"PSSI Baru Harus Bersih dari Nepotisme"

Huyogo Simbolon, Jurnalis · Minggu 10 Juli 2011 15:45 WIB
https: img.okezone.com content 2011 07 10 51 478090 S8C6YR2sY9.JPG

BANDUNG - Terpilihnya Ketua Umum PSSI Periode 2011-2015 Djohar Arifin Husin membuat kalangan pecinta sepakbola menaruh harapan. Aktris yang juga pegiat sepakbola Wawan Hanura mengaku terpilihnya Djohar sudah tepat. Hanya saja, Djohar dan pengurus lainnya harus memberantas nepotisme, yang belakangan dituding sebagai buruknya kinerja PSSI era Nurdin Halid.

“Mengurusi organisasi sepakbola sama dengan mengurus rakyat sendiri. Filosofinya tetap berpedoman pada apa yang terjadi di lapangan. Yang terjadi di lapangan sama dengan filosofi kehidupan. Sosok Djohar saya pikir memahami apa maksud saya tersebut,” tutur Wawan, Minggu (10/7/2011).

Djohar merupakan seseorang yang bergelar profesor, mantan pengurus PSSI Sumatera Utara serta Sekjen Komite Olah Raga Nasional Indonesia (KONI). Berdasarkan jejak rekam pria kelahiran Langkat, 60 tahun silam, Wawan optimistis akan ada perubahan di organisasi sepakbola tertinggi di negeri ini.

“Jangan ada nepotisme seperti pengurus sebelumnya. Kalau tidak direcoki orang kiri dan kanan, saya optimistis akan ada perubahan. Sekarang ini, dibutuhkan pemimpin yang menghargai semua kelompok dan kepentingan,” kata lelaki terkenal melalui grup Padyangan Project ini.

Adanya rumor yang belakangan berhembus bila Kongres Luar Biasa (Kongreslub) PSSI di Solo, 9 Juli kemarin tidak lepas dari pengaruh politis. “Kalau bicara pengurus yang sebelumnya, itu ada di lingkaran kepentingan. Mudah-mudahan dengan orang baru sekarang ini tidak ada istilah nitip-nitip. Menurut saya, pengurus yang baru adalah yang terbaik dari yang ada, bukan terbaik di antara yang baik,” seloroh lelaki yang pernah bermain di film Kejar Jakarta.

Mantan Sekretaris Panitia Pelaksana (Panpel) Perisb Bandung juga menyambut baik jika Kongreslub berjalan lancar setelah semua pengurus yang hadir  duduk satu meja. Namun, urusan warna politik yang diduga kuat hadir dalam Kongreslub, kata Wawan, sudah melebihi kepentingan partai politik.

“Kalau sekarang masih ada yang menggoyang kelompok ini atau itu adalah wajar. Tapi bukankah sudah waktunya untuk memberikan dukungan pada pengurus baru sampai akhir masa kepengurusannya,” cetusnya.

Salah satu hal yang tersirat dari ekspektasi terhadap Djohar ialah bagaimana program pemain tim nasional. “Yang dikedepankan apa? Saat ini memang ada program naturalisasi. Tapi itu sudah cukup, jangan lagi mengabaikan pembinaan. Jangan ketagihan dengan naturalisasi,” jelasnya.

Menurutnya, timnas sudah saatnya untuk tidak direcoki kepentingan yang masuk dalam organisasi PSSI. “Saat ini tinggal programnya jangan direcoki oleh salah satu kepentingan. Kita akan terjebak dengan hal itu-itu lagi dan tidak membawa prestasi bagi timnas. Tunjukan kalau pengurus sekarang memang ingin serius,” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, Djohar terpilih setelah mengantongi 61 suara, mengalahkan Agusman Effendi yang hanya mengatongi 38 suara pada pemilihan putaran kedua Kongreslub PSSI di Solo. Besarnya dukungan terhadap Djohar tidak terlepas dari dukungan yang diberikan kelompok 78. Kelompok tersebut sebelumnya mendukung pasangan Arifin Panigoro dan George Toisutta.

(far)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini