Soal Pemanggilan Timnas, Pemain Pegang Kendali

Kukuh Setiawan, Jurnalis · Kamis 01 November 2012 01:03 WIB
https: img.okezone.com content 2012 10 31 51 711919 Al5zv2t1Oe.jpg Selebrasi gol Bambang Pamungkas di Piala AFF 2010 (Foto: Okezone)

MALANG - Keputusan bergabungnya striker senior Bambang Pemungkas ke Tim Nasional (Timnas) arahan Nil Maizar disebut sebagai perkembangan baru bagi persepakbolaan nasional. Perkembangan yang mengarah pada perbaikan kondisi sepakbola yang tak menentu pada tahun-tahun terakhir.

Sejumlah pihak mengatakan sudah saatnya pemain yang memegang kendali dan tidak hanya mengikuti nafsu para penguasa. Sebab sebenarnya kendali sepakbola nasional ada pada pemain sepenuhnya. Ketika pemain mengambil sikap, maka tidak ada yang bisa membendungnya.

Itu diungkapkan mantan pelatih asal Malang, Gusnul Yakin. Mantan pelatih Arema FC, Persik Kediri, serta Persibo Bojonegoro ini mengatakan pemain berhak dan bebas berlaga untuk bangsa jika kualitasnya memang dibutuhkan. Pilihan yang diambil Bambang menurutnya sebagai gambaran bahwa pemain sudah frustrasi.

“Mereka sudah frustrasi dan jengah dengan situasi sepakbola sekarang ini. Itu jelas sangat terlihat. Menurut saya pemain mempunyai pengaruh paling besar terhadap sepakbola sekarang. Jika pemain serempak bersikap, maka sebenarnya para penguasa tak bisa berbuat apa-apa,” tutur Gusnul.

Hanya saja, belakangan pemain menjadi 'alat' bagi penguasa yang mengaku lebih sah menangani sepakbola. Pemain menjadi ajang mencari pengaruh dari dua kompetisi, yakni Indonesian Premier League (IPL) dan Indonesia Super League (ISL), hingga terciptanya dua timnas.

Bergabungnya Bambang ke timnas Nil Maizar diharapkan menjadi awal pupusnya persoalan dualisme timnas selama ini. Timnas, menurut pelatih yang musim lalu sempat menangani PSIS Semarang ini, sudah waktunya memikirkan persatuan tanpa memandang dari kompetisi mana pemain berasal.

“Kalau sudah ada pemain bergabung ke timnas, jangan lagi bicara lagi dari klub mana. Semua harus menghormati pemain sebagai wakil yang bertarung untuk bangsa. Kalau masih ada yang mempersoalkan keterlibatan seorang pemain di timnas karena perbedaan kompetisi, persoalan ini tak ada ujungnya,” lanjut Gusnul.

Pendapat yang sama diutarakan pemain yang baru saja pensiun dari timnas, Bima Sakti. Pemain senior ini mengatakan tidak seorang pun berhak melarang atau mengeluhkan keputusan Bambang Pamungkas. Bergabung timnas merupakan hak setiap pemain yang dipanggil untuk membela negara.

“Saya yakin semua mendukung langkah Bambang untuk bergabung dengan timnas. Saya tak pernah meragukan dedikasinya untuk tanah air jika melihat sepak terjangnya selama ini. Bambang telah memilih, bahwa kepentingan bangsa semestinya memang menjadi nomor satu,” kata pemain yang pernah menjadi langganan timnas ini.

Bima mengakui, ada perasaan tidak nyaman sekaligus gelisah melihat sepakbola nasional tak henti dirundung sengketa. Terutama dengan perpecahan kompetisi hingga dualisme PSSI, sebagai pemain dirinya merasa ada kemunduran begitu jauh dibanding dengan era sebelumnya.

“Semua pemain tentu tidak akan senang dengan kondisi ini. Jadi langkah yang ditempuh pemain seperti Bambang Pamungkas bisa menjadi titik awal memperbaiki situasi. Minimal kita sudah memulai bahwa tidak ada batas untuk pemain yang bergabung timnas,” ujar kapten tim Persema Malang tersebut.

Hasil di Piala AFF 2012 nanti, bukan lagi menjadi pembahasan terpenting karena faktanya perbaikan sepakbola tanah air lebih menjadi prioritas. Jika memang nanti bisa berprestasi membanggakan di Piala AFF, maka itu bisa menjadi bonus bagi perjuangan pemain yang ingin memperbaiki sepakbola Indonesia.

(acf)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini