<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Soroti Penggunaan Gas Air Mata di Tragedi Kanjuruhan, Peneliti Internasional Sebut Kepolisian Indonesia Telah Gagal Menjalankan Fungsinya</title><description>Soroti Penggunaan Gas Air Mata di Tragedi Kanjuruhan, Peneliti Internasional Sebut Kepolisian Indonesia Telah Gagal Menjalankan Fungsinya.</description><link>https://bola.okezone.com/read/2022/10/04/49/2680354/soroti-penggunaan-gas-air-mata-di-tragedi-kanjuruhan-peneliti-internasional-sebut-kepolisian-indonesia-telah-gagal-menjalankan-fungsinya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://bola.okezone.com/read/2022/10/04/49/2680354/soroti-penggunaan-gas-air-mata-di-tragedi-kanjuruhan-peneliti-internasional-sebut-kepolisian-indonesia-telah-gagal-menjalankan-fungsinya"/><item><title>Soroti Penggunaan Gas Air Mata di Tragedi Kanjuruhan, Peneliti Internasional Sebut Kepolisian Indonesia Telah Gagal Menjalankan Fungsinya</title><link>https://bola.okezone.com/read/2022/10/04/49/2680354/soroti-penggunaan-gas-air-mata-di-tragedi-kanjuruhan-peneliti-internasional-sebut-kepolisian-indonesia-telah-gagal-menjalankan-fungsinya</link><guid isPermaLink="false">https://bola.okezone.com/read/2022/10/04/49/2680354/soroti-penggunaan-gas-air-mata-di-tragedi-kanjuruhan-peneliti-internasional-sebut-kepolisian-indonesia-telah-gagal-menjalankan-fungsinya</guid><pubDate>Selasa 04 Oktober 2022 13:54 WIB</pubDate><dc:creator>Ilham Sigit Pratama</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/10/04/49/2680354/soroti-penggunaan-gas-air-mata-di-tragedi-kanjuruhan-peneliti-internasional-sebut-kepolisian-indonesia-telah-gagal-menjalankan-fungsinya-ZasJRHPdlS.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Penggunaan gas air mata oleh Kepolisian di Tragedi Kanjuruhan (Foto: ANTARA)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/10/04/49/2680354/soroti-penggunaan-gas-air-mata-di-tragedi-kanjuruhan-peneliti-internasional-sebut-kepolisian-indonesia-telah-gagal-menjalankan-fungsinya-ZasJRHPdlS.jpg</image><title>Penggunaan gas air mata oleh Kepolisian di Tragedi Kanjuruhan (Foto: ANTARA)</title></images><description>SOROTI penggunaan gas air mata di Tragedi Kanjuruhan, peneliti internasional sebut Kepolisian Indonesia telah gagal menjalankan fungsinya. Hal ini diungkapkan oleh pakar ekonomi, hukum, dan politik University Murdoch, Perth, Australia, Jacqui Baker, kepada New York Times.
Menurut Jacqui Baker, kepolisian Indonesia telah gagal menjalankan fungsinya seiring dengan terjadinya Tragedi kanjuruhan yang memakan korban hingga setidaknya 125 orang. Menurut sang peneliti, aparat di Indonesia memang sudah bermasalah sedari awal.

Baker mengambil contoh dari demonstrasi bersar-besaran aksi tolak RKUHP pada September 2019 silam. Menurut data yang dirangkumnya, polisi memukuli orang dengan tongkat dan tameng di lebih dari 15 provinsi di Indonesia, sebanyak 10 orang pun tewas.
Tak hanya itu, Baker juga menyorot kala pihak kepolisian menembakkan gas air mata ke arah demonstran di Ternate pada April 2022 silam. Penelusurannya mengungkap bahwa terdapat tiga balita di sekitar lokasi unjuk rasa yang terluka terkena gas air mata.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMC8wMy8xLzE1NDIxOS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Baker kembali mengelus dada ketika kerusuhan pecah di Stadion Kanjuruhan akhir pekan lalu. Menurutnya, gas air mata dan aksi kekerasan yang dilakukan polisi menjadi bukti bahwa aparat kepolisian di Indonesia sudah gagal menjalankan fungsinya.
BACA JUGA:Pintu Donasi untuk Korban Tragedi Kanjuruhan Terus Mengalir, Kini The Jakmania Turut Serta
&amp;ldquo;Bagi saya, ini benar-benar kegagalan fungsi dari reformasi kepolisian di Indonesia,&amp;rdquo; kata Baker dikutip New York Times, Selasa (4/10/2022).Lebih lanjut, Baker mengungkapkan bahwa traged-tragedi yang sudah ada sebelumnya tidak membuat pihak kepolisian membuka mata, mawas dan introspeksi diri. Dirinya menyebut bahwa polisi di Indonesia.

&amp;ldquo;Mengapa kita terus dihadapkan pada impunitas, karena tidak ada kepentingan politik untuk mewujudkan kepolisian yang profesional,&amp;rdquo; tutupnya.
Senada dengan Baker, peneliti dari Insitute for Policy Analysis of Conflict di Jakarta, Sana Jeffrey juga menyebut bahwa kekerasan yang dilakukan oleh aparat kepolisian sudah menjadi budaya yang sulit diubah. Jeffrey menyebut bahwa terdapat kesalahan yang mengakar pada sistem instansi kepolisian di tanah air.
&amp;ldquo;Sekarang ini sudah menjadi pola, hal penting yang menjadi kewajiban polisi di akar rumput dibaikan,&amp;rdquo; kata Jeffrey.</description><content:encoded>SOROTI penggunaan gas air mata di Tragedi Kanjuruhan, peneliti internasional sebut Kepolisian Indonesia telah gagal menjalankan fungsinya. Hal ini diungkapkan oleh pakar ekonomi, hukum, dan politik University Murdoch, Perth, Australia, Jacqui Baker, kepada New York Times.
Menurut Jacqui Baker, kepolisian Indonesia telah gagal menjalankan fungsinya seiring dengan terjadinya Tragedi kanjuruhan yang memakan korban hingga setidaknya 125 orang. Menurut sang peneliti, aparat di Indonesia memang sudah bermasalah sedari awal.

Baker mengambil contoh dari demonstrasi bersar-besaran aksi tolak RKUHP pada September 2019 silam. Menurut data yang dirangkumnya, polisi memukuli orang dengan tongkat dan tameng di lebih dari 15 provinsi di Indonesia, sebanyak 10 orang pun tewas.
Tak hanya itu, Baker juga menyorot kala pihak kepolisian menembakkan gas air mata ke arah demonstran di Ternate pada April 2022 silam. Penelusurannya mengungkap bahwa terdapat tiga balita di sekitar lokasi unjuk rasa yang terluka terkena gas air mata.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMC8wMy8xLzE1NDIxOS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Baker kembali mengelus dada ketika kerusuhan pecah di Stadion Kanjuruhan akhir pekan lalu. Menurutnya, gas air mata dan aksi kekerasan yang dilakukan polisi menjadi bukti bahwa aparat kepolisian di Indonesia sudah gagal menjalankan fungsinya.
BACA JUGA:Pintu Donasi untuk Korban Tragedi Kanjuruhan Terus Mengalir, Kini The Jakmania Turut Serta
&amp;ldquo;Bagi saya, ini benar-benar kegagalan fungsi dari reformasi kepolisian di Indonesia,&amp;rdquo; kata Baker dikutip New York Times, Selasa (4/10/2022).Lebih lanjut, Baker mengungkapkan bahwa traged-tragedi yang sudah ada sebelumnya tidak membuat pihak kepolisian membuka mata, mawas dan introspeksi diri. Dirinya menyebut bahwa polisi di Indonesia.

&amp;ldquo;Mengapa kita terus dihadapkan pada impunitas, karena tidak ada kepentingan politik untuk mewujudkan kepolisian yang profesional,&amp;rdquo; tutupnya.
Senada dengan Baker, peneliti dari Insitute for Policy Analysis of Conflict di Jakarta, Sana Jeffrey juga menyebut bahwa kekerasan yang dilakukan oleh aparat kepolisian sudah menjadi budaya yang sulit diubah. Jeffrey menyebut bahwa terdapat kesalahan yang mengakar pada sistem instansi kepolisian di tanah air.
&amp;ldquo;Sekarang ini sudah menjadi pola, hal penting yang menjadi kewajiban polisi di akar rumput dibaikan,&amp;rdquo; kata Jeffrey.</content:encoded></item></channel></rss>
