<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kaleidoskop 2021: 4 Tim yang Lama Sudah Tak Juara Kembali Unjuk Gigi</title><description>Berikut 4 tim yang sudah lama tak juara kembali unjuk gigi.</description><link>https://bola.okezone.com/read/2021/12/29/51/2524498/kaleidoskop-2021-4-tim-yang-lama-sudah-tak-juara-kembali-unjuk-gigi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://bola.okezone.com/read/2021/12/29/51/2524498/kaleidoskop-2021-4-tim-yang-lama-sudah-tak-juara-kembali-unjuk-gigi"/><item><title>Kaleidoskop 2021: 4 Tim yang Lama Sudah Tak Juara Kembali Unjuk Gigi</title><link>https://bola.okezone.com/read/2021/12/29/51/2524498/kaleidoskop-2021-4-tim-yang-lama-sudah-tak-juara-kembali-unjuk-gigi</link><guid isPermaLink="false">https://bola.okezone.com/read/2021/12/29/51/2524498/kaleidoskop-2021-4-tim-yang-lama-sudah-tak-juara-kembali-unjuk-gigi</guid><pubDate>Rabu 29 Desember 2021 19:05 WIB</pubDate><dc:creator>Rivan Nasri Rachman</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/12/29/51/2524498/kaleidoskop-2021-4-tim-yang-lama-sudah-tak-juara-kembali-unjuk-gigi-bJC81zOWgn.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Berikut 4 tim yang sudah tak lama juara kembali unjuk gigi. (Foto: REUTERS/Michael Steele)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/12/29/51/2524498/kaleidoskop-2021-4-tim-yang-lama-sudah-tak-juara-kembali-unjuk-gigi-bJC81zOWgn.jpg</image><title>Berikut 4 tim yang sudah tak lama juara kembali unjuk gigi. (Foto: REUTERS/Michael Steele)</title></images><description>TAHUN 2021 menjadi tahun di mana ada tim sepakbola yang sudah lama tak juara berhasil merasakan kembali euforia atau merasakan manisnya mengangkat trofi lagi. Menariknya tidak hanya satu atau dua tim, setidaknya Okezone melihat ada empat klub Eropa yang kembali merasakan gelar juara di 2021 atau tepatnya pada musim 2020-2021.
Seperti halnya Inter Milan yang secara mengagumkan dapat meruntuhkan dominasi Juventus, lalu ada Atletico Madrid yang berjaya di Liga Spanyol, kemudian LOSC Lille yang membuat Paris Saint-Germain (PSG) tak berdaya di Liga Prancis, hingga Chelsea yang berhasil mengangkat trofi Liga Champions untuk yang kedua kalinya.

Bagi keempat nama klub di atas, 2021 menjadi tahun yang jelas terasa sangat spesial. Lantas bagaimana perjalanan mereka hingga mencapai kesuksesan tersebut?
Berikut Tim-Tim yang Sudah Lama Tak Juara Akhirnya Kembali Unjuk Gigi: 
4. Atletico Madrid (Liga Spanyol) 

Atletico Madrid secara mengejutkan keluar menjadi juara Liga Spanyol 2020-2021. Itu adalah gelar pertama mereka setelah terakhir kali menjuarai kompetisi itu pada musim 2013-2014.
Butuh waktu tujuh tahun bagi Atletico agar bisa kembali merasakan mengangkat trofi Liga Spanyol. Tentunya lagi-lagi keberhasilan Atletico dalam menjuarai Liga Spanyol tak terlepas dari kecerdasan sang pelatih, Diego Simeone dalam mengatur timnya tersebut.
Pada musim tersebut, Simeone pun kedatangan amunisi yang bisa dikatakan menjadi kunci keberhasilan Los Rojiblancos &amp;ndash;julukan Atletico&amp;ndash; dalam menjuarai Liga Spanyol 2020-2021. Siapa lagi kalau bukan Luis Suarez yang pada musim panas 2020 dibuang oleh Barcelona.
Kehadiran Suarez benar-benar memberikan harapan baru untuk Atletico. Di musim perdananya membela Atletico, striker asal Uruguay tersebut langsung sukses mencetak 21 gol di Liga Spanyol 2020-2021 dan catatan itu menjadikannya sebagai top skor Atletico Madrid di musim tersebut.
Atletico Madrid sendiri sudah memimpin peringkat pertama sejak jornada atau pekan kesembilan, usai mereka berhasil menumpas Cadiz 4-0. Sejak itu hingga pekan ke-31 posisi Atletico Madrid tak tergoyahkan. Bahkan dalam perjalanan itu Atletico Madrid sanggup mengalahkan Barcelona, menahan Real Madrid sekali.
Atletico Madrid sempat turun di pekan ke-32 karena kalah 1-2 dari Athletic Bilbao. Namun, dari pekan ke-33 Atletico Madrid kembali ke puncak klasemen dan bahkan hingga akhir tim asuhan Simeone itu tak pernah kalah dan berhasil menjadi juara Liga Spanyol 2020-2021 dengan koleksi 86 poin dari 26 kemenangan, delapan imbang, dan empat kekalahan.
Atletico Madrid unggul dua poin dari Real Madrid yang finis sebagai runner-up dan sementara Barcelona sendiri mengakhiri kompetisi di posisi ketiga. Tak dapat dipungkiri selain Atletico Madrid yang memang bermain bagus di musim 2020-2021, mereka juga bisa keluar sebagai juara karena diuntungkan dengaan menurunnya performa Barcelona dan Real Madrid kala itu.
Atletico Madrid di 2020-2021: 
86 Poin: 26 Menang/8 Imbang/4 Kalah


3. Inter Milan (Liga Italia)

Kehadiran Antonio Conte pada musim 2019-2020 sebagai pelatih telah memberikan dampak yang amat positif untuk Inter. Beberapa pemain pembeliannya seperti Romelu Lukaku, Ashley Young, Diego Godin, hingga meminjam Alexis Sanchez, Nicolo Barella, dan Stefano Sensi telah memberikan Inter nafas baru.
Alhasil, Inter pun finis di urutan kedua di musim 2019-2020. Pencapaian terbaik yang diraih Inter sejak musim 2010-2011, di mana kala itu Nerazzurri juga finis di peringkat kedua.
Menjelang musim 2020-2021, Conte lantas kembali mendatangkan pemain hebat, yakni Achraf Hakimi dari Real Madrid, serta mempermanenkan Barella serta Sensi yang tampil baik saat dipinjam di musim 2019-2020.
Namun, perjalanan Conte bersama Inter kala itu tak langsung melaju mulus. Nerazzurri sempat menempati posisi ketujuh di pekan ketujuh. Mereka baru bisa berada di posisi atas, tepatnya menguasai peringkat kedua sejak pekan ke-12.
Inter sejak itu mulai memperlihatkan permainan terbaik mereka. Inter pun bisa lebih fokus ke liga lokal karena pada awal Desember 2020, mereka sudah memastikan diri tak lanjut dari fase grup Liga Champions.
Lalu pada awal Februari 2021, Inter ditendang Juventus dari ajang Coppa Italia 2020-2021. Inter lantas semakin fokus di Liga Italia hingga akhirnya mampu menguasai peringkat pertama di pekan ke-22.
Sejak pekan ke-22 yang terjadi pada pertengahan Februari 2021, hingga 23 Mei 2021, skuad asuhan Conte itu tak pernah tergeser dari peringkat pertama. Inter bisa dikatakan unggul jauh saat berhasil menjuara Liga Italia 2020-2021.
Tepatnya Inter memiliki total 91 poin dari 28 kemenangan, tujuh hasil imbang, dan tiga menelan kekalahan. Inter pun unggul 12 poin dari AC Milan yang finis di urutan kedua dan berbeda 13 angka dari Juventus yang secara mengejutkan finis di posisi keempat.
Juventus sendiri gagal mempertahankan dominasi mereka selama sembilan tahun beruntun karena di musim tersebut Bianconeri &amp;ndash;julukan Juventus&amp;ndash; tak lagi dilatih Maurizio Sarri, melainkan telah diganti dengan Andrea Pirlo.
Pirlo gagal membuat Juventus tampil baik dan Conte yang menjalani musim keduanya di Inter justru sanggup mengeluarkan permainan terbaik Nerazzurri hingga akhirnya menang di musim 2020-2021. Itu tentu terasa sangat spesial untuk Inter yang terakhir kali menjuarai Liga Italia di musim 2009-2010.
Inter Milan di Liga Italia 2020-2021:
91 Poin: 28 Menang/7 Imbang/3 Kalah2. LOSC Lille (Liga Prancis)

