<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Simon Tahamata Bandingkan Pembinaan Usia Dini di Belanda dengan Indonesia</title><description>Simon Tahamata buka suara soal bedanya pembinaan usia dini di Belanda dengan Indonesia.&#13;
</description><link>https://bola.okezone.com/read/2025/11/09/51/3182224/simon-tahamata-bandingkan-pembinaan-usia-dini-di-belanda-dengan-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://bola.okezone.com/read/2025/11/09/51/3182224/simon-tahamata-bandingkan-pembinaan-usia-dini-di-belanda-dengan-indonesia"/><item><title>Simon Tahamata Bandingkan Pembinaan Usia Dini di Belanda dengan Indonesia</title><link>https://bola.okezone.com/read/2025/11/09/51/3182224/simon-tahamata-bandingkan-pembinaan-usia-dini-di-belanda-dengan-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://bola.okezone.com/read/2025/11/09/51/3182224/simon-tahamata-bandingkan-pembinaan-usia-dini-di-belanda-dengan-indonesia</guid><pubDate>Minggu 09 November 2025 00:10 WIB</pubDate><dc:creator>Cikal Bintang</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2025/11/08/51/3182224/simon_tahamata_buka_suara_soal_bedanya_pembinaan_usia_dini_di_belanda_dengan_indonesia-BOlf_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Simon Tahamata buka suara soal bedanya pembinaan usia dini di Belanda dengan Indonesia (Foto: Instagram/@simon_tahamata_)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2025/11/08/51/3182224/simon_tahamata_buka_suara_soal_bedanya_pembinaan_usia_dini_di_belanda_dengan_indonesia-BOlf_large.jpg</image><title>Simon Tahamata buka suara soal bedanya pembinaan usia dini di Belanda dengan Indonesia (Foto: Instagram/@simon_tahamata_)</title></images><description>KEPALA pemandu bakat PSSI, Simon Tahamata, buka suara soal bedanya pembinaan usia dini di Belanda dengan Indonesia. Hal itu wajib jadi catatan untuk pengembangan sepakbola di Tanah Air.&#13;
&#13;
Sebagaimana diketahui, Simon dipercaya PSSI untuk mencari bakat-bakat terbaik untuk Timnas Indonesia sejak 26 Mei 2025. Ia bertugas memantau bibit-bibit terbaik di seantero negeri.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
1. Mulai Kurang Dini&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Om Simon mengatakan, rentang usia pembinaan usia muda di Indonesia memang berbeda dengan Belanda dan negara-negara Eropa berdasarkan temuannya. Jadi, teknik dasarnya terkadang masih kurang berkualitas.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;quot;Ya, di Belanda sejak usia 8 tahun, sudah ada seleksi bagi calon-calon pemain masa depan. Di Indonesia, terus terang, sudah terlambat dengan bikin seleksi dengan umur lebih muda lagi,&amp;quot; kata Simon dalam keterangannya, dikutip Minggu (9/11/2025).&#13;
&#13;
&amp;quot;Di Indonesia, mulai seleksi dari usia 13-14 tahun. Secara perlahan dan harus kami ikuti seperti di Eropa yaitu sejak 8 tahun,&amp;quot; tambah mantan pemain Ajax Amsterdam itu.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
2. Butuh Proses&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Simon mengatakan butuh proses untuk membenahi pembinaan usia dini di Indonesia. Namun, ia optimistis pembinaan usia dini di Indonesia akan lebih baik jika dilakukan dengan serius.&#13;
&#13;
&amp;quot;Butuh waktu dan mesti sabar sedikit. Karena bagaimanapun juga, kami tidak bisa paksakan anak-anak di usia tersebut. Kami bisa pula berhubungan dengan sekolah sepakbola,&amp;quot; ucap Simon.&#13;
&#13;
&amp;quot;Itu bisa dicoba karena perkenalan dasar di usia paling dini sangat penting sehingga di usia 13-14 tahun, kami sudah tahu apakah pemain muda ini berbakat atau tidak,&amp;quot; tandas pria berusia 69 tahun itu.&#13;
</description><content:encoded>KEPALA pemandu bakat PSSI, Simon Tahamata, buka suara soal bedanya pembinaan usia dini di Belanda dengan Indonesia. Hal itu wajib jadi catatan untuk pengembangan sepakbola di Tanah Air.&#13;
&#13;
Sebagaimana diketahui, Simon dipercaya PSSI untuk mencari bakat-bakat terbaik untuk Timnas Indonesia sejak 26 Mei 2025. Ia bertugas memantau bibit-bibit terbaik di seantero negeri.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
1. Mulai Kurang Dini&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Om Simon mengatakan, rentang usia pembinaan usia muda di Indonesia memang berbeda dengan Belanda dan negara-negara Eropa berdasarkan temuannya. Jadi, teknik dasarnya terkadang masih kurang berkualitas.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;quot;Ya, di Belanda sejak usia 8 tahun, sudah ada seleksi bagi calon-calon pemain masa depan. Di Indonesia, terus terang, sudah terlambat dengan bikin seleksi dengan umur lebih muda lagi,&amp;quot; kata Simon dalam keterangannya, dikutip Minggu (9/11/2025).&#13;
&#13;
&amp;quot;Di Indonesia, mulai seleksi dari usia 13-14 tahun. Secara perlahan dan harus kami ikuti seperti di Eropa yaitu sejak 8 tahun,&amp;quot; tambah mantan pemain Ajax Amsterdam itu.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
2. Butuh Proses&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Simon mengatakan butuh proses untuk membenahi pembinaan usia dini di Indonesia. Namun, ia optimistis pembinaan usia dini di Indonesia akan lebih baik jika dilakukan dengan serius.&#13;
&#13;
&amp;quot;Butuh waktu dan mesti sabar sedikit. Karena bagaimanapun juga, kami tidak bisa paksakan anak-anak di usia tersebut. Kami bisa pula berhubungan dengan sekolah sepakbola,&amp;quot; ucap Simon.&#13;
&#13;
&amp;quot;Itu bisa dicoba karena perkenalan dasar di usia paling dini sangat penting sehingga di usia 13-14 tahun, kami sudah tahu apakah pemain muda ini berbakat atau tidak,&amp;quot; tandas pria berusia 69 tahun itu.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
