SEKRETARIS Jenderal (Sekjen) PSSI, Yunus Nusi, menyiapkan terobosan demi perbaikan prestasi Tim Nasional (Timnas) Indonesia ke depan. Pria asal Gorontalo itu paham, Timnas Indonesia jago di kelompok umur seperti U-16 dan U-19.
Namun, ketika naik ke tim senior, performa pemain kita cenderung menurun sehingga kesulitan bersaing dengan negara-negara lain. Ambil contoh Timnas Indonesia U-19 angkatan Evan Dimas.

(Timnas Indonesia U-19 era Evan Dimas)
Pada 2013, Timnas Indonesia U-19 menjadi juara Piala AFF U-19 2013 setelah di final menang adu penalti atas Vietnam. Saat itu selain Evan Dimas, Timnas Indonesia U-19 diperkuat Hansamu Yama Pranata, Ilham Udin, Muchlis Hadi Ning dan banyak lagi.
Akan tetapi, tak ada prestasi yang dihadirkan nama-nama di atas ketika naik pangkat ke tim senior. Hal itu berbeda dengan Vietnam. Kita lihat daftar pemain senior Vietnam saat ini, ada sejumlah pemain yang saat itu dikalahkan Evan Dimas di level U-19.
Sebut saja Nguyen Pong Hong Duy, Nguyen Cong Phuong, Pham Duc Huy dan Luong Xuan Truong. Ketika turun di Piala AFF U-19 2013, Timnas Vietnam U-19 tampil luar biasa.
Vietnam U-19 keluar sebagai kampiun fase grup setelah menyudahi lima pertandingan dengan kemenangan, termasuk mengalahkan tuan rumah Indonesia yang dimotori Evan Dimas dengan skor 2-1.

(Nguyen Cong Phuong, pemain andalan Vietnam angkatan Evan Dimas)
Saat itu, Pham Duc Huy mencetak gol penyama kedudukan untuk Vietnam, sebelum akhirnya Nguyen Van Toan mencetak gol kemenangan. Kemudian di semifinal, Vietnam menang 1-0 atas Laos lewat gol yang dicetak Nguyen Cong Phoung, pemain andalan Timnas senior Golden Stars saat ini.
BACA JUGA: 5 Pemain Keturunan Ini Perkuat Timnas Indonesia vs Taiwan di Playoff Kualifikasi Piala Asia 2023?
Akan tetapi, kedigdayaan Vietnam dihentikan Indonesia di partai puncak. Setelah bermain 1-1 hingga 120 menit pertandingan, Vietnam akhirnya takluk 6-7 via adu penalti.
Setelah kekalahan itu, federasi sepakbola Vietnam berbenah, terutama di kelompok umur. Pembenahan yang mereka buat pun tak sia-sia. Vietnam lolos ke Piala Dunia U-20 2017 setelah menembus semifinal Piala Asia U-19 2016.
Kemudian di level U-23, prestasi lebih moncer mereka capai di sepanjang 2018. Pada Piala Asia U-23-2018, mereka menembus partai puncak, sebelum akhirnya kalah dari Uzbekistan. Selanjutnya di Asian Games 2018, Vietnam lolos hingga semifinal.

(Skuad Timnas Vietnam di SEA Games 2019)
Tak sampai di situ, Vietnam juga keluar sebagai juara Piala AFF 2018 dan merebut medali emas SEA Games 2019. Terbaru, Vietnam menjadi satu-satunya negara AsiaTenggara yang lolos ke babak ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2022 zona Asia.
Lantas, apa penyebab pemain-pemain kita layu sebelum berkembang? Yunus Nusi tidak membantah kalau pemain kita terkena star syndrome, yang mana kondisi para pemain langsung besar kepala ketika namanya mulai terangkat. Karena itu, PSSI menyiapkan psikolog saat pemain-pemain menjalani pemusatan Latihan di Timnas Indonesia, demi membentuk karakter dan mental pemain.
“Kita sudah menyiapkan dokter psikologis untuk membina karakter pemain,” kata Yunus Nusi saat hadir di program Special Dialogue, hasil kolaborasi Okezone dan Sportstars.id.
Lantas, bagaimana cara PSSI untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dari Vietnam? Bagaimana cara PSSI supaya Timnas Indonesia tak hanya jago di level junior, namun juga mumpuni di kategori senior?
“Kami sudah analisis, tim nasional kita kuat di level junior, U-16 dan U-19. Ketika masuk ke senior, Evan Dimas ketinggalan dari seangkatannya yang mereka kalahkan di level U-19. Karena itu, banyak hal yang memang harus kita evaluasi. Direktur Teknik sudah menyampaikan sejumlah rekomendasi kepada kita dan mulai kita jalankan,” ujar Yunus Nusi.

(Egy Maulana Vikri, salah satu pemain Indonesia yang meniti karier di Eropa)
“Salah satu cara supaya pemain kita tetap oke di level senior, PSSI akan membantu pemain-pemain supaya bermain di luar negeri. Dengan bermain di luar negeri, akan terbentuk cara makan dan tidurnya. Jika mereka masih di sini, sehebat apa pun kita dijaga, tetap mereka akan sulit dijaga secara profesional,” lanjut mantan anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI tersebut.
“Klub-klub kami minta untuk dilepas ke klub-klub Eropa, jika mendapatkan penawaran. Di sana kedisplinan pemain akan terbentuk, mulai dari pola makan dan pola tidur. Nantinya, kedisplinan mereka akan tertata secara sendirinya setelah melihat teman-temannya di Eropa,” ujar Yunus Nusi.
Sejauh ini ada banyak pemain muda yang berkiprah di Eropa. Sebut saja Egy Maulana Vikri (Lechia Gdansk, Polandia), Witan Sulaeman (Radnik Surdulica, Serbia), David Maulana dan Brylian Aldama (HNK Rijeka, Kroasia) dan Bagus Kahfi (FC Utrecht, Belanda).
Berhubung PSSI sudah menyiapkan program, diprediksi bakal banyak pemain-pemain Tanah Air yang meniti karier di luar negeri, khususnya Eropa. Harapannya, ini merupakan salah satu cara tepat untuk mengembangkan persepakbolaan Indonesia, selain menggalakkan pengembangan sepakbola usia dini di Tanah Air.
(Mochamad Rezhatama Herdanu)
Bola Okezone menyajikan berita sepak bola terkini, akurat, dan terpercaya dari dalam negeri maupun internasional. Dukung jurnalisme berkualitas dengan tetap mengikuti update tercepat kami setiap hari.