<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bung Maruf Berharap Tak Terjadi Kecemburuan Sosial saat Liga Indonesia Dilanjutkan</title><description>Maruf El Rumi berharap tak terjadi kecemburuan sosial saat kompetisi sepakbola Indonesia dilanjutkan kembali.</description><link>https://bola.okezone.com/read/2020/07/23/49/2251079/bung-maruf-berharap-tak-terjadi-kecemburuan-sosial-saat-liga-indonesia-dilanjutkan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://bola.okezone.com/read/2020/07/23/49/2251079/bung-maruf-berharap-tak-terjadi-kecemburuan-sosial-saat-liga-indonesia-dilanjutkan"/><item><title>Bung Maruf Berharap Tak Terjadi Kecemburuan Sosial saat Liga Indonesia Dilanjutkan</title><link>https://bola.okezone.com/read/2020/07/23/49/2251079/bung-maruf-berharap-tak-terjadi-kecemburuan-sosial-saat-liga-indonesia-dilanjutkan</link><guid isPermaLink="false">https://bola.okezone.com/read/2020/07/23/49/2251079/bung-maruf-berharap-tak-terjadi-kecemburuan-sosial-saat-liga-indonesia-dilanjutkan</guid><pubDate>Kamis 23 Juli 2020 18:29 WIB</pubDate><dc:creator>Hendry Kurniawan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/07/23/49/2251079/bung-maruf-berharap-tak-terjadi-kecemburuan-sosial-saat-liga-indonesia-dilanjutkan-GL8aTip3cR.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Arema FC vs Persib Bandung (Foto: Laman resmi Persib)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/07/23/49/2251079/bung-maruf-berharap-tak-terjadi-kecemburuan-sosial-saat-liga-indonesia-dilanjutkan-GL8aTip3cR.jpg</image><title>Arema FC vs Persib Bandung (Foto: Laman resmi Persib)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Kompetisi sepakbola Indonesia rencananya akan digulirkan kembali pada Oktober 2020. Menanggapi situasi ini, komentator sepakbola Indonesia, Maruf El Rumi, berharap agar tidak menimbulkan kecemburuan sosial di kalangan masyarakat.
Untuk menggelar kompetisi sepakbola di masa pandemi Virus Corona (Covid-19) sejatinya bukan perkara mudah. Sebab, klub-klub, para pemain, dan pihak terkait harus melaksanakan protokol kesehatan yang ketat agar tidak terjadi penyebaran Covid-19 selama kompetisi berlangsung.
Salah satu cara yang akan dilakukan untuk menunjang program ini adalah dengan rutin melakukan swab test dan rapid test. Akan tetapi, untuk melakukan tes-tes tersebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Hal inilah yang kemudian menjadi perhatian Maruf El Rumi.
Baca juga: Respons Sekjen PSSI Terkait Tiga Klub Tolak Kelanjutan Liga 1 2020

BNPB memang telah menjanjikan bahwa mereka akan membantu tes tersebut untuk penyelenggaraan kompetisi sepakbola Indonesia. Kendati demikian, hal itu justru dinilai Bung Maruf bisa memunculkan kecemburuan sosial.
Pasalnya, saat ini masih banyak masyarakat yang membutuhkan tes tersebut. Sayangnya, karena harga tes itu terbilang cukup tinggi, maka sebagian besar masyarakat belum bisa melakukannya.
Itulah mengapa jika kemudian para pesepakbola dan orang-orang yang berkaitan dengan pertandingan bisa memperoleh tes tersebut secara gratis, maka kemungkinan akan menimbulkan kecemburuan sosial di masyarakat. Apalagi, para pesepakbola tersebut bukan termasuk dari mereka yang diprioritaskan untuk melakukan tes.

&amp;ldquo;Di Inggris sempat ada pertentangan. Para pemain sepakbola dinilai  tak memiliki empati kepada masyarakat saat masyarakat masih kesulitan  swab test, masih kesulitan melakukan rapid test, namun ada privilage  yang diberikan kepada pesepakbola. Mereka mendapatkan tes yang jumlahnya  ratusan,&amp;rdquo; ujar Bung Maruf, dalam diskusi Okezone Stories bertema 'Masa  Depan Sepakbola Indonesia di New Normal'.
&amp;ldquo;Saya membaca BNPB akan membantu untuk swab test-nya. Sementara itu,  masyarakat untuk melakukan tes, sekali (seharga) Rp250 ribu. Artinya,  masyarakat umum yang membutuhkan tes, itu kan juga tidak mudah, butuh  biaya,&amp;rdquo; lanjutnya.

&amp;ldquo;Sementara, di pertandingan sepakbola yang satu stadion itu ada 170  orang (yang terlibat), itu satu match. Kalau misalnya dalam dua pekan,  mereka harus menjalani berapa kali tes? Apakah hanya satu kali tes  selama kompetisi berlangsung? Atau perbulan? Atau per dua minggu?&amp;rdquo;  sambung Bung Maruf.
&amp;ldquo;Masyarakat kita masih banyak yang susah melakukan swab test.  Bagaimana agar bisa mendapatkan tes itu secara free. Tapi di sisi lain,  ada pesepakbola yang jumlahnya ratusan, yang tidak dalam masa prioritas,  tapi malah mendapatkan bantuan. Itu terjadi di Inggris juga. Bukan  hanya di Indonesia,&amp;rdquo; tandasnya.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Kompetisi sepakbola Indonesia rencananya akan digulirkan kembali pada Oktober 2020. Menanggapi situasi ini, komentator sepakbola Indonesia, Maruf El Rumi, berharap agar tidak menimbulkan kecemburuan sosial di kalangan masyarakat.
Untuk menggelar kompetisi sepakbola di masa pandemi Virus Corona (Covid-19) sejatinya bukan perkara mudah. Sebab, klub-klub, para pemain, dan pihak terkait harus melaksanakan protokol kesehatan yang ketat agar tidak terjadi penyebaran Covid-19 selama kompetisi berlangsung.
Salah satu cara yang akan dilakukan untuk menunjang program ini adalah dengan rutin melakukan swab test dan rapid test. Akan tetapi, untuk melakukan tes-tes tersebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Hal inilah yang kemudian menjadi perhatian Maruf El Rumi.
Baca juga: Respons Sekjen PSSI Terkait Tiga Klub Tolak Kelanjutan Liga 1 2020

BNPB memang telah menjanjikan bahwa mereka akan membantu tes tersebut untuk penyelenggaraan kompetisi sepakbola Indonesia. Kendati demikian, hal itu justru dinilai Bung Maruf bisa memunculkan kecemburuan sosial.
Pasalnya, saat ini masih banyak masyarakat yang membutuhkan tes tersebut. Sayangnya, karena harga tes itu terbilang cukup tinggi, maka sebagian besar masyarakat belum bisa melakukannya.
Itulah mengapa jika kemudian para pesepakbola dan orang-orang yang berkaitan dengan pertandingan bisa memperoleh tes tersebut secara gratis, maka kemungkinan akan menimbulkan kecemburuan sosial di masyarakat. Apalagi, para pesepakbola tersebut bukan termasuk dari mereka yang diprioritaskan untuk melakukan tes.

&amp;ldquo;Di Inggris sempat ada pertentangan. Para pemain sepakbola dinilai  tak memiliki empati kepada masyarakat saat masyarakat masih kesulitan  swab test, masih kesulitan melakukan rapid test, namun ada privilage  yang diberikan kepada pesepakbola. Mereka mendapatkan tes yang jumlahnya  ratusan,&amp;rdquo; ujar Bung Maruf, dalam diskusi Okezone Stories bertema 'Masa  Depan Sepakbola Indonesia di New Normal'.
&amp;ldquo;Saya membaca BNPB akan membantu untuk swab test-nya. Sementara itu,  masyarakat untuk melakukan tes, sekali (seharga) Rp250 ribu. Artinya,  masyarakat umum yang membutuhkan tes, itu kan juga tidak mudah, butuh  biaya,&amp;rdquo; lanjutnya.

&amp;ldquo;Sementara, di pertandingan sepakbola yang satu stadion itu ada 170  orang (yang terlibat), itu satu match. Kalau misalnya dalam dua pekan,  mereka harus menjalani berapa kali tes? Apakah hanya satu kali tes  selama kompetisi berlangsung? Atau perbulan? Atau per dua minggu?&amp;rdquo;  sambung Bung Maruf.
&amp;ldquo;Masyarakat kita masih banyak yang susah melakukan swab test.  Bagaimana agar bisa mendapatkan tes itu secara free. Tapi di sisi lain,  ada pesepakbola yang jumlahnya ratusan, yang tidak dalam masa prioritas,  tapi malah mendapatkan bantuan. Itu terjadi di Inggris juga. Bukan  hanya di Indonesia,&amp;rdquo; tandasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
