<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>5 Chant yang Paling Tidak Respek dalam Sejarah Sepakbola</title><description>Berikut adalah lima chant yang paling tidak memiliki respek dalam sejarah sepakbola.</description><link>https://bola.okezone.com/read/2018/03/29/51/1879845/5-chant-yang-paling-tidak-respek-dalam-sejarah-sepakbola</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://bola.okezone.com/read/2018/03/29/51/1879845/5-chant-yang-paling-tidak-respek-dalam-sejarah-sepakbola"/><item><title>5 Chant yang Paling Tidak Respek dalam Sejarah Sepakbola</title><link>https://bola.okezone.com/read/2018/03/29/51/1879845/5-chant-yang-paling-tidak-respek-dalam-sejarah-sepakbola</link><guid isPermaLink="false">https://bola.okezone.com/read/2018/03/29/51/1879845/5-chant-yang-paling-tidak-respek-dalam-sejarah-sepakbola</guid><pubDate>Kamis 29 Maret 2018 19:47 WIB</pubDate><dc:creator>Hendry Kurniawan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/03/29/51/1879845/5-chant-yang-paling-tidak-respek-dalam-sejarah-sepakbola-i9Yv6yIFHh.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Suporter Liverpool (Foto: AFP)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/03/29/51/1879845/5-chant-yang-paling-tidak-respek-dalam-sejarah-sepakbola-i9Yv6yIFHh.jpg</image><title>Suporter Liverpool (Foto: AFP)</title></images><description>DALAM dunia sepakbola, sorakan, lagu, atau chant merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan. Pasalnya, masing-masing pendukung kesebelesan biasanya menciptakan lagu atau chant yang umumnya berfungsi untuk meningkatkan mental bertanding para pemain agar bermain penuh semangat.
Namun begitu, sepakbola juga tak pernah bisa dipisahkan dari yang namanya rivalitas. Maka dari itu, para pendukung kesebelasan biasanya juga menciptakan lagu atau chant yang digunakan untuk mengintimidasi para pemain lawan atau memberikan tekanan.
Kendati demikian, tidak melulu chant yang disuarakan hanya berkutat pada sepakbola. Terkadang terdapat pula chant yang menyinggul soal masalah politik, agama, bahkan tragedi di masa lalu, yang dianggap tidak etik atau tidak memiliki rasa hormat.
Berikut adalah lima chant yang paling tidak memiliki respek dalam sejarah sepakbola.
5. Fans Timnas Inggris Menyindir Masyarakat Jerman
Rivalitas yang terjadi antara Timnas Inggris dengan Timnas Jerman merupakan salah satu yang terbesar yang pernah ada dalam sejarah sepakbola. Meski demikian, para pemain dari kedua kesebelasan nyatanya saling menaruh rasa hormat satu sama lain dan menjunjung sportivitas.
Kendati begitu, hal tersebut nyatanya tak berlaku bagi fans mereka, utamanya para pendukung Timnas Inggris. Pasalnya, setiap kali Timnas Inggris bertanding melawan Jerman, fans The Three Lions selalu menyanyikan chant &amp;lsquo;Two World Wars and one World Cup!.&amp;rsquo; Chant tersebut merupakan sindiran yang diberikan masyarakat Inggris kepada orang-orang Jerman yang dituduhnya menjadi biang terciptanya Perang Dunia II.
4. Nyanyian Anti-Semit Menentang Tottenham Hotspur
Pada awalnya, basis penggemar Tottenham Hotspur memiliki kontingen  masyarakat Yahudi yang besar. Hal tersebut terjadi lantaran banyaknya  masyarakat Yahudi yang melakukan migrasi dan menetap di London Utara.  Meskipun kini penggemar Spurs telah menjadi lebih umum, di mana bahkan  bukan orang Yahudi yang justru mendominasi, namun sindiran tetap datang  dari para penggamar klub-klub London lainnya, seperti Chelsea, West Ham  United, dan Arsenal.
Para fans tersebut menyanyikan lagu anti-semit yang mencela  orang-orang Yahudi karena ketidaksukaan mereka. Bahkan, banyak di  antaranya yang menyinggung soal Holocaust, yakni pembunuhan masal yang  dilakukan oleh Adolf Hitler untuk memberantas orang-orang Yahudi.  Sebagian lirik yang kerap menjadi cercaan telak adalah ketika mereka  menyebutkan &amp;lsquo;Hitler&amp;rsquo;s coming for you!&amp;rsquo;
3. The Dambusters Digunakan untuk Meledek Manchester United
Pada tahun 1958 terjadi peristiwa yang sangat menggemparkan dunia   sepakbola. Pasalnya, pesawat yang ditumpangi oleh para pemain Manchester   United mengalami kecelakaan setelah mereka melakoni pertandingan   melawan Red Star Belgrade dalam kompetisi Eropa. Dalam tragedi tersebut,   delapan pemain Man United meninggal dunia, termasuk di antaranya  Duncan  Edwards yang legendaris.
Hal tersebut, daripada mengungdang simpati, nyatanya justru menjadi   olok-olokan bagi para fans Liverpool dan Leeds United, yang merupakan   rival berat Man United. Para fans Liverpool dan Leeds kerap menyanyikan   lagu yang menjadi soundtrack film The Dambusters untuk menyindir Man United terkait kecelakaan tersebut. Pasalnya, baik film The Dambusters dan kecelakaan tersebut sama-sama terjadi di Munich.
2. Fans Man United Menyindir Liverpool dengan Tragedi Hillsborough
Apabila fans Liverpool menyindir Manchester United dengan The Dumbusters,    maka para fans Man United balas menyindir Liverpool dengan tragedy    Hillsborough. Sekadar diketahui, tragedy Hillsborough merupakan salah    satu tragedy terbesar yang terjadi dalam sepakbola Inggris.
Tragedi tersebut terjadi pada 15 April 1989 dan melibatkan    meninggalnya 96 orang fans Liverpool. Mereka meninggal lantaran    berdesakan mencoba masuk ke dalam stadion. Saat itu adalah pertandingan    semifinal Piala FA yang mempertemukan Liverpool dengan Nottingham    Forest. Pada awalnya, banyak yang menilai kalau fans Liverpool merupakan    yang bersalah karena mereka yang berdesakan.
Tak terima dengan tuduhan tersebut, fans Liverpool pun    menyuarakan bahwa justru merekalah yang menjadi korban. Hal tersebut    nyatanya benar karena setelah diselidiki, kesalahan justru dibuat oleh    pihak polisi yang bertugas karena lalai dan juga tempat penyelenggara    pertandingan tersebut.
Terinspirasi dari traged tersebut, fans Man United pun menciptakan lagu yang berbunyi &amp;lsquo;always the victim, never your fault,&amp;rsquo;    yang bertujuan mengejek para fans Liverpool yang tak mau disalahkan    atas tragedi tersebut dan merasa kalau diri mereka justru adalah  korban.
1. Masyarakat Inggris menyanyikan chant soal Tentara Republik Irlandia (IRA)
Tidak bisa dimungkiri bahwa dalam Perang Dunia II, sebagian besar     negara saling berperang satu sama lain. Negara-negara tersebut saling     membuat blok dan mencoba saling menjatuhkan. Namun sayangnya, peristiwa     di masa lalu tersebut nyatanya masih kerap terbawa ke era ekarang  ini.
Para pendukung Timnas Inggris kerap menyanyikan lagu yang menyindir Tentara Republik Irlandia (IRA) kala tim berjuluk The Three Lions itu memainkan pertandingan melawan tim mana pun. Chant tersebut diadaptasi dari himne &amp;lsquo;Give Me Joy In My Heart&amp;rsquo; dengan mengganti liriknya menjadi &amp;lsquo;Keep St. George in my heart, keep me English. No surrender to the IRA.&amp;rsquo;</description><content:encoded>DALAM dunia sepakbola, sorakan, lagu, atau chant merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan. Pasalnya, masing-masing pendukung kesebelesan biasanya menciptakan lagu atau chant yang umumnya berfungsi untuk meningkatkan mental bertanding para pemain agar bermain penuh semangat.
Namun begitu, sepakbola juga tak pernah bisa dipisahkan dari yang namanya rivalitas. Maka dari itu, para pendukung kesebelasan biasanya juga menciptakan lagu atau chant yang digunakan untuk mengintimidasi para pemain lawan atau memberikan tekanan.
Kendati demikian, tidak melulu chant yang disuarakan hanya berkutat pada sepakbola. Terkadang terdapat pula chant yang menyinggul soal masalah politik, agama, bahkan tragedi di masa lalu, yang dianggap tidak etik atau tidak memiliki rasa hormat.
Berikut adalah lima chant yang paling tidak memiliki respek dalam sejarah sepakbola.
5. Fans Timnas Inggris Menyindir Masyarakat Jerman
Rivalitas yang terjadi antara Timnas Inggris dengan Timnas Jerman merupakan salah satu yang terbesar yang pernah ada dalam sejarah sepakbola. Meski demikian, para pemain dari kedua kesebelasan nyatanya saling menaruh rasa hormat satu sama lain dan menjunjung sportivitas.
Kendati begitu, hal tersebut nyatanya tak berlaku bagi fans mereka, utamanya para pendukung Timnas Inggris. Pasalnya, setiap kali Timnas Inggris bertanding melawan Jerman, fans The Three Lions selalu menyanyikan chant &amp;lsquo;Two World Wars and one World Cup!.&amp;rsquo; Chant tersebut merupakan sindiran yang diberikan masyarakat Inggris kepada orang-orang Jerman yang dituduhnya menjadi biang terciptanya Perang Dunia II.