LOSC Lille berhasil menyabet gelar keempat Liga Prancis mereka pada musim 2020-2021. Terakhir kali Lille menjuarai kompetisi itu pada musim 2010-2011. Namun, setelah itu Liga Prancis mampu dikuasai oleh PSG.
Sejak musim 2011-2012 hingga 2019-2020, PSG tercatat tujuh kali keluar sebagai juara. Sementara Lille justru kesulitan untuk bersaing meraih gelar juara, bahkan pada 2017-2018 Lille hampir degradasi karena finis di posisi ke-17. Kala itu Lille terpuruk karena dilatih oleh Christophe Galtier yang baru ditunjuk menangani tim tersebut.
Kendati begitu, Galtier di musim keduanya mampu memberikan perubahan signifikan hingga membuat Lille finis sebagai runner-up di bawah PSG pada Liga Prancis 2018-2019. Proses demi proses Galtier pun berhasil menemukan racikan yang tepat hingga akhirnya ia membawa Lille menjadi juara di musim 2020-2021 setelah menunggu 10 tahun dari gelar terakhir mereka.
Keberhasilan Lille dalam menjuarai Liga Prancis 2020-2021 pun tak terlepas dari menurunnya performa PSG. Les Parisiens &amp;ndash;julukan PSG&amp;ndash; tampil kurang meyakinkan di paruh pertama saat masih ditangani Thomas Tuchel dengan empat kekalahan. Tuchel lantas ditendang pada akhir Desember 2020.
PSG pun menunjuk Mauricio Pochettino sebagai pelatih. Sayangnya Pochettino gagal membuat PSG bangkit dan malahan memberikan tim tersebut empat kekalahan juga di Liga Prancis 2020-2021. Momen itu lantas berhasil dimanfaatkan Lille.
Lille pun menguasai peringkat pertama sejak pekan ke-22. Sempat turun ke posisi kedua di pekan ke-30 karena kalah 1-2 dari Nimes Olympique, Lille lantas bangkit setelahnya dengan tak pernah kalah dan terus berada di peringkat pertama hingga Liga Prancis 2020-2021 berakhir.
Lille keluar sebagai juara Liga Prancis 2020-2021 dengan koleksi 83 poin dengan catatan 24 kemenangan, 11 imbang, dan tiga kekalahan. Lille hanya unggul satu poin saja dari PSG yang finis di urutan kedua. Jadi, Lille benar-benar keluar sebagai juara dengan hasil poin yang sangat tipis dengan PSG.
LOSC Lille di Liga Prancis 2020-2021: 
83 Poin: 24 Menang/11 Imbang/3 Kalah1. Chelsea (Liga Champions)

Chelsea berhasil merebut trofi Liga Champions kedua mereka di musim 2020-2021. Pertama kali trofi si Kuping Besar itu diraih The Blues terjadi pada musim 2011-2012 saat mereka dilatih oleh caretaker, Roberto Di Mateo.
Roberto Di Mateo menjadi pelatih sementara untuk menggantikan Andre Villas-Boas yang dipecat di tengah musim. Menariknya kejadian yang hampir serupa terjadi pada musim 2020-2021, di mana Chelsea berhasil meraih gelar Liga Champions setelah melakukan pergantian pelatih di tengah musim.
Bedanya pada musim 2020-2021 Frank Lampard dipecat lalu langsung digantikan dengan pelatih permanen, yakni Thomas Tuchel. Tuchel yang datang pada Januari 2021 benar-benar membawa perubahan untuk permainan Chelsea.
Ketika Tuchel datang, kondisinya Chelsea di Liga Champions 2020-2021 sudah pasti lolos ke babak 16 besar dengan status juara Grup E. Lampard berhasil mengantarkan Chelsea menguasai Grup E yang berisikan Sevilla, Krasnodar, dan Stade Rennes usai mampu merebut empat kemenangan dan dua imbang.
Lalu di 16 besar Chelsea yang bertemu Atletico Madrid sudah ditangani Tuchel. Pada leg pertama, laga yang dihelat di tengah pandemi itu, Chelsea bermain tidak di kandang Atletico melainkan di Arena National dan mampu menang 1-0.
Kemudian di leg keduanya yang berlangsung di Stamford Bridge, Chelsea kembali menang dengan skor 2-0 berkat gol dari Hakim Ziyech dan Emerson. Secara agregat Chelsea lolos dengan skor 3-0 dari Atletico yang tak berdaya.
Setelah itu di babak perempatfinal, Chelsea mendapatkan undian untuk melawan FC Porto.  Lagi-lagi Chelsea berhasil mengawali dengan baik karena pada leg pertama yang berlangsung di Stadion Ramon Sanchez Pizjuan itu, The Blues menang dengan skor 2-0 lewat gol Mason Mount dan Ben Chilwell.
Pada leg kedua, Chelsea justru dikagetkan Porto karena takluk 0-1 lewat aksi Mehdi Teremi. Untungnya secara agregat Chelsea menjadi tim yang berhak lolos dari perempatfinal karena menang 2-1.
Di semifinal, Chelsea pun berjumpa dengan Real Madrid. Leg pertama Chelsea bertandang ke Stadion Alfredo Di Stefano karena Santiago Bernabeu yang sedang direnovasi.
Awalnya banyak yang mengira Chelsea bakal kesulitan menghadapi Madrid. Benar saja, karena Chelsea hanya bisa meraih imbang 1-1 setelah gol Christian Pulisic di menit ke-14 dibalas Karim Benzema di menit 29.
Namun, hasil imbang tetaplah sangat baik. Terutama karena di leg keduanya Chelsea akan bermain di kandang sendiri, yakni di Stamford Bridge.
Meski bermain di stadion yang kosong karena saat itu laga masih dijalankan tanpa ada penonton, Chelsea nyatanya dapat bermain dengan sangat baik di leg kedua. Apalagi performa sang kiper Edouard Mendy sangat mengagumkan di bawah mistar gawang.
Chelsea lantas mempermalukan Madrid 2-0 berkat gol dari sumbangsih Timo Werner dan Mason Mount di leg kedua itu, Dengan kemenangan agregat 3-1, Chelsea lantas melaju ke final.
Pada final Liga Champions 2020-2021, Chelsea ternyata berjumpa sesama wakil Inggris, yakni Manchester City. Kala itu, Man City sangat diunggulkan, terutama karena Josep Guardiola sedang mengincar trofi pertama Liga Champions untuk The Citizens.
Bermain di Estadio do Dragao, Portugal, final Liga Champions 2020-2021 akhirnya diperbolehkan dihadiri penonton. Sehingga ada 14 ribu penonton lebih di stadion yang menyaksikan secara langsung sejarah saat Chelsea meraih gelar Liga Champions kedua mereka.
Berlangsung pada Minggu 30 Mei 2021, Chelsea pun secara luar biasa justru sanggup menang dengan skor tipis 1-0. Satu-satunya gol di final Liga Champions 2020-2021 diciptakan oleh penggawa The Blues, Kai Havertz.
Tak ada yang menyangka Chelsea pada akhirnya justru bisa menjadi juara Liga Champions di musim 2020-2021 tersebut. Namun, faktor kehadiran Thomas Tuchel pada Januari 2021 hingga kedatangan kiper Edouard Mendy yang dibeli Lampard di musim panas 2020 memberikan efek yang nyata untuk permainan Chelsea.


</description><content:encoded>TAHUN 2021 menjadi tahun di mana ada tim sepakbola yang sudah lama tak juara berhasil merasakan kembali euforia atau merasakan manisnya mengangkat trofi lagi. Menariknya tidak hanya satu atau dua tim, setidaknya Okezone melihat ada empat klub Eropa yang kembali merasakan gelar juara di 2021 atau tepatnya pada musim 2020-2021.
Seperti halnya Inter Milan yang secara mengagumkan dapat meruntuhkan dominasi Juventus, lalu ada Atletico Madrid yang berjaya di Liga Spanyol, kemudian LOSC Lille yang membuat Paris Saint-Germain (PSG) tak berdaya di Liga Prancis, hingga Chelsea yang berhasil mengangkat trofi Liga Champions untuk yang kedua kalinya.

Bagi keempat nama klub di atas, 2021 menjadi tahun yang jelas terasa sangat spesial. Lantas bagaimana perjalanan mereka hingga mencapai kesuksesan tersebut?
Berikut Tim-Tim yang Sudah Lama Tak Juara Akhirnya Kembali Unjuk Gigi: 
4. Atletico Madrid (Liga Spanyol) 

Atletico Madrid secara mengejutkan keluar menjadi juara Liga Spanyol 2020-2021. Itu adalah gelar pertama mereka setelah terakhir kali menjuarai kompetisi itu pada musim 2013-2014.
Butuh waktu tujuh tahun bagi Atletico agar bisa kembali merasakan mengangkat trofi Liga Spanyol. Tentunya lagi-lagi keberhasilan Atletico dalam menjuarai Liga Spanyol tak terlepas dari kecerdasan sang pelatih, Diego Simeone dalam mengatur timnya tersebut.
Pada musim tersebut, Simeone pun kedatangan amunisi yang bisa dikatakan menjadi kunci keberhasilan Los Rojiblancos &amp;ndash;julukan Atletico&amp;ndash; dalam menjuarai Liga Spanyol 2020-2021. Siapa lagi kalau bukan Luis Suarez yang pada musim panas 2020 dibuang oleh Barcelona.
Kehadiran Suarez benar-benar memberikan harapan baru untuk Atletico. Di musim perdananya membela Atletico, striker asal Uruguay tersebut langsung sukses mencetak 21 gol di Liga Spanyol 2020-2021 dan catatan itu menjadikannya sebagai top skor Atletico Madrid di musim tersebut.
Atletico Madrid sendiri sudah memimpin peringkat pertama sejak jornada atau pekan kesembilan, usai mereka berhasil menumpas Cadiz 4-0. Sejak itu hingga pekan ke-31 posisi Atletico Madrid tak tergoyahkan. Bahkan dalam perjalanan itu Atletico Madrid sanggup mengalahkan Barcelona, menahan Real Madrid sekali.
Atletico Madrid sempat turun di pekan ke-32 karena kalah 1-2 dari Athletic Bilbao. Namun, dari pekan ke-33 Atletico Madrid kembali ke puncak klasemen dan bahkan hingga akhir tim asuhan Simeone itu tak pernah kalah dan berhasil menjadi juara Liga Spanyol 2020-2021 dengan koleksi 86 poin dari 26 kemenangan, delapan imbang, dan empat kekalahan.
Atletico Madrid unggul dua poin dari Real Madrid yang finis sebagai runner-up dan sementara Barcelona sendiri mengakhiri kompetisi di posisi ketiga. Tak dapat dipungkiri selain Atletico Madrid yang memang bermain bagus di musim 2020-2021, mereka juga bisa keluar sebagai juara karena diuntungkan dengaan menurunnya performa Barcelona dan Real Madrid kala itu.
Atletico Madrid di 2020-2021: 
86 Poin: 26 Menang/8 Imbang/4 Kalah


3. Inter Milan (Liga Italia)

Kehadiran Antonio Conte pada musim 2019-2020 sebagai pelatih telah memberikan dampak yang amat positif untuk Inter. Beberapa pemain pembeliannya seperti Romelu Lukaku, Ashley Young, Diego Godin, hingga meminjam Alexis Sanchez, Nicolo Barella, dan Stefano Sensi telah memberikan Inter nafas baru.
Alhasil, Inter pun finis di urutan kedua di musim 2019-2020. Pencapaian terbaik yang diraih Inter sejak musim 2010-2011, di mana kala itu Nerazzurri juga finis di peringkat kedua.
Menjelang musim 2020-2021, Conte lantas kembali mendatangkan pemain hebat, yakni Achraf Hakimi dari Real Madrid, serta mempermanenkan Barella serta Sensi yang tampil baik saat dipinjam di musim 2019-2020.
Namun, perjalanan Conte bersama Inter kala itu tak langsung melaju mulus. Nerazzurri sempat menempati posisi ketujuh di pekan ketujuh. Mereka baru bisa berada di posisi atas, tepatnya menguasai peringkat kedua sejak pekan ke-12.
Inter sejak itu mulai memperlihatkan permainan terbaik mereka. Inter pun bisa lebih fokus ke liga lokal karena pada awal Desember 2020, mereka sudah memastikan diri tak lanjut dari fase grup Liga Champions.
Lalu pada awal Februari 2021, Inter ditendang Juventus dari ajang Coppa Italia 2020-2021. Inter lantas semakin fokus di Liga Italia hingga akhirnya mampu menguasai peringkat pertama di pekan ke-22.
Sejak pekan ke-22 yang terjadi pada pertengahan Februari 2021, hingga 23 Mei 2021, skuad asuhan Conte itu tak pernah tergeser dari peringkat pertama. Inter bisa dikatakan unggul jauh saat berhasil menjuara Liga Italia 2020-2021.
Tepatnya Inter memiliki total 91 poin dari 28 kemenangan, tujuh hasil imbang, dan tiga menelan kekalahan. Inter pun unggul 12 poin dari AC Milan yang finis di urutan kedua dan berbeda 13 angka dari Juventus yang secara mengejutkan finis di posisi keempat.
Juventus sendiri gagal mempertahankan dominasi mereka selama sembilan tahun beruntun karena di musim tersebut Bianconeri &amp;ndash;julukan Juventus&amp;ndash; tak lagi dilatih Maurizio Sarri, melainkan telah diganti dengan Andrea Pirlo.
Pirlo gagal membuat Juventus tampil baik dan Conte yang menjalani musim keduanya di Inter justru sanggup mengeluarkan permainan terbaik Nerazzurri hingga akhirnya menang di musim 2020-2021. Itu tentu terasa sangat spesial untuk Inter yang terakhir kali menjuarai Liga Italia di musim 2009-2010.
Inter Milan di Liga Italia 2020-2021:
91 Poin: 28 Menang/7 Imbang/3 Kalah2. LOSC Lille (Liga Prancis)

LOSC Lille berhasil menyabet gelar keempat Liga Prancis mereka pada musim 2020-2021. Terakhir kali Lille menjuarai kompetisi itu pada musim 2010-2011. Namun, setelah itu Liga Prancis mampu dikuasai oleh PSG.
Sejak musim 2011-2012 hingga 2019-2020, PSG tercatat tujuh kali keluar sebagai juara. Sementara Lille justru kesulitan untuk bersaing meraih gelar juara, bahkan pada 2017-2018 Lille hampir degradasi karena finis di posisi ke-17. Kala itu Lille terpuruk karena dilatih oleh Christophe Galtier yang baru ditunjuk menangani tim tersebut.
Kendati begitu, Galtier di musim keduanya mampu memberikan perubahan signifikan hingga membuat Lille finis sebagai runner-up di bawah PSG pada Liga Prancis 2018-2019. Proses demi proses Galtier pun berhasil menemukan racikan yang tepat hingga akhirnya ia membawa Lille menjadi juara di musim 2020-2021 setelah menunggu 10 tahun dari gelar terakhir mereka.
Keberhasilan Lille dalam menjuarai Liga Prancis 2020-2021 pun tak terlepas dari menurunnya performa PSG. Les Parisiens &amp;ndash;julukan PSG&amp;ndash; tampil kurang meyakinkan di paruh pertama saat masih ditangani Thomas Tuchel dengan empat kekalahan. Tuchel lantas ditendang pada akhir Desember 2020.
PSG pun menunjuk Mauricio Pochettino sebagai pelatih. Sayangnya Pochettino gagal membuat PSG bangkit dan malahan memberikan tim tersebut empat kekalahan juga di Liga Prancis 2020-2021. Momen itu lantas berhasil dimanfaatkan Lille.
Lille pun menguasai peringkat pertama sejak pekan ke-22. Sempat turun ke posisi kedua di pekan ke-30 karena kalah 1-2 dari Nimes Olympique, Lille lantas bangkit setelahnya dengan tak pernah kalah dan terus berada di peringkat pertama hingga Liga Prancis 2020-2021 berakhir.
Lille keluar sebagai juara Liga Prancis 2020-2021 dengan koleksi 83 poin dengan catatan 24 kemenangan, 11 imbang, dan tiga kekalahan. Lille hanya unggul satu poin saja dari PSG yang finis di urutan kedua. Jadi, Lille benar-benar keluar sebagai juara dengan hasil poin yang sangat tipis dengan PSG.
LOSC Lille di Liga Prancis 2020-2021: 
83 Poin: 24 Menang/11 Imbang/3 Kalah1. Chelsea (Liga Champions)

Chelsea berhasil merebut trofi Liga Champions kedua mereka di musim 2020-2021. Pertama kali trofi si Kuping Besar itu diraih The Blues terjadi pada musim 2011-2012 saat mereka dilatih oleh caretaker, Roberto Di Mateo.
Roberto Di Mateo menjadi pelatih sementara untuk menggantikan Andre Villas-Boas yang dipecat di tengah musim. Menariknya kejadian yang hampir serupa terjadi pada musim 2020-2021, di mana Chelsea berhasil meraih gelar Liga Champions setelah melakukan pergantian pelatih di tengah musim.
Bedanya pada musim 2020-2021 Frank Lampard dipecat lalu langsung digantikan dengan pelatih permanen, yakni Thomas Tuchel. Tuchel yang datang pada Januari 2021 benar-benar membawa perubahan untuk permainan Chelsea.
Ketika Tuchel datang, kondisinya Chelsea di Liga Champions 2020-2021 sudah pasti lolos ke babak 16 besar dengan status juara Grup E. Lampard berhasil mengantarkan Chelsea menguasai Grup E yang berisikan Sevilla, Krasnodar, dan Stade Rennes usai mampu merebut empat kemenangan dan dua imbang.
Lalu di 16 besar Chelsea yang bertemu Atletico Madrid sudah ditangani Tuchel. Pada leg pertama, laga yang dihelat di tengah pandemi itu, Chelsea bermain tidak di kandang Atletico melainkan di Arena National dan mampu menang 1-0.
Kemudian di leg keduanya yang berlangsung di Stamford Bridge, Chelsea kembali menang dengan skor 2-0 berkat gol dari Hakim Ziyech dan Emerson. Secara agregat Chelsea lolos dengan skor 3-0 dari Atletico yang tak berdaya.
Setelah itu di babak perempatfinal, Chelsea mendapatkan undian untuk melawan FC Porto.  Lagi-lagi Chelsea berhasil mengawali dengan baik karena pada leg pertama yang berlangsung di Stadion Ramon Sanchez Pizjuan itu, The Blues menang dengan skor 2-0 lewat gol Mason Mount dan Ben Chilwell.
Pada leg kedua, Chelsea justru dikagetkan Porto karena takluk 0-1 lewat aksi Mehdi Teremi. Untungnya secara agregat Chelsea menjadi tim yang berhak lolos dari perempatfinal karena menang 2-1.
Di semifinal, Chelsea pun berjumpa dengan Real Madrid. Leg pertama Chelsea bertandang ke Stadion Alfredo Di Stefano karena Santiago Bernabeu yang sedang direnovasi.
Awalnya banyak yang mengira Chelsea bakal kesulitan menghadapi Madrid. Benar saja, karena Chelsea hanya bisa meraih imbang 1-1 setelah gol Christian Pulisic di menit ke-14 dibalas Karim Benzema di menit 29.
Namun, hasil imbang tetaplah sangat baik. Terutama karena di leg keduanya Chelsea akan bermain di kandang sendiri, yakni di Stamford Bridge.
Meski bermain di stadion yang kosong karena saat itu laga masih dijalankan tanpa ada penonton, Chelsea nyatanya dapat bermain dengan sangat baik di leg kedua. Apalagi performa sang kiper Edouard Mendy sangat mengagumkan di bawah mistar gawang.
Chelsea lantas mempermalukan Madrid 2-0 berkat gol dari sumbangsih Timo Werner dan Mason Mount di leg kedua itu, Dengan kemenangan agregat 3-1, Chelsea lantas melaju ke final.
Pada final Liga Champions 2020-2021, Chelsea ternyata berjumpa sesama wakil Inggris, yakni Manchester City. Kala itu, Man City sangat diunggulkan, terutama karena Josep Guardiola sedang mengincar trofi pertama Liga Champions untuk The Citizens.
Bermain di Estadio do Dragao, Portugal, final Liga Champions 2020-2021 akhirnya diperbolehkan dihadiri penonton. Sehingga ada 14 ribu penonton lebih di stadion yang menyaksikan secara langsung sejarah saat Chelsea meraih gelar Liga Champions kedua mereka.
Berlangsung pada Minggu 30 Mei 2021, Chelsea pun secara luar biasa justru sanggup menang dengan skor tipis 1-0. Satu-satunya gol di final Liga Champions 2020-2021 diciptakan oleh penggawa The Blues, Kai Havertz.
Tak ada yang menyangka Chelsea pada akhirnya justru bisa menjadi juara Liga Champions di musim 2020-2021 tersebut. Namun, faktor kehadiran Thomas Tuchel pada Januari 2021 hingga kedatangan kiper Edouard Mendy yang dibeli Lampard di musim panas 2020 memberikan efek yang nyata untuk permainan Chelsea.


</content:encoded></item></channel></rss>
