SOLO - Arema FC berhasil mewujudkan targetnya mencuri angka dari tuan rumah Persija Jakarta. Melalui pertandingan yang diwarnai saling kejar skor, tim yang baru menuntaskan konflik ini berhasil menahan imbang Persija 3-3 (2-1) di Stadion Manahan, Solo.
Dilihat dari lokasi pertandingan yang netral, hasil imbang sebenarnya rugi bagi Arema yang sebelumnya menuai hasil maksimal. Namun mengingat pelatih Arema Abdulrahman Gurning hanya memakai satu pemain asing, yakni Esteban Guillen, maka hasil ini sudah cukup bagus.
Arema juga tampil tidak dalam kondisi sempurna secara psikis menyusul adanya prahara di tubuh manajemen yang berimbas ke tim. Selain itu Gusning dihadapkan pada pilihan sulit karena harus meninggalkan sejumlah pemain pilar di tribun, seperti Noh Alam Shah, Roman Chmelo dan Muhammad Ridhuan.
Gurning sendiri melakukan perombakan di sejumlah posisi dibanding saat ditangani pelatih Milomir Seslija. Sejumlah wajah anyar yang menempati line up antara lain Jaya Teguh Angga, Fariz bagus Dinata, hingga Habibi. Perubahan ini terlihat beperngaruh terhadap permainan Singo Edan.
Arema unggul lebih dulu melalui gol bunuh diri pemain Persija Chairul Irvan menit 9 yang membelokkan bola ke gawang sendiri. Dua gol Emmanuel De Porras di akhir babak pertama membuat Persija berbalik unggul hingga jeda pertandingan. Di babak kedua, Persija memperbesar keunggulan melalui Indra Bayauw menit 68.
Sampai di sini, Persija terlihat bakal mengamankan tiga angka. Namun Arema tak gampang menyerah dan menceploskan dua gol dalam tempo tiga menit yakni menit 77 melalui TA Musafri dan menit 80 via Sunarto. Pelatih Arema Abdulrahman Gurning mengatakan hasil itu masih bisa diterima.
“Kami bermain tidak begitu bagus dan sering kehilangan konsentrasi. Tapi anak-anak terus berjuang dan tidak mau menyerah. Saya mengapresiasi upaya mereka, sekaligus dukungan Aremania di Stadion Manahan. Saya senang kita bisa bangkit di babak kedua,” tutur Gurning.
Diakui mantan pelatih PSPS Pekanbaru ini, timnya kurang begitu optimal dalam organisasi di lapangan. Sering terjadi salah pengertian dan konsentrasi yang tidak stabil, terutama di penghujung babak kedua hingga lahirnya dwi gol lewat De Porras.
Sebelumnya Gurning juga tak terlalu menargetkan hasil terlalu muluk karena memahami kondisi di tim yang sempat diliputi prahara. Ia pun mensyukuri hasil di Manahan dan berjanji bakal membenahi tim Arema ke depannya.
Sebaliknya, kekecewaan menggelayuti kubu Persija Jakarta. Sempat unggul 3-1 hingga menit 77, mereka harus kemasukan dua gol dengan cara sepele. Bahkan jika tidak dibantu wasit yang menganulir gol Amirrudin, tim oranye bisa saja menelan kekalahan.
Pelatih persija Jaya Hartono berujar, timnya sudah keburu merasa menang saat dalam kondisi unggul 3-1 sehingga tidak waspada menghadapi kebangkitan Arema. “Saya kecewa karena pemain tak bisa menjaga keunggulan. Tapi memang perjuangan pemain Arema sangat bagus,” ujar Jaya.
Penyelesaian akhir juga dikeluhkan mantan arsitek Persik Kediri ini, karena pemain depannya berulang kali mendapat kesempatan bagus. Padahal dari sisi kualitas permainan maupun penguasaan bola, ia menilai timnya lebih unggul dibanding Arema.
(Rejdo Prahananda)
Bola Okezone menyajikan berita sepak bola terkini, akurat, dan terpercaya dari dalam negeri maupun internasional. Dukung jurnalisme berkualitas dengan tetap mengikuti update tercepat kami setiap hari.