<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>EKSKLUSIF: Egy Maulana Vikri Bicara Karier, Pemain Favorit hingga Hal Berkesan Selama Jadi Pesepakbola</title><description>EGY Maulana Vikri yang memesona bareng Timnas Indonesia U-19 di Piala AFF U-18 2017 menarik perhatian pencinta sepakbola Tanah Air.</description><link>https://bola.okezone.com/read/2017/09/27/51/1784088/eksklusif-egy-maulana-vikri-bicara-karier-pemain-favorit-hingga-hal-berkesan-selama-jadi-pesepakbola</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://bola.okezone.com/read/2017/09/27/51/1784088/eksklusif-egy-maulana-vikri-bicara-karier-pemain-favorit-hingga-hal-berkesan-selama-jadi-pesepakbola"/><item><title>EKSKLUSIF: Egy Maulana Vikri Bicara Karier, Pemain Favorit hingga Hal Berkesan Selama Jadi Pesepakbola</title><link>https://bola.okezone.com/read/2017/09/27/51/1784088/eksklusif-egy-maulana-vikri-bicara-karier-pemain-favorit-hingga-hal-berkesan-selama-jadi-pesepakbola</link><guid isPermaLink="false">https://bola.okezone.com/read/2017/09/27/51/1784088/eksklusif-egy-maulana-vikri-bicara-karier-pemain-favorit-hingga-hal-berkesan-selama-jadi-pesepakbola</guid><pubDate>Rabu 27 September 2017 20:00 WIB</pubDate><dc:creator>Ramdani Bur</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/09/27/51/1784088/eksklusif-egy-maulana-vikri-bicara-karier-pemain-favorit-hingga-hal-berkesan-selama-jadi-pesepakbola-lnnTNUdcMQ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Egy Maulana Vikri menatap kompetisi Eropa. (Foto: Heru Haryono/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/09/27/51/1784088/eksklusif-egy-maulana-vikri-bicara-karier-pemain-favorit-hingga-hal-berkesan-selama-jadi-pesepakbola-lnnTNUdcMQ.jpg</image><title>Egy Maulana Vikri menatap kompetisi Eropa. (Foto: Heru Haryono/Okezone)</title></images><description>EGY Maulana Vikri yang memesona bareng Tim Nasional (Timnas) Indonesia U-19 di Piala AFF U-18 2017 menarik perhatian pencinta sepakbola Tanah Air. Berbagai informasi perihal kehidupan Egy pun dicari para warganet.
Karena itu, Okezone coba memfasilitasi keinginan Anda yang ingin mencari informasi soal kehidupan awal mula Egy mengolah si kulit bulat, pemain favorit, pertemuan dengan Indra Sjafri hingga hal yang paling berkesan dalam karier pesepakbola berusia 17 tahun itu.
Berikut ini wawancara eksklusif Okezone bersama Egy yang disebut-sebut memiliki skill olah bola layaknya megabintang Barcelona, Lionel Messi:
1. Coba Ceritakan Awal Mula Egy Bermain Sepakbola? 

Memang dari kecil sudah main bola. Dari baru bisa jalan, sudah diajarin ayah nendang-nendang bola. Setelah agak besar, saya tidak ikut Sekolah Sepakbola (SSB). Saya ikut tim yang dihuni ayah namanya Asam Kumbang. Mulai kelas 1 sekolah dasar, saya baru masuk SSB Taman Setiabudi Indah (Tasbih). Mulai dari itu saya ikut pertandingan.
Jadi saya ikut dua tim saat itu. Setiap Selasa, Kamis dan Minggu latihan di SSB Tasbih. Kemudian Senin, Rabu dan Sabtu latihan di Asam Kumbang. Setiap hari saya latihan. Jadi setelah pulang sekolah, kemudian mengaji sampai jam 3 sore dan selanjutnya saya latihan sepakbola.
2. Selain orangtua, siapa yang paling berperan dalam karier sepakbola Egy? 
Pak Subagja. Ia yang mempertemukan saya dengan coach Indra Sjafri. Coach Indra memang sudah mendengar nama saya, namun tidak tahu tepatnya saya berada di mana. Selain itu, pak Bagja juga yang membawa saya ke Jakarta hingga akhirnya masuk ke Diklat Ragunan dan seleksi Tim Nasional Indonesia.
Pak Bagja juga berhasil meyakinkan kedua orangtua saya. Sebelumnya, ayah saya banyak ditipu soal orang yang ingin mengorbitkan saya. Namun, Pak Bagja benar-benar berhasil meyakinkan kedua orangtua saya untuk melepas saya dari Medan ke Jakarta.
3. Bisa Diceritakan awal mula Egy bertemu coach Indra Sjafri pada 2012?
Saya pertama kali bertemu di grassroots (turnamen SSB lokal). Kemudian Pak Bagja merekomendasikan saya ke coach Indra. Saat itu coach Indra melihat saya bermain di salah satu turnamen yang agak jauh dari Medan. Saat itu ia datang bersama coach Nur dan Djarot. Namun, saya hanya foto bersama coach Indra.
4.  Sosok Indra Sjafri buat Egy seperti apa? 
Di dalam lapangan, coach Indra orang yang sangat tegas, penyemangat bagi pemain-pemain semua. Ia merupakan pelatih yang sangat taktikal dan sangat paham dengan permainan tim lawan. Di luar lapangan ia juga sangat dekat dengan pemain. Bisa dibilang ia merupakan ayah bagi para pemain.
5. Pada pertengahan 2016 Egy dipinjamkan PPLP Ragunan ke ASIOP Apacinti di turnamen Gothia Cup (Piala Dunia mini). Tidak sekadar membawa ASIOP juara, Egy juga keluar sebagai pemain terbaik dan top skor. Ada kendala saat tampil di sana? 

Saat itu turnamen diperuntukkan bagi pemain kelahiran 2001 (Egy kelahiran 2000). Namun, setiap tim boleh memainkan 2-3 pemain yang berusia satu lebih tua, termasuk saya. Saat itu kesulitan yang saya alami adalah cuaca. Namun, perlahan-lahan saya mulai bisa beradaptasi. Selain itu, lawan-lawan di sana memang besar-besar, namun kami unggul kecepatan.
6. Di Turnamen Toulon 2017, Egy dapat trofi yang diperuntukkan bagi pemain yang memberi pengaruh bagi sebuah tim. Bagaimana perasaannya bisa mendapatkan trofi yang pernah didapat Cristiano Ronaldo dan Zidane? 
Awalnya saya tidak tahu itu trofi apa. Awalnya saya kira trofi itu hanya untuk satu pertandingan itu saja (man of the match). Saat itu saya merasa belum menampilkan yang terbaik. Tapi itu penilaian panitia bagaimana saya bermain. Meski begitu, saya tetap akan kerja keras. Trofi takkan berarti tanpa adanya kerja keras.
7. Di Piala Suratin U-17, Egy membawa Persab Brebes juara dan keluar sebagai top skor, apa kunci suksesnya? 
Ayah saya selalu bilang, jika target cetak gol, gol tidak akan datang. Bermain sepakbola itu untuk tim. Jika kita main tim dan kita main bagus, gol akan datang begitu saja. Kalau rezeki, baik top skor dan pemain terbaik itu hanyalah bonus. Jika tim sukses, kita juga akan sukses.
8. Di pertengahan tahun ini, Egy dapat kesempatan menjalani pelatnas bareng Timnas Indonesia U-22 yang notabene diisi Evan Dimas dan kawan-kawan. Bagaimana kesan-kesannya saat itu?
Senang banget bisa latihan bereng idola sendiri. Awalnya takut-takut juga latihannya karena bareng sama idola. Tidak menyangka bisa satu lapangan bareng idola.
9. Egy tampil maksimal di Piala AFF U-18 2017. Dari enam laga yang dimainkan Indonesia, negara mana yang paling sulit dihadapi? 
Vietnam jadi yang tersulit. Mereka memiliki pertahanan rapi. Permainan mereka juga keras dan sering menghajar saya.  Sementara lawan Thailand (di semifinal) kami hanya kalah beruntung. Rezeki memang belum berpihak ke kita.
10. Dari sekian banyak rekan Egy, selain Witan Sulaiman, ada sahabat lain di Timnas U-19? 

Firza Andika. Firza teman kecil saya. Saya Sekolah Sepakbola (SSB) dengan dia sejak kecil. Setelah lama tak bertemu, saya kembali bertemu Firza saat seleksi Timnas Indonesia U-19 di Sawangan. Kaget juga saat itu. Pada akhirnya kami sama-sama lolos seleksi dan bikin bangga SSB dan daerah Medan juga.
11. Oktober nanti ada Kualifikasi Piala Asia U-19, apakah sudah memantau kekuatan tim lawan? 
Kalau itu tinggal bagaimana pelatih. Ia yang mengatur strategi dan tinggal kita yang jalankan. Tapi yang pasti, kita takkan main-main di sana. Kami ingin meyakinkan masyarakat bahwa kami layak didukung saat bermain di Indonesia.
12. Target Egy di Piala Asia U-19? 
Target ingin lolos ke Piala Dunia U-20 2019 (minimal lolos ke semifinal Piala Asia U-19 2018). Tapi jangan sombong, optimis boleh. Insya Allah kita bisa lolos ke Piala Dunia. Kita butuh doa dan dukungan. Kalo tuhan merestui, kita diizinkan tampil di Piala Dunia.
13. Egy sudah tampil maksimal di Piala AFF. Ada keinginan untuk tampil di Eropa? 
Setiap pemain bukan saya saja, pasti ingin tampil di Eropa. Namun, untuk bermain di klub-klub besar Eropa saya belum siap. Mungkin saya ingin step by step pelan-pelan.  Jika ada tawaran dari Eropa dan prospeknya bagus bagi saya dan dapat dukungan dari manajemen dan direktur, kenapa tidak.
14. Misalnya ada tawaran dari klub Thailand atau Klub Jepang tahun depan, Egy mau coba? 
Saya ingin coba di Eropa dulu. Jika di Eropa sudah mentok atau tidak dapat sama sekali, bisa Thailand atau Jepang.
15. Egy dikaitin dengan klub-klub Liga 1, sebut saja Persib Bandung dan Persija. Tertarik untuk main di Liga 1 saat ini?

Untuk saat ini saya belum berpikir untuk main di profesional. Saya masih fokus ke diklat ragunan. Saat ini saya kelas 3 SMA dan mau fokus sekolah dan Timnas. Saya berharap bisa bawa Timnas juara.
16. Klub favorit? 
Klub favorit saya Barcelona, alasannya karena keberadaan Lionel Messi. Barcelona tim yang sangat taktikal dan itu sangat bagus.
17. Pemain favorit?
Pemain favorit saya Messi, tapi awalnya saya suka Robben. Ketika itu ia masih membela Real Madrid. Bahkan di sepatu saya sampai saya tulis nama Robben. Setelah itu karena Robben jarang main akibat cedera, jagoan saya Messi.
18. Misalnya Egy dapat kontrak sebesar Rp1 Miliar, apa yang akan dilakukan Egy? 

Target pertama saya berangkatin kedua orangtua umroh atau pergi haji. Setelah itu bantu-bantu ekonomi orangtua, baru kemudian saya.
19. Ada latihan tambahan selain yang diterapkan pelatih? 
Kalo di Diklat Ragunan, saya berlatih kan latihan sehari dua kali. Paling jika ada waktu luang, saya sempat-sempatin untuk jogging dan fitness. Itu penting untuk menjjaga kondisi saya.
20. Sejauh menjadi pesepakbola, kenangan apa yang paling berkesan? 

Saya masih ingat sampai sekarang. Saya ikut turnamen dan tim saya kalah di final. Namun, pembagian piala diberikan satu hari setelahnya dan di hari kekalahan itu, saya disebut keluar sebagai pemain terbaik. Namun, keesokan harinya saat ingin ambil trofi pemain terbaik, saya ditelfon, gelar pemain terbaik saya dicabut dan digantikan pemain lain.
Saat itu saya menangis. Bapak dan pelatih di SSB Tasbih sempat pusing. Untuk mengobati kekecewaan saya, bapak saya dan pelatih pura-pura membuat satu kategori yakni favorite player dan piala itu pun diberikan kepada saya. Saya baru tahu kalau itu hanya trofi bohongan saat saya sudah besar.</description><content:encoded>EGY Maulana Vikri yang memesona bareng Tim Nasional (Timnas) Indonesia U-19 di Piala AFF U-18 2017 menarik perhatian pencinta sepakbola Tanah Air. Berbagai informasi perihal kehidupan Egy pun dicari para warganet.
Karena itu, Okezone coba memfasilitasi keinginan Anda yang ingin mencari informasi soal kehidupan awal mula Egy mengolah si kulit bulat, pemain favorit, pertemuan dengan Indra Sjafri hingga hal yang paling berkesan dalam karier pesepakbola berusia 17 tahun itu.
Berikut ini wawancara eksklusif Okezone bersama Egy yang disebut-sebut memiliki skill olah bola layaknya megabintang Barcelona, Lionel Messi:
1. Coba Ceritakan Awal Mula Egy Bermain Sepakbola? 

Memang dari kecil sudah main bola. Dari baru bisa jalan, sudah diajarin ayah nendang-nendang bola. Setelah agak besar, saya tidak ikut Sekolah Sepakbola (SSB). Saya ikut tim yang dihuni ayah namanya Asam Kumbang. Mulai kelas 1 sekolah dasar, saya baru masuk SSB Taman Setiabudi Indah (Tasbih). Mulai dari itu saya ikut pertandingan.
Jadi saya ikut dua tim saat itu. Setiap Selasa, Kamis dan Minggu latihan di SSB Tasbih. Kemudian Senin, Rabu dan Sabtu latihan di Asam Kumbang. Setiap hari saya latihan. Jadi setelah pulang sekolah, kemudian mengaji sampai jam 3 sore dan selanjutnya saya latihan sepakbola.
2. Selain orangtua, siapa yang paling berperan dalam karier sepakbola Egy? 
Pak Subagja. Ia yang mempertemukan saya dengan coach Indra Sjafri. Coach Indra memang sudah mendengar nama saya, namun tidak tahu tepatnya saya berada di mana. Selain itu, pak Bagja juga yang membawa saya ke Jakarta hingga akhirnya masuk ke Diklat Ragunan dan seleksi Tim Nasional Indonesia.
Pak Bagja juga berhasil meyakinkan kedua orangtua saya. Sebelumnya, ayah saya banyak ditipu soal orang yang ingin mengorbitkan saya. Namun, Pak Bagja benar-benar berhasil meyakinkan kedua orangtua saya untuk melepas saya dari Medan ke Jakarta.
3. Bisa Diceritakan awal mula Egy bertemu coach Indra Sjafri pada 2012?
Saya pertama kali bertemu di grassroots (turnamen SSB lokal). Kemudian Pak Bagja merekomendasikan saya ke coach Indra. Saat itu coach Indra melihat saya bermain di salah satu turnamen yang agak jauh dari Medan. Saat itu ia datang bersama coach Nur dan Djarot. Namun, saya hanya foto bersama coach Indra.
4.  Sosok Indra Sjafri buat Egy seperti apa? 
Di dalam lapangan, coach Indra orang yang sangat tegas, penyemangat bagi pemain-pemain semua. Ia merupakan pelatih yang sangat taktikal dan sangat paham dengan permainan tim lawan. Di luar lapangan ia juga sangat dekat dengan pemain. Bisa dibilang ia merupakan ayah bagi para pemain.
5. Pada pertengahan 2016 Egy dipinjamkan PPLP Ragunan ke ASIOP Apacinti di turnamen Gothia Cup (Piala Dunia mini). Tidak sekadar membawa ASIOP juara, Egy juga keluar sebagai pemain terbaik dan top skor. Ada kendala saat tampil di sana? 

Saat itu turnamen diperuntukkan bagi pemain kelahiran 2001 (Egy kelahiran 2000). Namun, setiap tim boleh memainkan 2-3 pemain yang berusia satu lebih tua, termasuk saya. Saat itu kesulitan yang saya alami adalah cuaca. Namun, perlahan-lahan saya mulai bisa beradaptasi. Selain itu, lawan-lawan di sana memang besar-besar, namun kami unggul kecepatan.
6. Di Turnamen Toulon 2017, Egy dapat trofi yang diperuntukkan bagi pemain yang memberi pengaruh bagi sebuah tim. Bagaimana perasaannya bisa mendapatkan trofi yang pernah didapat Cristiano Ronaldo dan Zidane? 
Awalnya saya tidak tahu itu trofi apa. Awalnya saya kira trofi itu hanya untuk satu pertandingan itu saja (man of the match). Saat itu saya merasa belum menampilkan yang terbaik. Tapi itu penilaian panitia bagaimana saya bermain. Meski begitu, saya tetap akan kerja keras. Trofi takkan berarti tanpa adanya kerja keras.
7. Di Piala Suratin U-17, Egy membawa Persab Brebes juara dan keluar sebagai top skor, apa kunci suksesnya? 
Ayah saya selalu bilang, jika target cetak gol, gol tidak akan datang. Bermain sepakbola itu untuk tim. Jika kita main tim dan kita main bagus, gol akan datang begitu saja. Kalau rezeki, baik top skor dan pemain terbaik itu hanyalah bonus. Jika tim sukses, kita juga akan sukses.
8. Di pertengahan tahun ini, Egy dapat kesempatan menjalani pelatnas bareng Timnas Indonesia U-22 yang notabene diisi Evan Dimas dan kawan-kawan. Bagaimana kesan-kesannya saat itu?
Senang banget bisa latihan bereng idola sendiri. Awalnya takut-takut juga latihannya karena bareng sama idola. Tidak menyangka bisa satu lapangan bareng idola.
9. Egy tampil maksimal di Piala AFF U-18 2017. Dari enam laga yang dimainkan Indonesia, negara mana yang paling sulit dihadapi? 
Vietnam jadi yang tersulit. Mereka memiliki pertahanan rapi. Permainan mereka juga keras dan sering menghajar saya.  Sementara lawan Thailand (di semifinal) kami hanya kalah beruntung. Rezeki memang belum berpihak ke kita.
10. Dari sekian banyak rekan Egy, selain Witan Sulaiman, ada sahabat lain di Timnas U-19? 

Firza Andika. Firza teman kecil saya. Saya Sekolah Sepakbola (SSB) dengan dia sejak kecil. Setelah lama tak bertemu, saya kembali bertemu Firza saat seleksi Timnas Indonesia U-19 di Sawangan. Kaget juga saat itu. Pada akhirnya kami sama-sama lolos seleksi dan bikin bangga SSB dan daerah Medan juga.
11. Oktober nanti ada Kualifikasi Piala Asia U-19, apakah sudah memantau kekuatan tim lawan? 
Kalau itu tinggal bagaimana pelatih. Ia yang mengatur strategi dan tinggal kita yang jalankan. Tapi yang pasti, kita takkan main-main di sana. Kami ingin meyakinkan masyarakat bahwa kami layak didukung saat bermain di Indonesia.
12. Target Egy di Piala Asia U-19? 
Target ingin lolos ke Piala Dunia U-20 2019 (minimal lolos ke semifinal Piala Asia U-19 2018). Tapi jangan sombong, optimis boleh. Insya Allah kita bisa lolos ke Piala Dunia. Kita butuh doa dan dukungan. Kalo tuhan merestui, kita diizinkan tampil di Piala Dunia.
13. Egy sudah tampil maksimal di Piala AFF. Ada keinginan untuk tampil di Eropa? 
Setiap pemain bukan saya saja, pasti ingin tampil di Eropa. Namun, untuk bermain di klub-klub besar Eropa saya belum siap. Mungkin saya ingin step by step pelan-pelan.  Jika ada tawaran dari Eropa dan prospeknya bagus bagi saya dan dapat dukungan dari manajemen dan direktur, kenapa tidak.
14. Misalnya ada tawaran dari klub Thailand atau Klub Jepang tahun depan, Egy mau coba? 
Saya ingin coba di Eropa dulu. Jika di Eropa sudah mentok atau tidak dapat sama sekali, bisa Thailand atau Jepang.
15. Egy dikaitin dengan klub-klub Liga 1, sebut saja Persib Bandung dan Persija. Tertarik untuk main di Liga 1 saat ini?

Untuk saat ini saya belum berpikir untuk main di profesional. Saya masih fokus ke diklat ragunan. Saat ini saya kelas 3 SMA dan mau fokus sekolah dan Timnas. Saya berharap bisa bawa Timnas juara.
16. Klub favorit? 
Klub favorit saya Barcelona, alasannya karena keberadaan Lionel Messi. Barcelona tim yang sangat taktikal dan itu sangat bagus.
17. Pemain favorit?
Pemain favorit saya Messi, tapi awalnya saya suka Robben. Ketika itu ia masih membela Real Madrid. Bahkan di sepatu saya sampai saya tulis nama Robben. Setelah itu karena Robben jarang main akibat cedera, jagoan saya Messi.
18. Misalnya Egy dapat kontrak sebesar Rp1 Miliar, apa yang akan dilakukan Egy? 

Target pertama saya berangkatin kedua orangtua umroh atau pergi haji. Setelah itu bantu-bantu ekonomi orangtua, baru kemudian saya.
19. Ada latihan tambahan selain yang diterapkan pelatih? 
Kalo di Diklat Ragunan, saya berlatih kan latihan sehari dua kali. Paling jika ada waktu luang, saya sempat-sempatin untuk jogging dan fitness. Itu penting untuk menjjaga kondisi saya.
20. Sejauh menjadi pesepakbola, kenangan apa yang paling berkesan? 

Saya masih ingat sampai sekarang. Saya ikut turnamen dan tim saya kalah di final. Namun, pembagian piala diberikan satu hari setelahnya dan di hari kekalahan itu, saya disebut keluar sebagai pemain terbaik. Namun, keesokan harinya saat ingin ambil trofi pemain terbaik, saya ditelfon, gelar pemain terbaik saya dicabut dan digantikan pemain lain.
Saat itu saya menangis. Bapak dan pelatih di SSB Tasbih sempat pusing. Untuk mengobati kekecewaan saya, bapak saya dan pelatih pura-pura membuat satu kategori yakni favorite player dan piala itu pun diberikan kepada saya. Saya baru tahu kalau itu hanya trofi bohongan saat saya sudah besar.</content:encoded></item></channel></rss>
