<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Claudio Ranieri Menyongsong Tantangan Baru Liga Inggris 2016-2017</title><description>Ranieri yang begitu memuja pola 4-4-2 diprediksi bakal memainkan pola yang sama di partai pembuka</description><link>https://bola.okezone.com/read/2016/08/12/45/1460883/claudio-ranieri-menyongsong-tantangan-baru-liga-inggris-2016-2017</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://bola.okezone.com/read/2016/08/12/45/1460883/claudio-ranieri-menyongsong-tantangan-baru-liga-inggris-2016-2017"/><item><title>Claudio Ranieri Menyongsong Tantangan Baru Liga Inggris 2016-2017</title><link>https://bola.okezone.com/read/2016/08/12/45/1460883/claudio-ranieri-menyongsong-tantangan-baru-liga-inggris-2016-2017</link><guid isPermaLink="false">https://bola.okezone.com/read/2016/08/12/45/1460883/claudio-ranieri-menyongsong-tantangan-baru-liga-inggris-2016-2017</guid><pubDate>Jum'at 12 Agustus 2016 12:57 WIB</pubDate><dc:creator>Daniel Setiawan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/08/11/45/1460883/claudio-ranieri-menyongsong-tantangan-baru-liga-inggris-2016-2017-5VA072YIMz.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Claudio Ranieri (Foto: AFP)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/08/11/45/1460883/claudio-ranieri-menyongsong-tantangan-baru-liga-inggris-2016-2017-5VA072YIMz.jpg</image><title>Claudio Ranieri (Foto: AFP)</title></images><description>KETIKA pertama kali datang kembali ke Premier League dengan membesut Leicester City, mungkin tidak ada yang menyangka jika Claudio Ranieri bisa menuai sukses besar. Karier kepelatihannya di kompetisi tertinggi Negeri Ratu Elizabeth tersebut tidaklah mentereng.
Tengok saja ketika dirinya membesut Chelsea pada periode 2000 hingga 2004. Selama empat tahun diberikan kepercayaan, Ranieri tidak mampu memberikan satu pun gelar bergengsi untuk klub yang identik dengan warna birunya tersebut.
Pada musim perdananya saja di Chelsea, Ranieri hanya mampu mengantarkan klub finis di posisi keenam di papan klasemen. Baru pada musim 2003-2004, dirinya sukses mencatatkan hasil impresif untuk klub yakni dengan membawa finis di posisi kedua klasemen.
Namun pada saat itu dengan catatan Ranieri membukukan total 120 juta pounds atau sekira Rp2 triliun untuk membeli sejumlah pemain di bursa transfer musim panas. Beberapa nama yang dibawanya yakni Damien Duff, Claude Makalele, hingga Hernan Crespo.
&amp;lt;img src=&quot;http://i.okezone.tv/photos/2016/05/17/25356/157129_medium.jpg&quot; alt=&quot;Tekad Menjadi Kunci Keberhasilan Leicester City&quot; &amp;nbsp;width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Selepas didepak oleh Chelsea, Ranieri bak kutu loncat. Pelatih berusia 64 tahun tersebut berganti-ganti klub. Mulai dari Spanyol, Italia, hingga Yunani. Hingga pada 2015 ia memutuskan untuk melakukan comeback ke Liga Inggris bersama Leicester City.
Klub yang pada musim sebelum Ranieri tiba hanya finis di posisi 14 bukan seperti klub Inggris sebelumnya yang ia tangani, Chelsea. Leicester tidak punya cukup biaya untuk memboyong pemain mahal.Akan tetapi tangan dinginnya, pengalamannya ketika masih membesut Chelsea menjadi hal yang berharga.&amp;nbsp;The Tinkerman&amp;nbsp;&amp;ndash; julukan Ranieri &amp;ndash; sukses mengantarkan Leicester City menjadi juara Premier League meski dengan pemain &amp;ldquo;seadanya&amp;rdquo;.
Tantangan baru pun siap dihadapi oleh pelatih yang semasa bermain berposisi sebagai bek tersebut. Entah apakah hal ini bisa dikatakan beruntung atau tidak, tetapi Leicester bakal bertemu dengan Hull City di partai pembuka Premier League 2016-2017.
Ranieri yang begitu memuja pola 4-4-2 diprediksi bakal memainkan pola yang sama di partai pembuka. Tentu mengincar hasil impresif di awal kompetisi merupakan hal yang diinginkan oleh tim juara bertahan seperti Leicester.
Terpeleset di partai pertama bisa jadi petaka untuk Si Rubah. Beruntung kondisi para pemain mereka hampir semuanya fit. Pemain kunci seperti Riyad Mahrez dan Jamie Vardy juga diprediksi siap untuk diturunkan pada pertandingan pembuka.
Jangan lupakan juga para pemain anyar yang siap menggebrak. Kehilangan N&amp;rsquo;Golo Kante mungkin menyakitkan, namun kini Ranieri bisa mengandalkan Nampalys Mendy di posisi tersebut. Belum lagi sosok striker anyar mereka, Ahmed Musa, yang tampil trengginas di partai pramusim.
</description><content:encoded>KETIKA pertama kali datang kembali ke Premier League dengan membesut Leicester City, mungkin tidak ada yang menyangka jika Claudio Ranieri bisa menuai sukses besar. Karier kepelatihannya di kompetisi tertinggi Negeri Ratu Elizabeth tersebut tidaklah mentereng.
Tengok saja ketika dirinya membesut Chelsea pada periode 2000 hingga 2004. Selama empat tahun diberikan kepercayaan, Ranieri tidak mampu memberikan satu pun gelar bergengsi untuk klub yang identik dengan warna birunya tersebut.
Pada musim perdananya saja di Chelsea, Ranieri hanya mampu mengantarkan klub finis di posisi keenam di papan klasemen. Baru pada musim 2003-2004, dirinya sukses mencatatkan hasil impresif untuk klub yakni dengan membawa finis di posisi kedua klasemen.
Namun pada saat itu dengan catatan Ranieri membukukan total 120 juta pounds atau sekira Rp2 triliun untuk membeli sejumlah pemain di bursa transfer musim panas. Beberapa nama yang dibawanya yakni Damien Duff, Claude Makalele, hingga Hernan Crespo.
&amp;lt;img src=&quot;http://i.okezone.tv/photos/2016/05/17/25356/157129_medium.jpg&quot; alt=&quot;Tekad Menjadi Kunci Keberhasilan Leicester City&quot; &amp;nbsp;width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Selepas didepak oleh Chelsea, Ranieri bak kutu loncat. Pelatih berusia 64 tahun tersebut berganti-ganti klub. Mulai dari Spanyol, Italia, hingga Yunani. Hingga pada 2015 ia memutuskan untuk melakukan comeback ke Liga Inggris bersama Leicester City.
Klub yang pada musim sebelum Ranieri tiba hanya finis di posisi 14 bukan seperti klub Inggris sebelumnya yang ia tangani, Chelsea. Leicester tidak punya cukup biaya untuk memboyong pemain mahal.Akan tetapi tangan dinginnya, pengalamannya ketika masih membesut Chelsea menjadi hal yang berharga.&amp;nbsp;The Tinkerman&amp;nbsp;&amp;ndash; julukan Ranieri &amp;ndash; sukses mengantarkan Leicester City menjadi juara Premier League meski dengan pemain &amp;ldquo;seadanya&amp;rdquo;.
Tantangan baru pun siap dihadapi oleh pelatih yang semasa bermain berposisi sebagai bek tersebut. Entah apakah hal ini bisa dikatakan beruntung atau tidak, tetapi Leicester bakal bertemu dengan Hull City di partai pembuka Premier League 2016-2017.
Ranieri yang begitu memuja pola 4-4-2 diprediksi bakal memainkan pola yang sama di partai pembuka. Tentu mengincar hasil impresif di awal kompetisi merupakan hal yang diinginkan oleh tim juara bertahan seperti Leicester.
Terpeleset di partai pertama bisa jadi petaka untuk Si Rubah. Beruntung kondisi para pemain mereka hampir semuanya fit. Pemain kunci seperti Riyad Mahrez dan Jamie Vardy juga diprediksi siap untuk diturunkan pada pertandingan pembuka.
Jangan lupakan juga para pemain anyar yang siap menggebrak. Kehilangan N&amp;rsquo;Golo Kante mungkin menyakitkan, namun kini Ranieri bisa mengandalkan Nampalys Mendy di posisi tersebut. Belum lagi sosok striker anyar mereka, Ahmed Musa, yang tampil trengginas di partai pramusim.
</content:encoded></item></channel></rss>
