nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengelola Klub & Membangun Kultur

Kukuh Setiawan, Jurnalis · Senin 22 Desember 2014 00:10 WIB
https: img.okeinfo.net content 2014 12 21 49 1082242 mengelola-klub-membangun-kultur-azjNhKjSiz.jpg Mengelola klub sepakbola & membangun kultur (Foto: Ilustrasi Shutterstock)

MALANG – "Hal terpenting dalam sepak bola bukan hanya membangun timnya, tapi bagaimana dukungan elemen di sekitarnya." Secarik ungkapan dari mendiang Gandi Yogatama, tokoh sepak bola Malang sekaligus mantan manajer yang saat itu masih bernama Arema Malang.

Siapa sangka kalimat tersebut masih berlaku dan seharusnya menjadi inspirasi hingga saat ini. Sebenarnya Pak Gandi menerjemahkan kalimatnya dengan cukup sederhana. Manajemen klub akan lebih bersemangat membangun tim jika ada totalias dari supporternya.

Lebih dari itu, kalimat di atas bisa ditafsirkan jauh lebih luas di era sekarang ini. Ketika tim-tim sepak bola tumbuh subur di berbagai kota, tapi tidak jelas konsep dan prestasinya. Sebagai contoh dari Jawa Timur.

Musim 2015 nanti, akan ada 19 klub profesional di provinsi tersebut, dengan rincian lima klub Indonesia Super League (ISL) dan 14 klub Divisi Utama. Melihat jumlah itu, secara matematis Jawa Timur akan merajai sepak bola Nasional.

Sayang kalkulasi matematis tak berlaku. Klub Jawa Timur yang eksis di kompetisi level tertinggi Tanah Air tetap itu-itu saja. Kota yang gairah sepak bolanya stabil juga itu-itu saja. Kenapa bisa demikian? Ada teori menyebutkan bahwa hal tersebut terjadi terkait erat dengan kultur.

Kota yang dihuni klub ISL musim depan, sangat mewakili teori kali ini. Lima tim datang dari kota dengan kultur sepak bola yang sudah atau setidaknya pernah terbangun, yakni Malang, Surabaya, Gresik, Lamongan, dan Kediri.

Kultur yang dimaksud di sini adalah elemen-elemen pendukung eksistensi klub di luar manajemen. Bentuknya bisa beragam, mulai supporter, antusiasme publik, kemampuan ekonomi daerah, hingga infrastruktur.

Di luar lima kota di atas, Jawa Timur belum memiliki kultur yang memadai. Ada sejumlah kota yang sebenarnya punya antusiasme dan pernah mencicipi level tertinggi, tapi tak didukung aspek lainnya. Jadinya mereka hanya sekadar lewat.

Bisa diambil contoh Persekabpas Pasuruan, Deltras Sidoarjo, Persema Malang, atau Persibo Bojonegoro. Gairah mereka tergantung prestasi tim atau angin-anginan. Tak heran jika akhirnya mereka berakhir menjadi tim amatir.

Membangun kultur sepak bola pun tidak cukup dua-tiga tahun. Membaca pengalaman yang ada, klub harus stabil di level teratas dalam rentang satu dekade. Kurang dari itu, kemapanan atmosfir sepak bola masih rentan.

Buka sejarah Persik Kediri, Persegres Gresik United, serta Persebaya Surabaya. Ketika tren bermain di level atas terputus, mereka sangat sulit mengembalikan kultur yang sudah terbangun sebelumnya. Semua harus dimulai dari awal.

Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah klub-klub Divisi Utama. Musim lalu, dari 14 klub Jawa Timur yang bermain di kompetisi level dua, sama sekali tidak ada yang promosi ke ISL. Di sini semakin yakin teori soal kultur sepak bola sangat berlaku.

Kontestan Divisi Utama mayoritas datang dari kota kecil. Tidak ada satu pun klub yang memenuhi semua elemen sebagai prasyarat terciptanya kultur yang sehat. Selalu saja ada persoalan, jika bukan karena seretnya pendanaan, mungkin supporter yang kurang bersemangat.

Musim kemarin di pertandingan Persenga Nganjuk di Stadion Anjuk Ladang dan Madiun Putra di Stadion Wilis. Penonton cukup ramai dan stadion nyaris penuh. Tapi tak ada atmosfer seperti di Malang atau Lamongan.

Sedangkan di Nganjuk dan Madiun, juga beberapa kota lainnya pun serupa, klub belum benar-benar menjadi identitas daerah. Istilah modernnya 'brand image' klub sama sekali belum ada. Belum ada chemistry antara klub dengan supporter dan elemen lainnya.

Para fans yang hadir yang menonton didominasi penikmat bola, bukan supporter. Kalau pun mereka berteriak-teriak mendukung tim dari kotanya, itu wajar karena unsur kedaerahan. Tapi hanya sebatas itu saja, tak ada ikatan yang lebih dalam.

Aspek lain adalah kekuatan ekonomi. Semakin banyak klub, harus diakui mempersempit gerak manajemen dalam menggalang sponsor. Kota kecil yang tak memiliki perusahaan memadai sudah pasti bakal kerepotan.

Tapi juga bukan berarti daerah industri juga dengan mudah dijadikan kota sepak bola. Comot saja Mojokerto dan Sidoarjo sebagai kota industri. Mojokerto Putra dan Deltras Sidoarjo sama sulitnya dalam mencari investor.

Menyadari situasi itu, klub Divisi Utama tampaknya perlu berpikir konsep yang spesifik jika memang harapan ke ISL tipis. Mau dipakai apa klub yang ada. Paling tidak eksistensi mereka di kompetisi bisa bermanfaat dan tak hanya numpang lewat.

Kembali ke ungkapan almarhum Gandi, memang pengelolaan sepak bola tidak sesimpel yang dibayangkan. Tidak cukup menyediakan duit untuk membeli pemain. Lebih penting, bagaimana makna keberadaan klub tersebut.

(fmh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini