MALANG - Pelatih Antonic Dejan gagal menghiasi debutnya di Arema FC dengan kemenangan. Menjamu Persiba Bantul di Stadion Gajayana, Minggu (5/2) Arema justru menelan kekalahan tipis 0-1. kekalahan itu juga diwarnai dengan kejutan-kejutan yang disajikan Dejan.
Diwarnai mundurnya kapten Noh Alam Shah dua hari sebelum pertandingan, Dejan terkesan melakukan eksperimen dalam menentukan format tim. Mengusung formasi standar 4-4-2, ada sejumlah kejanggalan di lapangan. Misalnya posisi Muhammad Ridhuan yang digeser sebagai full back kanan.
Esteban Guillen yang biasa diplot sebagai gelandang sekaligus playmaker, disulap menjadi centre back. Perubahan ini tampaknya membawa pengaruh besar pada soliditas pertahanan Singo Edan. Di sana juga ada Irfan Raditya dan Hermawan yang sebelumnya bahkan tak pernah turun sebagai starter.
Sepanjang babak pertama, Arema yang mendominasi pertandingan hanya mampu menciptakan kesempatan melalui Esteban Guillen, Roman Chmelo, dan Jaya Teguh Angga. Tapi permainan impresif kiper Persiba Wahyu Tri Nugroho membuat peluang Arema mentah di depan gawang.
Di babak kedua tak jauh beda. Arema yang lebih menekan dan memegang kendali permainan, masih miskin kreatifitas. Lini tengah yang digalang Hendro Siswanto, Legimin Raharjo, Amiruddin maupun TA Musafri, gagal menyokong duet Roman Chmelo dan Jaya Teguh Angga.
Justru tuan rumah harus menelan petaka di menit 59. Melalui serangan balik cepat, pertahanan Arema tak mampu menghentikan Ezequiel Gonzales. Tanpa kawalan berarti, striker asal Argentina ini melepaskan tendangan kaki kiri yang tak mampu dibendung kiper Arema Kurnia Meiga.
Gol ini sebagai ganjaran atas eksperimen Dejan menurunkan pemain bertahan bukan pada tempatnya. Padahal jika mau, masih ada centre back yang lebih mumpuni dibanding Esteban Guillen, seperti Tommy Jaelani dan Leonard Tupamahu. Secara umum, permainan Arema juga sangat membosankan.
Perlu diingat pula, dalam beberapa musim terakhir Singo Edan sama sekali tidak pernah memainkan pola standar 4-4-2. Sehingga tampak jelas bagaimana canggungnya pemain saat harus menyerang melalui sayap dan umpan silang. Dua striker di depan juga terlihat hanya berlarian karena kalah duel bola udara.
Sedangkan bagi Persiba, hasil ini semakin mengukuhkan predikat 'pembunuh raksasa'. Sebab pekan sebelumnya Wahyu Wijiastanto dkk juga mengalahkan tim besar Jawa Timur Persebaya Surabaya di Gelora 10 November, Tambaksari. Lini pertahanan tim asuhan M Basri pantas mendapat kredit tersendiri.
Sektor ini sangat disiplin menjaga pergerakan pemain-pemain Arema. Baik serangan sayap maupun serangan melalui lapangan tengah yang dibangun tuan rumah, semuanya seperti membentur tembok. Kokohnya benteng pertahanan disempurnakan permainan bagus kiper Wahyu Tri Nugroho.
Justru sebenarnya serangan balik Persiba yang lebih membahayakan dibanding peluang yang dimiliki tuan rumah. Arema masih bisa dibilang beruntung karena hanya kemasukan sebiji gol, karena di babak kedua ada setidaknya tiga peluang hasil serangan balik yang tak mampu dimanfaatkan anak-anak Persiba.
(Fitra Iskandar)
Bola Okezone menyajikan berita sepak bola terkini, akurat, dan terpercaya dari dalam negeri maupun internasional. Dukung jurnalisme berkualitas dengan tetap mengikuti update tercepat kami setiap hari.