nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Selangor FA, Bukan Penyamun dari Selat Malaka

Arpan Rachman, Jurnalis · Selasa 16 Maret 2010 14:10 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2010 03 16 50 313009 xvl1o2io1k.jpg Foto: AFC.com

PALEMBANG - Selat Malaka konon masih digalaki kaum perompak. Banyak kapal dagang dari mancanegara pernah disamun di sana. Penjelajahan Okezone meringkas kenyataan lain.

Klub sepakbola asal Negeri Jiran di Semenanjung Malaka, Selangor Football Association (SFA), mungkin tidak berlayar muhibah ke Palembang diiringi para penyamun. Sebab, bila ketahuan merompak, mereka pasti dikenakan sanksi deportasi.

Melainkan, SFA hendak mementaskan adegan laga di lapangan hijau dengan calon lawannya, Sriwijaya Football Club (SFC), di atas panggung Grup F AFC Cup di Stadion Gelora Sriwijaya, Jakabaring, Palembang, Selasa (16/3/2010). Sejauh mana peta kekuatan tim itu, hingga ancaman peluang mencuri angka jadi target absolut yang diumbar pelatih SFA, K Devan?

Diketahui, SFA baru selesai bertanding pada kompetisi domestik, Jumat pekan lalu. Awal pekan ini, skuad berisi para pemimpin klasemen sementara Liga Super Malaysia didatangkan ke Kota Pempek berjumlah 18 pemain. Rekor terakhir, dari sepuluh laga liganya, SFA mencetak 27 gol berbanding kebobolan tujuh gol.

Absennya gelandang yang teridap cedera, Fadrin Kadil, diyakini coach K Devan tak terlalu berpengaruh negatif terhadap performa timnya. SFA masih menyimpan empat ikon vitalitas di sentral lingkaran dan garis serang.

Pertama, nomor punggung 17, Mohd Amri Yahyah. Pengatur serangan berusia matang, 29 tahun, yang sembilan tahun terakhir menempati posisi regulernya plus sumbangan 41 gol. Jabatan prestisius tak-resminya sebagai jenderal-lapangan-tengah dan jabatan legal-formalnya kapten kesebelasan. Si Jenderal-Kapten ikut mengangkat cawan Treble-Winner (Liga Super, FA, dan Malaysia Cup) pada 2005. Tampil pada 15 pertandingan internasional Malaysia, dia tendang lima gol.

Kedua-ketiga, Safee Mohd Sali dan Lieuw Kit Kong, diibaratkan mata-panah kembar yang tajam berdesing menghunjam ke jaring gawang. Mohd Sali membukukan 20 gol bersama Kuala Lumpur FA pada 2003, 10 gol selama berkostum SFA, dan 18 gol untuk timnas Malaysia. Sedang Kit Kong merekor 16 gol bersama Perak FA pada 2004 serta 17 gol bagi Kuala Muda Naza pada 2007 dan empat gol dalam 13 caps timnas Malaysia.

Keempat, si nomor sembilan: Rudie Ramlee. Sempat berilmu di klub Jerman SV Wehen, tahun 2000 silam. Sembilan musim kompetisi di Tanah Melayu, 33 gol telah dicetaknya. Hanya semusim terakhir, selebrasi menyarangkan si kulit bundar tak pernah lagi dijogetkan dia.

Skuad SFA tentu berdendang Semalam di Malaysia, “...aku pulang dari rantau mencuri poin di Palembang,” kalau boleh. Teruk apa berjaya (kalah atau menang), itulah pilihannya, sore nanti di Jakabaring.

Satu peta dengan skala pemain 11:11 mengenai kuat-lemah-luang-ancam dari SFA terhadap SFC, terdiri satu kata mutiara, “Di laut, penyamun jaya”. Tapi kaum rompak laksana nakhoda tak ternama di pinggiran Sungai Musi. Orang Samun tak pernah bisa menang tanding di tepi kali, barangkali juga bukan kali ini, maka lain kali saja untuk, “...kawan dulu yang sama berjuaaang.”

(msy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini