LPI Bebaskan Pilihan Klub

Kukuh Setiawan, Jurnalis · Rabu 10 Agustus 2011 01:38 WIB
https: img.okezone.com content 2011 08 10 49 490163 X2sZcM00vv.jpg

SURABAYA - Setelah Liga Primer Indonesia (LPI) resmi tak akan berlanjut, Konsorsium LPI rencananya bakal membebaskan klub peserta liga. Artinya, setiap klub diberi kebebasan untuk memilih, tetap bersama LPI atau memisahkan diri.

Klub peserta LPI sendiri sejatinya sudah menjalin kerjasama dengan konsorsium selama lima tahun. Dalam masa itu, klub mendapatkan subsidi yang nominalnya bervariasi tiap klub dan diharapkan klub bisa mandiri dalam jangka waktu tersebut.

Komisaris Persebaya 1927 Saleh Ismail Mukadar mengungkapkan, LPI tidak memberikan paksaan kepada klub pesertanya untuk terus melanjutkan kerjasama. Jika klub yang bersangkutan merasa mandiri dan bisa lepas dari LPI, maka diperbolehkan untuk lepas.

“LPI tidak manganggap subsidi selama ini sebagai hutang. Klub tidak mempunyai tanggungan apa-apa jika lepas dari konsorsium. Kebijakan ini diambil karena kompetisi ke depannya otomatis akan diikuti klub profesional yang harus mandiri,” tutur Saleh.

Anggota DPRD Jawa Timur ini membantah jika dana yang diberikan ke klub adalah hutangan dan harus dibayar. Saleh menegaskan Konsorsium LPI tidak akan mengambil untung dari bola, terutama LPI yang hanya berlangsung satu putaran.

“Tidak ada hutang yang harus dibayar,” tegasnya. Bagaimana Persebaya 1927 sendiri? Saleh mengaku masih akan merundingkan dengan segenap manajemen Persebaya 1927. Ia hanya menyatakan tetap gabung atau tidak dengan LPI sebenarnya sama saja.

Maksudnya, semua klub nantinya tetap akan mandiri tanpa bantuan siapa pun. Demikian pula jika memilih tetap bersama LPI, maka beberapa tahun ke depan tetap bakal dilepas dan harus menutupi kebutuhannya sendiri. Persebaya 1927 sendiri masih berhitung perkiraan pemasukan yang bisa diperoleh.

Saleh mengaku tak khawatir jika harus lepas dari LPI karena ia melihat klubnya mempunyai potensi besar untuk mandiri. “Kita mempunyai supporter dalam jumlah besar. Di Surabaya juga banyak perusahaan besar. Saya sangat yakin Persebaya 1927 bisa mandiri dalam waktu singkat,” tandasnya.

Lantas, bagaimana dengan Persema Malang? Walaupun sama-sama berkuasa di klasemen LPI, kondisi Persema jauh berbeda dengan domain supporter yang jauh lebih kecil. Dalam satu pertandingan kandang, maksimal Laskar Ken Arok ditonton 5000 kepala. Jumlah itu malah sudah istimewa.

Klub pemilik Stadion Gajayana juga masih bingung menentukan sikap. Hitung-hitungan pendapatan, sulit bagi Persema untuk mendapat pemasukan tinggi dengan jumlah penonton sedemikian kecil. Apalagi Persema tak lagi disuntik APBD yang sebelumnya mencapai Rp18 miliar per musim.

“Butuh pemikiran untuk memutuskan itu. Persema tentunya sudah harus lepas dari APBD musim depan dan masih butuh persiapan untuk benar-benar mandiri. Kita akan lihat dulu bagaimana kemampuan tim terkait finansial,” kata CEO Persema Didiet Poernawan.

(fit)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini