebanggaan daerah dan bangsa ini. Keterbukaan informasi seperti ini juga bisa Roy Suryo terapkan di semua organisasi yang mengepalai bidang olahraga di negeri ini. Kalau bisa begitu, bukan tak mungkin gelar bapak reformasi olahraga akan tersemat dalam sosok Roy Suryo.
Metadata
Dahulu, beberapa kasus yang melibatkan Roy Suryo sebagai pakar telematika sering terdengar jargon `metadata`. Permasalahan pada olahraga Sepakbola juga bisa menggunakan metode yang sama yaitu dengan menggunakan metadata. Metadata yang penulis maksud adalah atribut yang melekat pada masing masing individu yang terlibat dalam kisruh ini.
Hanya dengan sedikit googling Bapak akan menemukan `metadata` Djohar arifin, La nyala Matalitti, PSSI, KPSI, Djoko Driyono, dll. Dalam kapasitas Roy Suryo sebagai Menteri, tentu akan sangat mudah menemukan metadata ini dari berbagai sumber.
Jika secara jujur Bapak dapat menyebut analisa metadata dalam kasus foto porno, saya berharap Bapak juga dapat jujur menganalisa metadata dalam kasus kisruh sepakbola Negeri ini dan mengambil tindakan yang `logic` untuk permasalahan ini, Bukan dengan jalan format ulang -mental instan-.
Penulis: Onal - penggemar sepakbola dan praktisi IT
(Fitra Iskandar)
Bola Okezone menyajikan berita sepak bola terkini, akurat, dan terpercaya dari dalam negeri maupun internasional. Dukung jurnalisme berkualitas dengan tetap mengikuti update tercepat kami setiap hari.