Badai Kongres Telah Berlalu

Rejdo Prahananda, Jurnalis · Senin 11 Juli 2011 12:55 WIB
https: img.okezone.com content 2011 07 11 262 478360 YLvbx0kiBL.jpg Foto: Achmad Firdaus (Okezone)

PUBLIK sepakbola Indonesia akhirnya mengucap syukur seraya bernafas lega. Terpilihanya Kepengurusan baru PSSI di bawah kepimpinan, Djohar Arifin Husein, akhirnya menyudahi perseteruan yang terjadi di dalam tubuh PSSI. Lembaran baru perjalanan induk olahraga yang berdiri pada 1930 ini menandai era reformasi PSSI.

Lima bulan sudah, terhitung sejak Februari 2011 silam pecinta sepakbola Indonesia was-was menanti hasil final Kongres PSSI yang tidak kunjung menghasilkan keputusan.

Polemik yang terus bergulir bak bola salju tidak pelak menyedot perhatian Federasi sepakbola dunia (FIFA). Institusi tertinggi sepakbola pimpinan Sepp Blatter itu pun mengultimatum akan secepatnya menjatuhkan sanksi kepada Indonesia jika dalam batasan waktu yang telah ditentukan PSSI tidak memiliki ketum baru.

Jika menarik akar masalahnya, bisa dibilang sangat sederhana. Bermula dari dilarangnya dua bakal calon George Toisutta dan Arifin Panigoro maju dalam Kongres Pemilihan pascaruntuhnya rezim Nurdin Halid sesuai instruksi FIFA, menjadi inti utama perseturuan di tubuh PSSI.

Tahapan demi tahapan yang melelahkan dan menguras emosi menjadi momen sulit bagi publik sepakbola di Tanah Air. Sebagai bangsa beradab, kita begitu miris menyaksikan jalannya dua Kongres yang jauh dari kata sportivitas untuk menentukan siapa pemegang kekuasaan suatu induk organisasi olahraga.

Kita mungkin tidak pernah lupa bagaimana konflik kepentingan berbalut intrik politik mewarnai jalannya kongres yang berlangsung di Jakarta, pada 20 Mei 2011 lalu. Begitu besarnya kehendak yang dipaksakan dari Kelompok Mayoritas Pemilik Suara membuat mereka seakan melupakan kepentingan utama, yaitu memajukan sepakbola Indonesia agar berkibar di pentas dunia.

Bayang-bayang sanksi FIFA berubah menjadi terror psikis bagai seluruh elemen sepakbola di Indonesia. Beruntung, FIFA –otoritas tertinggi dalam sepakbola masih memberikan segudang kata maaf bagi Indonesia untuk menyelesaikan masalah internalnya dengan bimbingan Komite Normalisasi.

Ketua KN, Agum Gumelar yang ditunjuk FIFA sebagai Ketua Pelaksana Harian PSSI laksana oase ditengah konflik di tubuh PSSI. Agum beserta anggota KN memiliki komitmen tinggi untuk mengembalikan PSSI ke jalur yang benar.

Kendati dihujani kritik dan  arogansi mayoritas pemilik suara PSSI, Agum beserta jajarannya tetap tegar mengajak kelompok mayoritas pemilik suara mengikuti arahan FIFA. Gayung bersambut, kelompok mayoritas suara melunak dan mengikuti titah FIFA.

Dalam Kongres pamungkas di Solo, Sabtu (9/7/2011) lalu, doa seluruh bangsa pun terkabul. Kongres bergulir sesuai harapan. Tidak ada lagi hujan interupsi seperti terjadi dalam dua kongres sebelumnya. Kongres berjalan lancar tanpa hambatan. Semua peserta mematuhi tata tertib dalam kongres. Tidak ada lagi konflik kepentingan.

Undangan  yang datang ke The Sunan Hotel sepakat, melambungkan tim Merah Putih ke pentas Dunia melalui proses pemilihan ketua umum sesuai statuta agar terhidar dari hukuman berat FIFA.

Memang, dibutuhkan kedewasaan dan kelegowo-an dalam berbagai aspek kehidupan. Mudah dikatakan namun sulit diterapkan. Tapi bukan berarti dua hal tersebut tidak bisa diupayakan. Dari rangakain Kongres yang menyita perhatian ini, setidaknya kita belajar bagaimana mengimplementasikan dua kata tersebut demi kepentingan yang lebih besar.

Selesai kongres, bukan berarti kepengurusan PSSI yang baru tidak mengemban tugas berat. Masih ada sejumlah pekerjaan rumah yang menumpuk. Djohar setidaknya memiliki tiga pekerjaan besar yang sangat mendasar.

Bagaimana nasib Liga Primer Indonesia? Apakah liga gagasan Arifin Panigoro itu masuk dalam piramida kompetisi PSSI? Bagaimana pula Djohar mensiasati kompetisi di Indonesia tanpa dana APBD, menuju sepakbola industri? Yang tidak kalah penting, langkah apa yang diambilnya untuk mengembangkan pembinaan pemain usia dini? Dan apa program terdekatnya jelang SEA Games mendatang?

Segudang pertanyaan tersebut memang masih menjadi teka-teki, tapi kita patut menggantungkan asa selangit Djohar bisa mengambil keputusan tepat. Sekali lagi, demi kemajuan dan reformasi sepakbola Indonesia dengan iklim prestasi. Tapi satu yang pasti, badai kongres telah berlalu.

(msy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini