Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Indonesia Hilang di Peta Sepakbola Asteng

Arpan Rachman , Jurnalis-Minggu, 28 Desember 2008 |00:02 WIB
Indonesia Hilang di Peta Sepakbola Asteng
A
A
A

KESUKSESAN Timnas Vietnam menjuarai Piala AFF 2008, Minggu (28/12/2008), di Stadion My Dinh, Hanoi, jadi sebuah sejarah baru. Vietnam mutlak ditasbihkan sebagai kekuatan ketiga mengikuti jejak Thailand dan Singapura yang telah lebih dulu merajai lambang supremasi tertinggi antarnegara dalam peta persepakbolaan di kawasan Asia Tenggara.

Indonesia sendiri terhenti di semifinal lantaran dua kali kekalahan dari tim Gajah Putih. Pasukan Benny 'Bendol' Dollo hanya dibekali pemusatan latihan pendek yang mepet jelang bergulirnya turnamen. Sebagian besar materi Timnas Merah Putih juga merupakan muka-muka lama yang hampir delapan tahun terakhir menghuni skuad inti.

Adakah saatnya Komisi Teknik Timnas bekerja lebih jeli memantau perkembangan bakat-bakat baru yang beredar di orbit Liga Indonesia? Apalagi berhembus pula kabar tak sedap yang berulang ketika para pemain harus berkumpul lagi menghadapi ajang Pra-kualifikasi Piala Asia, beberapa nama tenar terlambat bergabung.

Soal keterlambatan pemain datang memenuhi tugas negara bukan isapan jempol dan sudah seringkali terjadi. Sampai di manakah batas toleransi diberikan untuk mereka? Tidakkah lebih baik bila pelatih menyiapkan daftar nama pemain cadangan untuk segera menggantikan tempat pemain yang terlambat?

Di sisi lain, pelatih yang ditunjuk PSSI kerap beralasan pelatnas pendek tak memungkinkan timnas tampil maksimal dalam ajang apapun. Bendol sendiri mencontohkan timnas Piala Asia 2007 diberi waktu latihan bersama selama satu bulan. Berapa lamakah waktu ideal timnas berlatih sampai dipandang cukup siap tampil mumpuni dengan cara yang tidak memalukan?

Mencari kambing hitam untuk dijadikan korban kesalahan adalah hal yang paling mudah dilakukan siapa saja. Lebih sukar mencari Indonesia yang hilang dalam peta sepakbola di Asia Tenggara setidaknya dalam sepuluh tahun terakhir.

Bagaimana membentuk skuad timnas dengan permainan menyerang yang garang merupakan pekerjaan rumah seluruh pelatih dan pemain di ajang kompetisi domestik yang dihelat PSSI. PR itupun perlu dukungan segenap insan yang (masih) mencintai sepakbola Indonesia.

Satu kutipan dari Bukhard Pape, pelatih asal Jerman yang lama berkubang membangun struktur fisik dan teknik pesepakbola muda di Ragunan era â€~80an mungkin perlu diingat. Bunyinya kira-kira, 'Kalau ditanya, cocok bermain dengan pola apa pemain-pemain Indonesia, ya dengan pola Indonesia sendiri, bukan meniru Eropa atau Amerika Latin. Kalau ingin melihat bagaimana pola itu dimainkan, datanglah ke Ragunan."

Sayangnya, Ragunan yang dulu dibanggakan Pape sudah nyaris padam sebagai suluh pembinaan bagi pesepakbola muda Tanah Air. Barangkali perlu dibangun lagi seratus Ragunan lain di penjuru Nusantara untuk mengasah sebelas bintang yang menyinari langit harapan di atas lapangan hijau demi membela kejayaan negeri berpulau-pulau ini.

(Fetra Hariandja)

Bola Okezone menyajikan berita sepak bola terkini, akurat, dan terpercaya dari dalam negeri maupun internasional. Dukung jurnalisme berkualitas dengan tetap mengikuti update tercepat kami setiap hari.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita bola lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement