Riset: Komentator Sepakbola Berbahasa Inggris Bias Rasial

Rachmat Fahzry, Jurnalis · Selasa 30 Juni 2020 19:41 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 06 30 51 2239063 riset-komentator-sepakbola-berbahasa-inggris-bias-rasial-3Jqtt6lyEL.jpg Skuad Liverpool berlutut saat latihan bentuk dukungan gerakan Black Lives Matter. (Foto/Liverpool FC)

KOPENHAGEN - Komentator televisi berbahasa Inggris lebih banyak memuji pemain dengan kulit yang lebih terang sebagai pemain yang lebih cerdas dan pekerja keras, dibanding pemain yang memiliki kulit gelap. Hal ini merupakan hasil riset dari sebuah perusahaan asal Denmark, RunRepeat, yang bekerja sama dengan Professional Footballers 'Association (PFA).

Studi menganalisis 2.073 pernyataan komentator berbahasa Inggris dari 80 pertandingan sejak musim 2019-20 di Liga Italia, Liga Prancis, La Liga Spanyol dan Liga Inggris. Sebanyak 643 pemain dari berbagai ras dan warna kulit juga dibahas.

Baca juga: Burnley Dibuat Malu dengan Spanduk White Lives Matter

Foto/Burnley

Analisis mengungkapkan bahwa para pemain dengan warna kulit yang lebih gelap secara signifikan disebut pemain yang mempunyai fisik atau kemampuan atletik dengan keterampilan cepat dan kuat.

Hasi riset juga menyebutkan Sekitar 62 persen pujian ditujukan untuk pemain dengan kulit lebih terang, sementara 63,33 persen kritik ditujukan pada mereka yang berkulit lebih gelap.

"Untuk mengatasi dampak nyata dari rasisme struktural, kita harus mengakui dan mengatasi bias rasial. Studi ini menunjukkan bias yang jelas bagaimana kita menggambarkan atribut pemain berdasarkan warna kulit mereka," kata Eksekutif Ofqual Equalities, Jason Lee mengutip Reuters, Selasa (30/6/2020).

"Komentator membantu membentuk persepsi dari setiap pemain, memperdalam bias rasial yang sudah dirasa penonton. Sangat penting untuk mempertimbangkan seberapa jauh persepsi itu dapat terjadi dan bagaimana mereka berdampak pada pemain bahkan setelah mereka pensiun,” lanjutnya.

Penelitian dilakukan di tengah protes di seluruh dunia terhadap ketidakadilan rasial setelah kematian George Floyd. Ia merupakan seorang pria kulit hitam yang meninggal karena lehernya diinjak dengan lutut oleh polisi di kota Minneapolis AS pada 25 Mei.

Kematiannya memicu gerakan antirasial, Black Lives Matter di seluruh dunia. Liga Inggris salah satunya. Operator liga mewajibkan seluruh pemain melakukan aksi berlutut untuk mendukung Black Lives Matter dan nama pemain di jersey klub diganti slogan Black Lives Matter.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini