<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Selain Indonesia, Alfred Riedl Punya Hubungan Emosional dengan Vietnam</title><description>Riedl menerima donor ginjal dari salah seorang warga Vietnam.</description><link>https://bola.okezone.com/read/2020/09/09/51/2274814/selain-indonesia-alfred-riedl-punya-hubungan-emosional-dengan-vietnam</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://bola.okezone.com/read/2020/09/09/51/2274814/selain-indonesia-alfred-riedl-punya-hubungan-emosional-dengan-vietnam"/><item><title>Selain Indonesia, Alfred Riedl Punya Hubungan Emosional dengan Vietnam</title><link>https://bola.okezone.com/read/2020/09/09/51/2274814/selain-indonesia-alfred-riedl-punya-hubungan-emosional-dengan-vietnam</link><guid isPermaLink="false">https://bola.okezone.com/read/2020/09/09/51/2274814/selain-indonesia-alfred-riedl-punya-hubungan-emosional-dengan-vietnam</guid><pubDate>Rabu 09 September 2020 09:47 WIB</pubDate><dc:creator>Andika Pratama</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/09/09/51/2274814/selain-indonesia-alfred-riedl-punya-hubungan-emosional-dengan-vietnam-DAgYv7FISe.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Alfred Riedl (Foto: Okezone/Febby Novalius)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/09/09/51/2274814/selain-indonesia-alfred-riedl-punya-hubungan-emosional-dengan-vietnam-DAgYv7FISe.jpg</image><title>Alfred Riedl (Foto: Okezone/Febby Novalius)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Mantan Pelatih Tim Nasional (Timnas) Indonesia, Alfred Riedl, meninggal dunia akibat kanker di Wina, Austria, pada Selasa 8 September 2020. Sosok yang begitu akrab dengan sepakbola Indonesia itu wafat pada umur 70 tahun.
Riedl tidak hanya akrab dengan sepakbola Indonesia tetapi juga Asia Tenggara. Sebab, pria asal Austria itu pernah melatih Timnas Vietnam, Palestina, dan Laos, selain Indonesia.

Banyak pengalaman yang didapatkan Riedl selama waktunya melatih tim-tim tersebut. Salah satunya bahkan berkaitan dengan nyawa pria asal Austria itu. Pengalaman unik itu terjadi pada 2007 silam ketika Riedl melatih Vietnam.
Semasa melatih The Golden Star &amp;ndash;julukan Vietnam, kesehatan Riedl mulai bermasalah pada 2006. Ia harus melakukan cangkok ginjal agar kesehatannya kembali seperti semula. Riedl waktu itu menyatakan bahwa ia harus menjalani operasi pada awal 2007.
BACA JUGA: Kisah Alfred Riedl Bersama Timnas Indonesia yang Nyaris Juarai Piala AFF 2010
&quot;Sebelum media menulis sesuatu yang bodoh, saya melakukan konferensi pers. Saya bilang ke mereka, saya harus menjalani transplantasi dan berencana melakukannya pada tiga atau empat bulan pertama 2007,&quot; ujar Riedl, melansir dari ESPN FC, Rabu (9/9/2020).
Mendapatkan pendonor ginjal yang tepat tidak mudah dilakukan tetapi jalan Riedl ternyata dimudahkan. Banyak warga Vietnam yang datang menawarkan ginjalnya kepada Riedl. Mereka datang dari berbagai latar belakang untuk menolong Riedl.
Terpilih dua kandidat pendonor dari sekian banyak orang Vietnam yang ingin mendonorkan ginjal untuk Riedl. Riedl dan kedua kandidat itu pun terbang ke Austria untuk melakukan operasi cangkok ginjal. Operasi itu berjalan sukses sehingga Riedl bisa pulih seperti sedia kala.

&quot;Kami kemudian membawa dua kandidat pendonor ke Austria untuk menjalani operasi. Pendonor meninggalkan rumah sakit setelah enam hari, sedangkan saya sembilan hari,&quot; ucapnya.
Orang-orang Vietnam memiliki rasa cinta yang luar biasa kepada Riedl, seperti halnya masyarakat Indonesia. Cinta itu adalah buah dari keberhasilan Riedl membawa Vietnam menjadi runner-up Piala AFF (1998), King's Cup (2006), serta tiga kali meraih medali perak cabang sepakbola SEA Games (1999, 2003, dan 2005).
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Mantan Pelatih Tim Nasional (Timnas) Indonesia, Alfred Riedl, meninggal dunia akibat kanker di Wina, Austria, pada Selasa 8 September 2020. Sosok yang begitu akrab dengan sepakbola Indonesia itu wafat pada umur 70 tahun.
Riedl tidak hanya akrab dengan sepakbola Indonesia tetapi juga Asia Tenggara. Sebab, pria asal Austria itu pernah melatih Timnas Vietnam, Palestina, dan Laos, selain Indonesia.

Banyak pengalaman yang didapatkan Riedl selama waktunya melatih tim-tim tersebut. Salah satunya bahkan berkaitan dengan nyawa pria asal Austria itu. Pengalaman unik itu terjadi pada 2007 silam ketika Riedl melatih Vietnam.
Semasa melatih The Golden Star &amp;ndash;julukan Vietnam, kesehatan Riedl mulai bermasalah pada 2006. Ia harus melakukan cangkok ginjal agar kesehatannya kembali seperti semula. Riedl waktu itu menyatakan bahwa ia harus menjalani operasi pada awal 2007.
BACA JUGA: Kisah Alfred Riedl Bersama Timnas Indonesia yang Nyaris Juarai Piala AFF 2010
&quot;Sebelum media menulis sesuatu yang bodoh, saya melakukan konferensi pers. Saya bilang ke mereka, saya harus menjalani transplantasi dan berencana melakukannya pada tiga atau empat bulan pertama 2007,&quot; ujar Riedl, melansir dari ESPN FC, Rabu (9/9/2020).
Mendapatkan pendonor ginjal yang tepat tidak mudah dilakukan tetapi jalan Riedl ternyata dimudahkan. Banyak warga Vietnam yang datang menawarkan ginjalnya kepada Riedl. Mereka datang dari berbagai latar belakang untuk menolong Riedl.
Terpilih dua kandidat pendonor dari sekian banyak orang Vietnam yang ingin mendonorkan ginjal untuk Riedl. Riedl dan kedua kandidat itu pun terbang ke Austria untuk melakukan operasi cangkok ginjal. Operasi itu berjalan sukses sehingga Riedl bisa pulih seperti sedia kala.

&quot;Kami kemudian membawa dua kandidat pendonor ke Austria untuk menjalani operasi. Pendonor meninggalkan rumah sakit setelah enam hari, sedangkan saya sembilan hari,&quot; ucapnya.
Orang-orang Vietnam memiliki rasa cinta yang luar biasa kepada Riedl, seperti halnya masyarakat Indonesia. Cinta itu adalah buah dari keberhasilan Riedl membawa Vietnam menjadi runner-up Piala AFF (1998), King's Cup (2006), serta tiga kali meraih medali perak cabang sepakbola SEA Games (1999, 2003, dan 2005).
</content:encoded></item></channel></rss>
