Persebaya 1927 Lebih Tangguh

Kukuh Setiawan, Jurnalis · Sabtu 23 Juli 2011 18:41 WIB
https: img.okezone.com content 2011 07 23 49 483441

SURABAYA - Setelah mengawali turnamen Battle of The Fantastic Four dengan hasil mengecewakan, Persebaya 1927 akhirnya meraih happy ending. Di pertandingan hari terakhir kemarin sore di Gelora 10 November, Persebaya 1927 memulangkan Persema Malang dengan skor 1-0 (0-0).

 

Melihat permainan secara keseluruhan, tampilan tuan rumah mengalami penurunan dibanding saat merontokkan Persibo 3-0 di laga sebelumnya. Demikian juga Persema yang justru solid di awal turnamen, seperti kehabisan bensin.

 

I Made Wirahadi menjadi solusi kebuntuan Bajul Ijo di tengah sulitnya menembus pertahanan Persema yang digalang Suroso. Tandukan pemain yang hanya mencetak satu gol sepanjang turnamen ini menaklukkan alotnya kiper Sukasto Efendi.

 

Dengan hasil ini, juara turnamen Battle of The Fantastic Four bakal ditentukan di laga terakhir antara Bali Devata kontra Persibo Bojonegoro yang bermain malam. Persebaya 1927 mempunyai poin sama dengan Persema (6 poin), namun tuan rumah masih lebih unggul defisit gol.

 

Erol Iba dkk memasukkan empat gol dan kebobolan sekali, sedangkan Persema melesakkan tiga gol dan juga kemasukan sekali. Dengan demikian juara masih menunggu hasil pertandingan Bali Devata yang masih berlangsung saat berita ini diturunkan.

 

Asisten Pelatih Persebaya Ibnu Grahan mengatakan permainan timnya tidak begitu gereget karena lawan lebih berkualitas. Persema dianggapnya lebih tangguh dibanding Persibo Bojonegoro yang dihadapi sebelumnya. Ditambah tekanan suporter yang ingin timnya menang.

 

“Pemain kelihatan terburu-buru setiap ada kesempatan. Tampaknya mereka sedikit terbebani harus menang, apalagi lawannya adalah Persema yang cukup solid,” kata Ibnu Grahan. Ia juga menunjuk kehadiran tokoh PSSI di Gelora 10 November menjadi beban tersendiri untuk tampil bagus.

 

Namun secara umum, kemenangan satu gol menurutnya sudah cukup, mengingat pemain ada yang mulai kelelahan setelah bertanding tiga kali dalam lima hari. “Sekarang pemain bisa istirahat. Juara atau tidak bukan persoalan, yang jelas kami telah memberikan semangat terbaik,” imbuh Ibnu.

 

Di kubu seberang, Pelatih Timo Scheunemann menyoroti konsentrasi timnya yang sudah kendor. Konsentrasi itu menurutnya dipengaruhi kondisi fisik yang menurun drastis dibanding pertandingan pertama dan kedua yang mampu dimenangkan.

 

Selepas laga ia mengungkapkan, “Babak pertama kedua tim tampil tanpa tenaga. Itu karena pemain sudah drop dan konsentrasi sudah jauh menurun. Secara umum saya tidak kecewa karena pemain sudah menunjukkan perjuangan di lapangan walau berada dalam tekanan suporter tuan rumah.” ujarnya.

 

Sebelumnya ia sudah mengatakan pertandingan ini menjadi ujian mental bagi pemainnya karena bertanding di depan suporter lawan. Perkataan Timo ternyata benar, ribuan Bonekmania yang hadir di Tambaksari menjadi lawan di luar lapangan.

 

“Anda lihat saya menurunkan pemain muda. Itu berarti saya tidak memikirkan bagaimana hasil akhir pertandingan. Saya ingin semua pemain mendapatkan kesempatan bermain dan merasakan atmosfir di Tambaksari,” cetusnya. Ungkapan Timo terbukti dengan dimainkannya pemain belia macam Nehemia, Laban dan Kevin yang masih tercatat tim U-18 Persema.

 

Sementara, laga antara Persebaya 1927 kontra Persema Malang juga dihadiri Wakil Ketua Umum PSSI Farid Rahman, tokoh LPI Arifin Panigoro, serta sejumlah tokok sepakbola di Jawa Timur seperti Saleh Ismail Mukadar dan Ketua Umum Persik Kediri Samsul Ashar.

(fit)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini