<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Soccerpedia: Footbonaut, Teknologi Pembinaan Hanya dalam Genggaman</title><description>Majunya sepakbola Jerman tak lepas dari faktor teknologi yang dimanfaatkan untuk pembinaan, di mana salah satunya adalah Footbonaut.</description><link>https://bola.okezone.com/read/2016/08/24/48/1471829/soccerpedia-footbonaut-teknologi-pembinaan-hanya-dalam-genggaman</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://bola.okezone.com/read/2016/08/24/48/1471829/soccerpedia-footbonaut-teknologi-pembinaan-hanya-dalam-genggaman"/><item><title>Soccerpedia: Footbonaut, Teknologi Pembinaan Hanya dalam Genggaman</title><link>https://bola.okezone.com/read/2016/08/24/48/1471829/soccerpedia-footbonaut-teknologi-pembinaan-hanya-dalam-genggaman</link><guid isPermaLink="false">https://bola.okezone.com/read/2016/08/24/48/1471829/soccerpedia-footbonaut-teknologi-pembinaan-hanya-dalam-genggaman</guid><pubDate>Rabu 24 Agustus 2016 14:02 WIB</pubDate><dc:creator>Randy Wirayudha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/08/24/48/1471829/soccerpedia-footbonaut-teknologi-pembinaan-hanya-dalam-genggaman-kjNsfOTBo3.jpg" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/08/24/48/1471829/soccerpedia-footbonaut-teknologi-pembinaan-hanya-dalam-genggaman-kjNsfOTBo3.jpg</image><title></title></images><description>SEANDAINYA Mario G&amp;ouml;tze tak pernah meniti kariernya di Borussia Dortmund, barang kali Jerman masih harus menunggu koleksi trofi Piala Dunia keempat mereka. Trofi keempat yang mereka dapatkan pada gelaran Piala Dunia 2014 silam di Brasil.
G&amp;ouml;tze sendiri merupakan pahlawan Der Panzer (julukan tim nasional Jerman) di final Piala Dunia 2014. Di partai puncak kontra Argentina yang berjalan alot, sebuah gol indah spieler (pemain) Bayern Munich yang comeback ke Dortmund pada bursa transfer musim panas ini, G&amp;ouml;tze mencetak gol terpenting dalam hidupnya babak tambahan, tepatnya di menit ke-113.
Lionel Messi Cs di kubu Argentina pun tak lagi berdaya melawan. Skor 1-0 jadi hasil akhir yang membuat logo DFB (PSSI-nya Jerman) di jersey mereka, &amp;lsquo;ketambahan&amp;rsquo; satu bintang lagi pertanda pemenang Piala Dunia.

Gol indah G&amp;ouml;tze itu berawal dari sebuah umpan jitu Andr&amp;eacute; Sch&amp;uuml;rrle dari sisi kiri (kanan pertahanan Argentina). Bola umpan itu diterima dengan kontrol dada G&amp;ouml;tze dan dengan satu sentuhan, si kulit bulat dilesakkan G&amp;ouml;tze dengan finishing kaki kiri nan apik.Yang pasti, diketahui bahwa skill G&amp;ouml;tze yang membuahkan gol semacam  itu bukan kebetulan. Ya, usut punya usut ternyata G&amp;ouml;tze sudah sering  latihan sentuhan pertama. Bukan dengan bantuan manusia langsung,  melainkan dengan sebuah alat, sebuah mesin, sebuah fasilitas bernama Footbonaut.
Alat ini merupakan teknologi pembinaan yang awalnya hanya dimiliki  Dortmund &amp;ndash; klub yang membesarkan nama G&amp;ouml;tze. Alat yang nampak berbentuk  kandang persegi robotic ini, diciptakan seorang ilmuwan bernama  Christian G&amp;uuml;ttler di Ibu Kota Jerman, Berlin.
Sejak sekira tujuh tahun silam, Die Borussen (sebutan Dortmund) jadi  klub di Eropa dan bahkan di dunia yang memiliki teknologi ini. Teknologi  yang kini sudah digunakan untuk pembinaan klub di fasilitas akademi  muda mereka mulai dari kategori usia di bawah sembilan tahun.

