<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Potensi Kebangkitan Manchester United di Liga Inggris 2019-2020</title><description>Man United mencoba bangkit di musim 2019-2020 setelah hancur lebur musim lalu.</description><link>https://bola.okezone.com/read/2019/08/07/45/2088866/potensi-kebangkitan-manchester-united-di-liga-inggris-2019-2020</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://bola.okezone.com/read/2019/08/07/45/2088866/potensi-kebangkitan-manchester-united-di-liga-inggris-2019-2020"/><item><title>Potensi Kebangkitan Manchester United di Liga Inggris 2019-2020</title><link>https://bola.okezone.com/read/2019/08/07/45/2088866/potensi-kebangkitan-manchester-united-di-liga-inggris-2019-2020</link><guid isPermaLink="false">https://bola.okezone.com/read/2019/08/07/45/2088866/potensi-kebangkitan-manchester-united-di-liga-inggris-2019-2020</guid><pubDate>Rabu 07 Agustus 2019 13:59 WIB</pubDate><dc:creator>Wikanto Arungbudoyo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/08/07/45/2088866/potensi-kebangkitan-manchester-united-di-liga-inggris-2019-2020-BBDBBoiwPW.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Man United siap bangkit musim ini. (Foto: @juanmata8)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/08/07/45/2088866/potensi-kebangkitan-manchester-united-di-liga-inggris-2019-2020-BBDBBoiwPW.jpg</image><title>Man United siap bangkit musim ini. (Foto: @juanmata8)</title></images><description>SAPU bersih enam kemenangan (satu lewat adu penalti) dari enam laga pramusim memunculkan harapan baru untuk segenap pendukung Manchester United. Walau hanya berstatus laga-laga uji coba, setidaknya momentum positif sudah dibangun.
Momentum positif tersebut amat dibutuhkan oleh skuad Man United untuk mengembalikan harkat dan martabat sebagai salah satu tim besar di Inggris. Betapa tidak, Setan Merah pada musim 2018-2019 hancur lebur jika tidak mau dikatakan terpuruk.

(Man United hancur lebur di musim 2018-2019)
Finis di peringkat enam, gagal masuk Liga Champions, dan nihil trofi tentu adalah sebuah aib untuk penguasa Liga Inggris pada dekade 1990 dan awal 2000 tersebut. Capaian musim lalu nyaris menyamai rekor buruk pada musim 2013-2014, bedanya, Man United finis setingkat lebih baik.
BACA JUGA: Gaet Maguire yang Berkepala Besar, Man United Rusak Aturan Klub
Resurrection atau kebangkitan dari kematian kecil menjadi misi utama yang diusung, tidak hanya oleh Marcus Rashford dan kawan-kawan, tetapi juga sang manajer, Ole Gunnar Solskjaer. Pria berkebangsaan Norwegia itu diharapkan sekali lagi menjadi supersub seperti saat bermain dulu.Pembunuh Berwajah Bayi

Pada akhir musim lalu, Ole Gunnar Solskjaer mengeluhkan anak asuhnya tidak mampu menjalankan instruksi untuk bermain menekan. Sebab, gaya permainan yang dibawanya berbeda dengan sang pendahulu, Jose Mourinho, yang cenderung pragmatis.
Menilik data statistik, distance covered atau jarak tempuh pemain Man United musim lalu hanya 4.098,78 kilometer (km) atau terburuk ketiga di liga. Mereka terpaut nyaris 300 km dengan Arsenal yang ada di puncak. Tentu jarak tempuh ada kaitannya dengan kebugaran fisik pemain.
Kebugaran skuad memang menjadi sorotan utama Ole Gunnar Solskjaer akhir musim lalu. Ia berjanji untuk memperbaiki kebugaran fisik anak buahnya selama masa pramusim agar siap berlari lebih banyak dan bermain dalam intensitas tinggi.
&amp;ldquo;Kalau Anda ingin bermain di klub ini, Anda harus memberi sesuatu yang lebih. Saya ingin para pemain menjadi tim paling bekerja keras di liga. Bakat yang Anda miliki harus diiringi dengan kerja keras seperti berlari naik turun demi rekan setim dan bersatu sebagai tim,&amp;rdquo; ujar Ole Gunnar Solskjaer kelar Man United dipermalukan Everton 0-4 pada April 2019.
Pernyataan tersebut semakin menunjukkan sisi kejam dari wajah imut pria berusia 46 tahun itu yang mulai menua. Solskjaer memang dijuluki sebagai pembunuh berwajah bayi semasa aktif bermain karena ketajamannya di lini serang Man United.Kuncinya di Transfer

Jelang akhir musim 2018-2019, Ole Gunnar Solskjaer berucap akan mendatangkan paling tidak 5-6 pemain di bursa transfer musim panas. Nyatanya, hanya tiga penggawa yang direkrut, itu pun melalui drama-drama tersendiri.
Daniel James menjadi rekrutan pertama, disusul Aaron Wan-Bissaka dan Harry Maguire. Dua dari tiga personel baru itu didatangkan untuk memperkuat lini belakang yang keropos musim lalu. David de Gea bahkan harus memungut bola sebanyak 54 kali musim lalu, itu hanya menghitung Liga Inggris.
Wan-Bissaka dan Maguire tentu harus membuktikan kepantasan direkrut dengan harga mahal, sedangkan James diproyeksikan untuk jangka panjang. Sepintas, transfer ketiga pemain itu cukup untuk Man United, tetapi belum memperbaiki kelemahan lainnya.
Penggemar-penggemar Man United di Inggris sana kerap berisik di media sosial, utamanya Twitter, dan mendesak klub merekrut setidaknya satu gelandang tengah serta striker. Kreativitas serta produktivitas lini tengah dan depan memang patut ditingkatkan untuk menyaingi dua tetangga, Manchester City dan Liverpool.
Man United musim lalu hanya mencetak 65 gol di Liga Inggris. Dari tim penghuni enam besar, produktivitas mereka hanya lebih bagus dua gol dibandingkan Chelsea. Kehadiran gelandang produktif sangat vital untuk menggaransi gol dari lini kedua demi mengurangi beban Paul Pogba.Sinar Anak-Anak Muda

(McTominay saat berduel dengan Busquets)
Andai Man United tidak mendatangkan satu atau dua pemain lagi di lini tengah dan depan, maka sudah sepantasnya Ole Gunnar Solskjaer memanfaatkan pemain-pemain muda lulusan akademi. Di lini tengah, mereka bisa memberikan jam terbang lebih banyak untuk Scott McTominay dan Andreas Pereira.
McTominay dipuji karena sikap profesional dan kerendahan hatinya. Pemain berpaspor Skotlandia itu musim lalu juga mampu mengemas dua gol di liga. Sementara Andreas Pereira, sudah siap untuk setidaknya menjadi pelapis Paul Pogba untuk menambah kreativitas di lini tengah.
Untuk lini belakang, Man United punya bek tengah muda dalam diri Axel Tuanzebe. Pemain asli didikan akademi itu sanggup mengantar Aston Villa promosi ke kasta teratas Liga Inggris saat dipinjamkan musim lalu. Kehadirannya cukup untuk melapis duet Victor Lindelof dan Harry Maguire jika tidak kembali disekolahkan ke klub lain.
Berbicara soal pramusim dan pemain akademi Man United, tentu tidak bisa dilepaskan dari Mason Greenwood. Remaja asli Mancunian (orang Manchester) itu mencetak dua gol dari enam laga pramusim. Ketajamannya tentu bisa diandalkan ketika Marcus Rashford yang kemungkinan menjadi striker utama, perlu mendapat istirahat.Bidik Trofi Minor

Ole Gunnar Solskjaer sadar betul timnya masih butuh banyak perbaikan. Langsung bertarung untuk gelar juara Liga Inggris 2019-2020 rasanya cukup berat mengingat Man City masih terlalu kuat. Ia memilih bersikap realistis terkait peluang menyabet trofi untuk mengakhiri puasa.
&amp;ldquo;Kami punya Liga Eropa, Piala FA, dan Piala Liga Inggris yang bisa dikejar karena Man United tidak boleh menjalani tahun-tahun tanpa gelar,&amp;rdquo; ucap Ole Gunnar Solskjaer medio Mei 2019.
Sembari membidik posisi empat besar untuk menggaransi tempat di Liga Champions, tiga kompetisi itu bisa dimanfaatkan sebagai pemanasan meraih trofi. Kebetulan, Man United belum terlalu lama merasakan nikmatnya mengangkat trofi Piala FA, Piala Liga Inggris, dan Liga Eropa.
Namun, Ole Gunnar Solskjaer patut waspada. Jadwal Liga Eropa dan Liga Inggris sering berselisih hanya tiga hari saja (Kamis malam ke Minggu). Jika tidak pintar-pintar melakukan rotasi, yang ada penggawa Man United akan berguguran.
Pengalaman Jose Mourinho tiga musim lalu bisa dijadikan acuan. Si Spesial mulai mengalihkan fokus ke Liga Eropa 2016-2017 ketika misi masuk empat besar di liga mulai menjauh. Apalagi, gelar juara Liga Eropa juga menjadi tiket masuk ke kompetisi terakbar, yakni Liga Champions.
Solskjaer mungkin bisa mengandalkan pemain senior sarat pengalaman di kompetisi utama, Liga Inggris. Pemain semodel Paul Pogba, David de Gea, Marcus Rashford, dan Anthony Martial dibutuhkan untuk kompetisi tersebut. Sementara di Piala FA dan Piala Liga, ia bisa menurunkan pemain-pemain muda dipadukan personel seperti Phil Jones dan Chris Smalling sebagai pendamping.
Prakiraan starting line-up Man United untuk musim 2019-2020 (4-2-3-1)
David de Gea; Aaron Wan-Bissaka, Victor Lindelof, Harry Maguire, Luke Shaw; Nemanja Matic, Paul Pogba; Daniel James, Jesse Lingard, Marcus Rashford; Anthony Martial
Manajer: Ole Gunnar Solskjaer
Stadion: Old Trafford
Kapasitas: 76.000</description><content:encoded>SAPU bersih enam kemenangan (satu lewat adu penalti) dari enam laga pramusim memunculkan harapan baru untuk segenap pendukung Manchester United. Walau hanya berstatus laga-laga uji coba, setidaknya momentum positif sudah dibangun.
Momentum positif tersebut amat dibutuhkan oleh skuad Man United untuk mengembalikan harkat dan martabat sebagai salah satu tim besar di Inggris. Betapa tidak, Setan Merah pada musim 2018-2019 hancur lebur jika tidak mau dikatakan terpuruk.

(Man United hancur lebur di musim 2018-2019)
Finis di peringkat enam, gagal masuk Liga Champions, dan nihil trofi tentu adalah sebuah aib untuk penguasa Liga Inggris pada dekade 1990 dan awal 2000 tersebut. Capaian musim lalu nyaris menyamai rekor buruk pada musim 2013-2014, bedanya, Man United finis setingkat lebih baik.
BACA JUGA: Gaet Maguire yang Berkepala Besar, Man United Rusak Aturan Klub
Resurrection atau kebangkitan dari kematian kecil menjadi misi utama yang diusung, tidak hanya oleh Marcus Rashford dan kawan-kawan, tetapi juga sang manajer, Ole Gunnar Solskjaer. Pria berkebangsaan Norwegia itu diharapkan sekali lagi menjadi supersub seperti saat bermain dulu.Pembunuh Berwajah Bayi

Pada akhir musim lalu, Ole Gunnar Solskjaer mengeluhkan anak asuhnya tidak mampu menjalankan instruksi untuk bermain menekan. Sebab, gaya permainan yang dibawanya berbeda dengan sang pendahulu, Jose Mourinho, yang cenderung pragmatis.
Menilik data statistik, distance covered atau jarak tempuh pemain Man United musim lalu hanya 4.098,78 kilometer (km) atau terburuk ketiga di liga. Mereka terpaut nyaris 300 km dengan Arsenal yang ada di puncak. Tentu jarak tempuh ada kaitannya dengan kebugaran fisik pemain.
Kebugaran skuad memang menjadi sorotan utama Ole Gunnar Solskjaer akhir musim lalu. Ia berjanji untuk memperbaiki kebugaran fisik anak buahnya selama masa pramusim agar siap berlari lebih banyak dan bermain dalam intensitas tinggi.
&amp;ldquo;Kalau Anda ingin bermain di klub ini, Anda harus memberi sesuatu yang lebih. Saya ingin para pemain menjadi tim paling bekerja keras di liga. Bakat yang Anda miliki harus diiringi dengan kerja keras seperti berlari naik turun demi rekan setim dan bersatu sebagai tim,&amp;rdquo; ujar Ole Gunnar Solskjaer kelar Man United dipermalukan Everton 0-4 pada April 2019.
Pernyataan tersebut semakin menunjukkan sisi kejam dari wajah imut pria berusia 46 tahun itu yang mulai menua. Solskjaer memang dijuluki sebagai pembunuh berwajah bayi semasa aktif bermain karena ketajamannya di lini serang Man United.Kuncinya di Transfer

Jelang akhir musim 2018-2019, Ole Gunnar Solskjaer berucap akan mendatangkan paling tidak 5-6 pemain di bursa transfer musim panas. Nyatanya, hanya tiga penggawa yang direkrut, itu pun melalui drama-drama tersendiri.
Daniel James menjadi rekrutan pertama, disusul Aaron Wan-Bissaka dan Harry Maguire. Dua dari tiga personel baru itu didatangkan untuk memperkuat lini belakang yang keropos musim lalu. David de Gea bahkan harus memungut bola sebanyak 54 kali musim lalu, itu hanya menghitung Liga Inggris.
Wan-Bissaka dan Maguire tentu harus membuktikan kepantasan direkrut dengan harga mahal, sedangkan James diproyeksikan untuk jangka panjang. Sepintas, transfer ketiga pemain itu cukup untuk Man United, tetapi belum memperbaiki kelemahan lainnya.
Penggemar-penggemar Man United di Inggris sana kerap berisik di media sosial, utamanya Twitter, dan mendesak klub merekrut setidaknya satu gelandang tengah serta striker. Kreativitas serta produktivitas lini tengah dan depan memang patut ditingkatkan untuk menyaingi dua tetangga, Manchester City dan Liverpool.
Man United musim lalu hanya mencetak 65 gol di Liga Inggris. Dari tim penghuni enam besar, produktivitas mereka hanya lebih bagus dua gol dibandingkan Chelsea. Kehadiran gelandang produktif sangat vital untuk menggaransi gol dari lini kedua demi mengurangi beban Paul Pogba.Sinar Anak-Anak Muda

(McTominay saat berduel dengan Busquets)
Andai Man United tidak mendatangkan satu atau dua pemain lagi di lini tengah dan depan, maka sudah sepantasnya Ole Gunnar Solskjaer memanfaatkan pemain-pemain muda lulusan akademi. Di lini tengah, mereka bisa memberikan jam terbang lebih banyak untuk Scott McTominay dan Andreas Pereira.
McTominay dipuji karena sikap profesional dan kerendahan hatinya. Pemain berpaspor Skotlandia itu musim lalu juga mampu mengemas dua gol di liga. Sementara Andreas Pereira, sudah siap untuk setidaknya menjadi pelapis Paul Pogba untuk menambah kreativitas di lini tengah.
Untuk lini belakang, Man United punya bek tengah muda dalam diri Axel Tuanzebe. Pemain asli didikan akademi itu sanggup mengantar Aston Villa promosi ke kasta teratas Liga Inggris saat dipinjamkan musim lalu. Kehadirannya cukup untuk melapis duet Victor Lindelof dan Harry Maguire jika tidak kembali disekolahkan ke klub lain.
Berbicara soal pramusim dan pemain akademi Man United, tentu tidak bisa dilepaskan dari Mason Greenwood. Remaja asli Mancunian (orang Manchester) itu mencetak dua gol dari enam laga pramusim. Ketajamannya tentu bisa diandalkan ketika Marcus Rashford yang kemungkinan menjadi striker utama, perlu mendapat istirahat.Bidik Trofi Minor

Ole Gunnar Solskjaer sadar betul timnya masih butuh banyak perbaikan. Langsung bertarung untuk gelar juara Liga Inggris 2019-2020 rasanya cukup berat mengingat Man City masih terlalu kuat. Ia memilih bersikap realistis terkait peluang menyabet trofi untuk mengakhiri puasa.
&amp;ldquo;Kami punya Liga Eropa, Piala FA, dan Piala Liga Inggris yang bisa dikejar karena Man United tidak boleh menjalani tahun-tahun tanpa gelar,&amp;rdquo; ucap Ole Gunnar Solskjaer medio Mei 2019.
Sembari membidik posisi empat besar untuk menggaransi tempat di Liga Champions, tiga kompetisi itu bisa dimanfaatkan sebagai pemanasan meraih trofi. Kebetulan, Man United belum terlalu lama merasakan nikmatnya mengangkat trofi Piala FA, Piala Liga Inggris, dan Liga Eropa.
Namun, Ole Gunnar Solskjaer patut waspada. Jadwal Liga Eropa dan Liga Inggris sering berselisih hanya tiga hari saja (Kamis malam ke Minggu). Jika tidak pintar-pintar melakukan rotasi, yang ada penggawa Man United akan berguguran.
Pengalaman Jose Mourinho tiga musim lalu bisa dijadikan acuan. Si Spesial mulai mengalihkan fokus ke Liga Eropa 2016-2017 ketika misi masuk empat besar di liga mulai menjauh. Apalagi, gelar juara Liga Eropa juga menjadi tiket masuk ke kompetisi terakbar, yakni Liga Champions.
Solskjaer mungkin bisa mengandalkan pemain senior sarat pengalaman di kompetisi utama, Liga Inggris. Pemain semodel Paul Pogba, David de Gea, Marcus Rashford, dan Anthony Martial dibutuhkan untuk kompetisi tersebut. Sementara di Piala FA dan Piala Liga, ia bisa menurunkan pemain-pemain muda dipadukan personel seperti Phil Jones dan Chris Smalling sebagai pendamping.
Prakiraan starting line-up Man United untuk musim 2019-2020 (4-2-3-1)
David de Gea; Aaron Wan-Bissaka, Victor Lindelof, Harry Maguire, Luke Shaw; Nemanja Matic, Paul Pogba; Daniel James, Jesse Lingard, Marcus Rashford; Anthony Martial
Manajer: Ole Gunnar Solskjaer
Stadion: Old Trafford
Kapasitas: 76.000</content:encoded></item></channel></rss>
