Kontrak Darko Terlalu Fantastis

Kamis, 19 Agustus 2010 01:09 wib
Foto: Daniel Darko Janackovic / Koran Sindo
Foto: Daniel Darko Janackovic / Koran Sindo
BANDUNG - Nilai kontrak pelatih Persib Bandung Daniel Darko Janackovic untuk satu musim terbilang tidak masuk akal. Bahkan, nilai kontrak pelatih berdarah Prancis-Yugoslavia tersebut terbilang terlalu fantastis untuk ukuran pelatih yang belum jelas track record-nya. Darko bahkan menjadi pelatih termahal di Liga Super Indonesia (LSI) saat ini.

Selain curriculum vitae-nya yang tidak jelas, kiprah dirinya selama hampir dua pekan melatih pun jauh dari kata memuaskan. Betapa tidak, dua pemain asing yang dibawanya justru dikembalikan ke negaranya masing-masing. Eugenio Klein, pemain asal Argentina dipulangkan karena tidak bisa beradaptasi. Jardelson Lopes De Oliveira justru dipulangkan sebelum latihan karena salah catatan soal pemain asal Brasil tersebut.

Pernyataan Direktur Utama PT Persib Bandung Bermartabat (PT PBB) Umuh Muchtar memang mencengangkan banyak pihak. Dengan kiprahnya yang belum bisa dibuktikan, Darko minta kontrak Rp1,4 miliar. Dengan nilai ini, kontrak Darko yang baru berkarier di tanah air melebihi banyak pelatih terkenal di Indonesia.

Misalnya saja, pelatih lokal Rahmad “RD” Darmawan yang musim lalu menangani Sriwijaya FC dikabarkan dikontrak dengan nilai Rp1,5 miliar untuk dua musim. Musim 2010/2011 ini, RD akan menangani Persija Jakarta. Kabarnya, kontrak pelatih spesialis Piala Indonesia ini sekitar Rp1 miliar.

Bandingkan dengan kontrak Robert Rene Alberts, yang sebelumnya mau berlabuh di Maung Bandung. Musim lalu, pelatih Arema Indonesia ini dikontrak hanya Rp750 juta ketika awal datang ke Indonesia. Kini, dengan prestasi membawa Singo Edan menjadi juara, PSM Makassar pun dikabarkan membayar Rp1,2 miliar bagi pelatih asal Belanda tersebut.

Umuh sendiri mengakui nilai kontrak Darko tidak masuk akal untuk pelatih asing yang baru datang ke tanah air. Dia menyatakan, berkaca pada pengalaman sebelumnya, juga tim-tim lain, nilai logis bagi arsitek asing yang baru berlabuh ke tanah air diprediksinya tidak lebih dari Rp900 juta untuk satu musim.

“Baru setelah dia berprestasi, bisa naik lebih dari Rp1 miliar,” ungkap Umuh, Rabu (18/8/2010).

Parahnya, nilai kontrak Darko tersebut belum termasuk fasilitas lain-lain seperti tempat tinggal maupun transportasi. Belum lagi ditambah dengan nilai kontrak bagi asisten bawaannya Jovo Cuckovic dan penerjemahnya. Diperkirakan, nilai kontrak Darko dan dua rekannya tersebut bisa mencapai Rp2,5 miliar.

“Bagi saya orang manajemen Persib, hal ini tentu sangat tidak masuk akal dan sangat memboroskan anggaran. Meski dananya dari sponsor dan konsorsium, tapi kan tetap harus dipertimbangkan matang-matang,” jelasnya.

Namun, pria yang juga manajer Persib ini mengaku, dirinya sampai saat ini belum menandatangani kontrak apapun. Termasuk kontrak pengangkatan Darko sebagai pelatih kepala, asistennya termasuk kepada semua pemain. Sehingga, dia menilai semuanya masih bisa berubah.

“Masih kita kaji dulu. Kita juga kan punya perencanaan anggaran beli pemain dan pelatih yang tidak jauh berbeda dengan musim lalu,” ujarnya. (Raka Zaipul/Koran SI/far)
  • jangar_khan » 0 Tanggapan
    persib banyak ini duitnya.. ga pake APBD lagi.. ko pada repot.. lanjutkan..
    Beri Tanggapan Laporkan
  • ARNOLD » 0 Tanggapan
    Kami juga Tidak Butuh PSSI yang cacat Aturan?Hukum Ketidak hadiran/ keterlambatan pemain-pemain PAPUA bukan karena malas ikut seleksi Timnas tetapi PSSI yang tolol atau Catat aturan, tidak jelas aturan di PSSI lalu mau menyalahkam pemain itu sama saja PSSI menghukum pemain, kalau mau berjalan dengan baik sepak bolah tanah air benahi dulu aturan-aturan di PSSI, Setelah tadi saya baca Top Skor tanggal 19/08/2010 di halaman 16/belakan. Saya sebagai putra Papua sangat terpukul sekali dengan adanya tulisan di Top Skor yang di ungkapkan oleh pelatih Timnas senior Alfred Riedl ?Berkata? ?Kita tidak Butuh Pemain Malas? contohnya pemain-pemain papua yang selalu terlambat di era Beni Dolo ?BENDOL? selalu terlambat pada saat di panggil oleh Menurut saya Pemain-pemain papua bukan terlamabat tetapi ketidak jelasan aturan PSSI,selama ini ada tujuh kasus aneh yang sampai saat ini PSSI belum mampu mengatasinya.Maka itu buat apa mau gabung ke Timnas sama saja itu bunuh diri lebih aman di Club. Kasus Boas Salosa pada saat membela Timnas Indonesia mengalami pata kaki yamg jadi korban bukan Timnas melaikan Club. Kekecewaan para pemain Persipura saat melawan Sriwijawa FC itu sampai saat ini masih terpukul di hati masyarakat papua dan para pemain sampai saat ini juga, maka itu saya rasa ketidak hadiran pemain Persipura atau keterlambatan pemain papua ke Timnas karena masik kecewa terhadap aturan PSSI yang tidak jelas. Ini adalah balasan atas pengungkapan Pelatih Timnas Senior ?Kami Tidak Butuh Pemain Malas?
    Beri Tanggapan Laporkan
  • aryandi » 0 Tanggapan
    @sangkur PERSIB sudah tidak memakai dana APBD.....!!
    Beri Tanggapan Laporkan
  • ayip » 0 Tanggapan
    klub indonesia banyak yang keblinger dengan embel-2 pelatih asing, ada yang bagus gak diambil. dasar kemaruk
    Beri Tanggapan Laporkan
  • Jozz » 0 Tanggapan
    Hahaha ... Sangkur team pertama yang lepas dari APBD siapa bung, komentar anda nggak relevan dan tendensius
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.
TWITTER »
twit