Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Les Elephants, Raja Afrika Tanpa Mahkota

Randy Wirayudha , Jurnalis-Selasa, 10 Juni 2014 |06:16 WIB
<i>Les Elephants</i>, Raja Afrika Tanpa Mahkota
Gnegneri Yaya Toure (kiri) (Foto: ist)
A
A
A

FRISCO – Sarat pemain bintang dan acap difavoritkan, tapi tak jua menyandang mahkota juara. Jika di Eropa ada Belanda yang kerap disebut raja tanpa mahkota, di Afrika ada Pantai Gading yang memiliki skuad penuh bintang tapi minim prestasi gelar.
 
Selama lebih dari dua dekade, Les Éléphants tak pernah mampu merengkuh sebiji pun gelar. Trofi terakhir yang mereka kecap terjadi 1992 lalu di ajang Piala Afrika. Untuk ukuran kompetisi di benua hitam saja sulit, apalagi Piala Dunia yang tak lama lagi kembali mereka ikuti di Brasil.
 
Padahal tim yang kini ditukangi Sabri Lamouchi itu punya segudang pemain-pemain bertalenta top yang malang-melintang di berbagai kompetisi Eropa – sebut saja Didier Drogba, Gervinho, Salomon Kalou sampai Yaya Touré yang merupakan para jebolan akademi ASEC Mimosas.
 
“Kami punya skuad yang luar biasa dan kami berpikir sudah waktunya untuk mencapai potensi penuh kami. (Beragam kegagalan) jadi pertanyaan yang ingin didapat jawabannya oleh semua orang di Pantai Gading,” ujar Touré.
 
“Kadang Anda butuh sesuatu yang lebih dari 11 pemain bagus jika Anda ingin memenangkan trofi terbesar. Anda harus punya karakter atau keberuntungan,” lanjutnya, sebagaimana disadur TheNational, Selasa (10/6/2014).
 
Ya, keberuntungan tak jarang jadi faktor ‘X’ yang vital, tapi tak begitu saja bisa didapati. Ada ungkapan, “Fortune Favors the Bold” – keberuntungan memihak mereka yang berani. Sayangnya ungkapan ini seolah tak manjur buat Pantai Gading yang acap tampil berani dan percaya diri di berbagai turnamen.
 
“Ketika Anda melihat generasi pemain yang kami punya, tim kami terlihat fantastis. Anda tak sering melihat satu tim seperti yang kami miliki sekarang. Kami punya banyak pemain top yang berkarier di semua klub top dunia,” imbuh Touré.
 
“Ketika saya melihat Drogba, Kalou, Gervinho (Didier) Zokora dan Wilfried Bony, perasaan saya hanya bisa dipenuhi kepercayaan diri. Tapi soal mengapa kami tak mampu memenangkan satupun trofi, merupakan hal yang tak bisa saya mengerti,” sambungnya.
 
Terlepas dari minimnya prestasi, setidaknya Touré bisa bersyukur di mana dia dan rekan-rekannya yang merantau di Eropa, bisa memberi sedikitnya kebahagiaan untuk rakyat di negaranya yang sempat didera konflik dan perang saudara, dengan apa yang mereka raih bersama klubnya masing-masing.
 
“Sepakbola punya peran besar dalam kehidupan rakyat (Pantai Gading). Kami berkata pada mereka, ‘nikmati cara kami bermain, jangan pikirkan perang’. Tujuannya selalu untuk membuat orang-orang di Pantai Gading bahagia,” papar adik kandung Kolo Touré itu.
 
“Ketika kondisi di negara kami sedang buruk dan kehidupan mereka tengah berat, kami hanya ingin memberi mereka kebahagiaan dengan sepakbola. Karena Anda menyadari betapa pentingnya sepakbola buat mereka, Anda pasti berhasrat besar untuk bermain dengan sangat baik,” tuntasnya.

(Randy Wirayudha)

Bola Okezone menyajikan berita sepak bola terkini, akurat, dan terpercaya dari dalam negeri maupun internasional. Dukung jurnalisme berkualitas dengan tetap mengikuti update tercepat kami setiap hari.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita bola lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement