<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Anatoli Polosin, Mantan Pelatih Timnas Indonesia yang gaya melatihnya dikenal Keras Seperti Militer</title><description>Kisah Anatoli Polosin, Mantan Pelatih Timnas Indonesia yang gaya melatihnya dikenal Keras Seperti Militer.</description><link>https://bola.okezone.com/read/2023/05/16/51/2814929/kisah-anatoli-polosin-mantan-pelatih-timnas-indonesia-yang-gaya-melatihnya-dikenal-keras-seperti-militer</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://bola.okezone.com/read/2023/05/16/51/2814929/kisah-anatoli-polosin-mantan-pelatih-timnas-indonesia-yang-gaya-melatihnya-dikenal-keras-seperti-militer"/><item><title>Kisah Anatoli Polosin, Mantan Pelatih Timnas Indonesia yang gaya melatihnya dikenal Keras Seperti Militer</title><link>https://bola.okezone.com/read/2023/05/16/51/2814929/kisah-anatoli-polosin-mantan-pelatih-timnas-indonesia-yang-gaya-melatihnya-dikenal-keras-seperti-militer</link><guid isPermaLink="false">https://bola.okezone.com/read/2023/05/16/51/2814929/kisah-anatoli-polosin-mantan-pelatih-timnas-indonesia-yang-gaya-melatihnya-dikenal-keras-seperti-militer</guid><pubDate>Selasa 16 Mei 2023 15:02 WIB</pubDate><dc:creator>Cahyo Yulianto</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/05/16/51/2814929/kisah-anatoli-polosin-mantan-pelatih-timnas-indonesia-yang-gaya-melatihnya-dikenal-keras-seperti-militer-qzbsTMcviM.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Anatoli Polosin merupakan pelatih yang mempersembahkan medali emas terakhir untuk Indonesia dari cabor sepakbola pada SEA Games 1991 (Foto: YouTube)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/05/16/51/2814929/kisah-anatoli-polosin-mantan-pelatih-timnas-indonesia-yang-gaya-melatihnya-dikenal-keras-seperti-militer-qzbsTMcviM.jpg</image><title>Anatoli Polosin merupakan pelatih yang mempersembahkan medali emas terakhir untuk Indonesia dari cabor sepakbola pada SEA Games 1991 (Foto: YouTube)</title></images><description>KISAH Anatoli Polosin, mantan pelatih Timnas Indonesia yang gaya melatihnya dikenal keras seperti militer akan diulas pada artikel ini.
Timnas Indonesia U-22 akan menghadapi rival bebuyutan, Thailand di babak final cabang olahraga sepakbola SEA Games 2023, Selasa (16/5/2023) ini. Indonesia berhasil mengamankan tiket final setelah menang dramatis menghadapi Vietnam dengan skor 3-2 meski bermain dengan 10 pemain sejak Pratama Arhan dikartu merah pada menit ke-60.

Momen lolos ke final yang dramatis dan bertemu Thailand di final persis seperti saat terakhir kali Indonesia meraih medali emas di SEA Games 1991 di Filipina. Pada saat itu, skuad Garuda &amp;ndash; julukan Timnas Indonesia &amp;ndash; dilatih oleh juru taktik asal Rusia bernama Anatoli Polosin.
Menariknya, Anatoli Polosin dikenal sebagai sosok pelatih yang menerapkan pelatihan shadow football dengan intensitas latihan fisik yang sangat menguras tenaga. Bukan tanpa alasan, dalam waktu yang hanya sekitar 3 bulan, Polosin harus mempersiapkan skuad yang harus dibawa ke SEA Games.
Sebelum memanggil para pemain untuk masuk ke skuadnya, Polosin pun sempat menyaksikan kompetisi Galatama waktu itu. Dan dirinya melihat jika para pemain Indonesia hanya mampu bermain di babak pertama dan akan menurun di babak kedua.
Guna memperkuat ketahanan fisik para pemain, Polosin akhirnya menerapkan metode pelatihan yang sangat keras. Polosin mengandalkan gemblengan fisik yang bahkan dicap lebih berat dibandingkan standar di Eropa Timur.
Dilansir dari berbagai sumber, selama pelatihan Polosin dapat membuat para pemain berlari sejauh 4 km dalam waktu 15 menit. Bahkan dalam sehari latihan Timnas Indonesia diadakan sebanyak 3 kali, yakni pagi, siang dan sore.
Pada sesi latihan siang, Polosin tidak segan untuk menjemur para pemain di bawah terik matahari dan menyuruh mereka lari keliling lapangan hingga belasan kali. Tidak hanya itu, Polosin juga kerap kali menyuruh anak asuhnya berlari menuruni bukit.

BACA JUGA:
Media Vietnam Beri Saran ke Timnas Vietnam U-22 Usai Kalah dari Timnas Indonesia U-22, Ganti Pelatih?

Akibat pelatihan keras dan tanpa ampun tersebut, ada beberapa pemain yang tidak kuat dan memilih meninggalkan pemusatan latihan. Di antaranya ada nama Jaya Hartono dan Fakhri Husaini.
Meski begitu, pola latihan yang diterapkan oleh pelatih yang dijuluki Si Tangan Besi ini berbuah manis. Dengan membawa 18 pemain, Polosin mampu melenggang ke semifinal dengan status juara grup.Pada babak semifinal inilah latihan fisik Polosin terlihat dengan jelas. Pada pertandingan yang berlangsung dengan sangat sengit tersebut, anak asuh Polosin dapat bermain hingga 120 menit lamanya. Bahkan di babak adu penalti mereka berhasil menang 4-2 dan melaju ke final.

Di babak final, Indonesia dihadapkan dengan Thailand. Kejadian serupa pun kembali terjadi. Para pemain harus bermain hingga babak adu penalti. Beruntung Indonesia berhasil menang dengan skor 4-3.

BACA JUGA:
Puji Timnas Indonesia U-22, Sang Bomber Beri Indikasi Thailand Siap Main Bertahan

Dengan hasil itu, Indonesia berhasil meraih medali emas SEA Games di Filipina. Dan pencapaian itu belum mampu untuk diulang hingga detik ini.
Pertandingan final Indonesia melawan Thailand nanti malam akan menjadi penentuan untuk Indra Sjafri mengulang keberhasilan Polosin untuk meraih kembali medali emas SEA Games. Menarik untuk menyaksikan pertandingan final nanti.</description><content:encoded>KISAH Anatoli Polosin, mantan pelatih Timnas Indonesia yang gaya melatihnya dikenal keras seperti militer akan diulas pada artikel ini.
Timnas Indonesia U-22 akan menghadapi rival bebuyutan, Thailand di babak final cabang olahraga sepakbola SEA Games 2023, Selasa (16/5/2023) ini. Indonesia berhasil mengamankan tiket final setelah menang dramatis menghadapi Vietnam dengan skor 3-2 meski bermain dengan 10 pemain sejak Pratama Arhan dikartu merah pada menit ke-60.

Momen lolos ke final yang dramatis dan bertemu Thailand di final persis seperti saat terakhir kali Indonesia meraih medali emas di SEA Games 1991 di Filipina. Pada saat itu, skuad Garuda &amp;ndash; julukan Timnas Indonesia &amp;ndash; dilatih oleh juru taktik asal Rusia bernama Anatoli Polosin.
Menariknya, Anatoli Polosin dikenal sebagai sosok pelatih yang menerapkan pelatihan shadow football dengan intensitas latihan fisik yang sangat menguras tenaga. Bukan tanpa alasan, dalam waktu yang hanya sekitar 3 bulan, Polosin harus mempersiapkan skuad yang harus dibawa ke SEA Games.
Sebelum memanggil para pemain untuk masuk ke skuadnya, Polosin pun sempat menyaksikan kompetisi Galatama waktu itu. Dan dirinya melihat jika para pemain Indonesia hanya mampu bermain di babak pertama dan akan menurun di babak kedua.
Guna memperkuat ketahanan fisik para pemain, Polosin akhirnya menerapkan metode pelatihan yang sangat keras. Polosin mengandalkan gemblengan fisik yang bahkan dicap lebih berat dibandingkan standar di Eropa Timur.
Dilansir dari berbagai sumber, selama pelatihan Polosin dapat membuat para pemain berlari sejauh 4 km dalam waktu 15 menit. Bahkan dalam sehari latihan Timnas Indonesia diadakan sebanyak 3 kali, yakni pagi, siang dan sore.
Pada sesi latihan siang, Polosin tidak segan untuk menjemur para pemain di bawah terik matahari dan menyuruh mereka lari keliling lapangan hingga belasan kali. Tidak hanya itu, Polosin juga kerap kali menyuruh anak asuhnya berlari menuruni bukit.

BACA JUGA:
Media Vietnam Beri Saran ke Timnas Vietnam U-22 Usai Kalah dari Timnas Indonesia U-22, Ganti Pelatih?

Akibat pelatihan keras dan tanpa ampun tersebut, ada beberapa pemain yang tidak kuat dan memilih meninggalkan pemusatan latihan. Di antaranya ada nama Jaya Hartono dan Fakhri Husaini.
Meski begitu, pola latihan yang diterapkan oleh pelatih yang dijuluki Si Tangan Besi ini berbuah manis. Dengan membawa 18 pemain, Polosin mampu melenggang ke semifinal dengan status juara grup.Pada babak semifinal inilah latihan fisik Polosin terlihat dengan jelas. Pada pertandingan yang berlangsung dengan sangat sengit tersebut, anak asuh Polosin dapat bermain hingga 120 menit lamanya. Bahkan di babak adu penalti mereka berhasil menang 4-2 dan melaju ke final.

Di babak final, Indonesia dihadapkan dengan Thailand. Kejadian serupa pun kembali terjadi. Para pemain harus bermain hingga babak adu penalti. Beruntung Indonesia berhasil menang dengan skor 4-3.

BACA JUGA:
Puji Timnas Indonesia U-22, Sang Bomber Beri Indikasi Thailand Siap Main Bertahan

Dengan hasil itu, Indonesia berhasil meraih medali emas SEA Games di Filipina. Dan pencapaian itu belum mampu untuk diulang hingga detik ini.
Pertandingan final Indonesia melawan Thailand nanti malam akan menjadi penentuan untuk Indra Sjafri mengulang keberhasilan Polosin untuk meraih kembali medali emas SEA Games. Menarik untuk menyaksikan pertandingan final nanti.</content:encoded></item></channel></rss>