4. Nyanyian Anti-Semit Menentang Tottenham Hotspur
Pada awalnya, basis penggemar Tottenham Hotspur memiliki kontingen  masyarakat Yahudi yang besar. Hal tersebut terjadi lantaran banyaknya  masyarakat Yahudi yang melakukan migrasi dan menetap di London Utara.  Meskipun kini penggemar Spurs telah menjadi lebih umum, di mana bahkan  bukan orang Yahudi yang justru mendominasi, namun sindiran tetap datang  dari para penggamar klub-klub London lainnya, seperti Chelsea, West Ham  United, dan Arsenal.
Para fans tersebut menyanyikan lagu anti-semit yang mencela  orang-orang Yahudi karena ketidaksukaan mereka. Bahkan, banyak di  antaranya yang menyinggung soal Holocaust, yakni pembunuhan masal yang  dilakukan oleh Adolf Hitler untuk memberantas orang-orang Yahudi.  Sebagian lirik yang kerap menjadi cercaan telak adalah ketika mereka  menyebutkan &amp;lsquo;Hitler&amp;rsquo;s coming for you!&amp;rsquo;
3. The Dambusters Digunakan untuk Meledek Manchester United
Pada tahun 1958 terjadi peristiwa yang sangat menggemparkan dunia   sepakbola. Pasalnya, pesawat yang ditumpangi oleh para pemain Manchester   United mengalami kecelakaan setelah mereka melakoni pertandingan   melawan Red Star Belgrade dalam kompetisi Eropa. Dalam tragedi tersebut,   delapan pemain Man United meninggal dunia, termasuk di antaranya  Duncan  Edwards yang legendaris.
Hal tersebut, daripada mengungdang simpati, nyatanya justru menjadi   olok-olokan bagi para fans Liverpool dan Leeds United, yang merupakan   rival berat Man United. Para fans Liverpool dan Leeds kerap menyanyikan   lagu yang menjadi soundtrack film The Dambusters untuk menyindir Man United terkait kecelakaan tersebut. Pasalnya, baik film The Dambusters dan kecelakaan tersebut sama-sama terjadi di Munich.
2. Fans Man United Menyindir Liverpool dengan Tragedi Hillsborough
Apabila fans Liverpool menyindir Manchester United dengan The Dumbusters,    maka para fans Man United balas menyindir Liverpool dengan tragedy    Hillsborough. Sekadar diketahui, tragedy Hillsborough merupakan salah    satu tragedy terbesar yang terjadi dalam sepakbola Inggris.
Tragedi tersebut terjadi pada 15 April 1989 dan melibatkan    meninggalnya 96 orang fans Liverpool. Mereka meninggal lantaran    berdesakan mencoba masuk ke dalam stadion. Saat itu adalah pertandingan    semifinal Piala FA yang mempertemukan Liverpool dengan Nottingham    Forest. Pada awalnya, banyak yang menilai kalau fans Liverpool merupakan    yang bersalah karena mereka yang berdesakan.
Tak terima dengan tuduhan tersebut, fans Liverpool pun    menyuarakan bahwa justru merekalah yang menjadi korban. Hal tersebut    nyatanya benar karena setelah diselidiki, kesalahan justru dibuat oleh    pihak polisi yang bertugas karena lalai dan juga tempat penyelenggara    pertandingan tersebut.
Terinspirasi dari traged tersebut, fans Man United pun menciptakan lagu yang berbunyi &amp;lsquo;always the victim, never your fault,&amp;rsquo;    yang bertujuan mengejek para fans Liverpool yang tak mau disalahkan    atas tragedi tersebut dan merasa kalau diri mereka justru adalah  korban.
1. Masyarakat Inggris menyanyikan chant soal Tentara Republik Irlandia (IRA)
Tidak bisa dimungkiri bahwa dalam Perang Dunia II, sebagian besar     negara saling berperang satu sama lain. Negara-negara tersebut saling     membuat blok dan mencoba saling menjatuhkan. Namun sayangnya, peristiwa     di masa lalu tersebut nyatanya masih kerap terbawa ke era ekarang  ini.
Para pendukung Timnas Inggris kerap menyanyikan lagu yang menyindir Tentara Republik Irlandia (IRA) kala tim berjuluk The Three Lions itu memainkan pertandingan melawan tim mana pun. Chant tersebut diadaptasi dari himne &amp;lsquo;Give Me Joy In My Heart&amp;rsquo; dengan mengganti liriknya menjadi &amp;lsquo;Keep St. George in my heart, keep me English. No surrender to the IRA.&amp;rsquo;</content:encoded></item></channel></rss>