Cara kerjanya secara sederhana bisa disebutkan bahwa di setiap sisi  kandang Footbonaut, akan terdapat mesin-mesin pelontar bola. Mesin itu  bisa diatur arah, tinggi dan kecepatan datangnya bola kepada pemain yang  berada di tengah lapangan.Seketika setelah bola dilontarkan mesin, nantinya ada satu kotak yang   akan menyala hijau dan seketika itu pula setelah satu kali sentuhan   kontrol, si pemain yang berada di lingkaran di tengah lapangan harus   bisa menendang bola ke kotak berlampu hijau.
Salah satu pelatih akademi muda Dortmund, Mark Pulisic menjelaskan,   bahwa alat ini biasanya dikendalikan dari sebuah ruangan yang sudah   canggih komputernya. Namun, belum lama ini teknologi pembinaan ini sudah   bisa dikendalikan hanya dalam genggaman!
&amp;ldquo;Kini saya sudah bisa mengendalikan mesin-mesin (pelontar bola) itu   di tangan saya. Melalui aplikasi iPhone yang disambungkan dengan   software mesin,&amp;rdquo; terang ayah mittelfeldpieler (gelandang) Dortmund,   Christian Pulisic tersebut.

&amp;ldquo;Alat ini meningkatkan (kemampuan) sentuhan pertama pemain. Alat ini   sekarang sudah digunakan tidak hanya untuk tim senior, tapi juga tim  U-9  sampai U-19. Kecepatan maksimal bola bisa diatur adalah 100  kilometer  (km) per jam. Tapi untuk ukuran pemain profesional, 60-70 km  per jam  sudah cukup cepat,&amp;rdquo; tambah pelatih tim U-10 Dortmund asal Amerika Serikat itu.Mark Pulisic turut mengimbuhkan bahwa alat ini tidak hanya bisa    digunakan untuk pemain di posisi verteidiger (bek), gelandang, atau st&amp;uuml;rmer (penyerang) saja. Melainkan juga sangat berguna untuk melatih    refleks torwart (kiper).

Untuk saat ini, belum banyak tim yang cukup beruntung atau merasa    membutuhkan alat ini. So far yang sudah punya alat ini setelah Dortmund    adalah, TSG Hoffenheim dan Aspire Academy di Qatar.
Berikut Video Demonstrasi Footbonaut di Fasilitas Akademi Dortmund:
&amp;lt;iframe width=&quot;560&quot; height=&quot;315&quot; src=&quot;https://www.youtube.com/embed/JUBgdyleCkA&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;</description><content:encoded>SEANDAINYA Mario G&amp;ouml;tze tak pernah meniti kariernya di Borussia Dortmund, barang kali Jerman masih harus menunggu koleksi trofi Piala Dunia keempat mereka. Trofi keempat yang mereka dapatkan pada gelaran Piala Dunia 2014 silam di Brasil.
G&amp;ouml;tze sendiri merupakan pahlawan Der Panzer (julukan tim nasional Jerman) di final Piala Dunia 2014. Di partai puncak kontra Argentina yang berjalan alot, sebuah gol indah spieler (pemain) Bayern Munich yang comeback ke Dortmund pada bursa transfer musim panas ini, G&amp;ouml;tze mencetak gol terpenting dalam hidupnya babak tambahan, tepatnya di menit ke-113.
Lionel Messi Cs di kubu Argentina pun tak lagi berdaya melawan. Skor 1-0 jadi hasil akhir yang membuat logo DFB (PSSI-nya Jerman) di jersey mereka, &amp;lsquo;ketambahan&amp;rsquo; satu bintang lagi pertanda pemenang Piala Dunia.

Gol indah G&amp;ouml;tze itu berawal dari sebuah umpan jitu Andr&amp;eacute; Sch&amp;uuml;rrle dari sisi kiri (kanan pertahanan Argentina). Bola umpan itu diterima dengan kontrol dada G&amp;ouml;tze dan dengan satu sentuhan, si kulit bulat dilesakkan G&amp;ouml;tze dengan finishing kaki kiri nan apik.Yang pasti, diketahui bahwa skill G&amp;ouml;tze yang membuahkan gol semacam  itu bukan kebetulan. Ya, usut punya usut ternyata G&amp;ouml;tze sudah sering  latihan sentuhan pertama. Bukan dengan bantuan manusia langsung,  melainkan dengan sebuah alat, sebuah mesin, sebuah fasilitas bernama Footbonaut.
Alat ini merupakan teknologi pembinaan yang awalnya hanya dimiliki  Dortmund &amp;ndash; klub yang membesarkan nama G&amp;ouml;tze. Alat yang nampak berbentuk  kandang persegi robotic ini, diciptakan seorang ilmuwan bernama  Christian G&amp;uuml;ttler di Ibu Kota Jerman, Berlin.
Sejak sekira tujuh tahun silam, Die Borussen (sebutan Dortmund) jadi  klub di Eropa dan bahkan di dunia yang memiliki teknologi ini. Teknologi  yang kini sudah digunakan untuk pembinaan klub di fasilitas akademi  muda mereka mulai dari kategori usia di bawah sembilan tahun.

Cara kerjanya secara sederhana bisa disebutkan bahwa di setiap sisi  kandang Footbonaut, akan terdapat mesin-mesin pelontar bola. Mesin itu  bisa diatur arah, tinggi dan kecepatan datangnya bola kepada pemain yang  berada di tengah lapangan.Seketika setelah bola dilontarkan mesin, nantinya ada satu kotak yang   akan menyala hijau dan seketika itu pula setelah satu kali sentuhan   kontrol, si pemain yang berada di lingkaran di tengah lapangan harus   bisa menendang bola ke kotak berlampu hijau.
Salah satu pelatih akademi muda Dortmund, Mark Pulisic menjelaskan,   bahwa alat ini biasanya dikendalikan dari sebuah ruangan yang sudah   canggih komputernya. Namun, belum lama ini teknologi pembinaan ini sudah   bisa dikendalikan hanya dalam genggaman!
&amp;ldquo;Kini saya sudah bisa mengendalikan mesin-mesin (pelontar bola) itu   di tangan saya. Melalui aplikasi iPhone yang disambungkan dengan   software mesin,&amp;rdquo; terang ayah mittelfeldpieler (gelandang) Dortmund,   Christian Pulisic tersebut.

&amp;ldquo;Alat ini meningkatkan (kemampuan) sentuhan pertama pemain. Alat ini   sekarang sudah digunakan tidak hanya untuk tim senior, tapi juga tim  U-9  sampai U-19. Kecepatan maksimal bola bisa diatur adalah 100  kilometer  (km) per jam. Tapi untuk ukuran pemain profesional, 60-70 km  per jam  sudah cukup cepat,&amp;rdquo; tambah pelatih tim U-10 Dortmund asal Amerika Serikat itu.Mark Pulisic turut mengimbuhkan bahwa alat ini tidak hanya bisa    digunakan untuk pemain di posisi verteidiger (bek), gelandang, atau st&amp;uuml;rmer (penyerang) saja. Melainkan juga sangat berguna untuk melatih    refleks torwart (kiper).

Untuk saat ini, belum banyak tim yang cukup beruntung atau merasa    membutuhkan alat ini. So far yang sudah punya alat ini setelah Dortmund    adalah, TSG Hoffenheim dan Aspire Academy di Qatar.
Berikut Video Demonstrasi Footbonaut di Fasilitas Akademi Dortmund:
&amp;lt;iframe width=&quot;560&quot; height=&quot;315&quot; src=&quot;https://www.youtube.com/embed/JUBgdyleCkA&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;</content:encoded></item></channel></rss>
