<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Segregasi Ballon d'Or di Mata Pirlo</title><description>Hanya pemain yang punya rekening gendut yang bisa memenangkan Ballon d'Or.</description><link>https://bola.okezone.com/read/2015/02/17/51/1107085/segregasi-ballon-d-or-di-mata-pirlo</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://bola.okezone.com/read/2015/02/17/51/1107085/segregasi-ballon-d-or-di-mata-pirlo"/><item><title>Segregasi Ballon d'Or di Mata Pirlo</title><link>https://bola.okezone.com/read/2015/02/17/51/1107085/segregasi-ballon-d-or-di-mata-pirlo</link><guid isPermaLink="false">https://bola.okezone.com/read/2015/02/17/51/1107085/segregasi-ballon-d-or-di-mata-pirlo</guid><pubDate>Selasa 17 Februari 2015 17:24 WIB</pubDate><dc:creator>Randy Wirayudha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2015/02/17/51/1107085/segregasi-ballon-d-or-di-mata-pirlo-kRW4QnOUED.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Trofi Ballon d'Or hanya untuk beberapa &quot;golongan&quot; pemain saja (Foto: Juan Medina/REUTERS)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2015/02/17/51/1107085/segregasi-ballon-d-or-di-mata-pirlo-kRW4QnOUED.jpg</image><title>Trofi Ballon d'Or hanya untuk beberapa &quot;golongan&quot; pemain saja (Foto: Juan Medina/REUTERS)</title></images><description>
TURIN &amp;ndash; Diskriminatif. Satu kata disiratkan Andrea Pirlo jika sudah bicara soal trofi individu dengan gengsi tertinggi &amp;ndash; Ballon d&amp;rsquo;Or. Pemilihan pemenang trofi bola emas itu dianggap &amp;ldquo;pandang bulu&amp;rdquo;, selalu segregatif.
Para pemain macam Xavi Hern&amp;aacute;ndez, Andr&amp;eacute;s Iniesta atau Pirlo, takkan pernah bisa memenangi voting pemilihan raja sepakbola dunia itu.
Sang pemenang, selalu datang dari para pemain yang selalu jadi pembeda dan terutama punya rekening &amp;ldquo;gendut&amp;rdquo; dengan kumpulan saldo gol di dalamnya.
Sementara Xavi, Iniesta maupun Pirlo seperti yang dialaminya pada pemilihan Ballon d&amp;rsquo;Or 2007, harus puas hanya jadi finalis &amp;ndash; sementara kala itu rekan setimnya semasa di AC Milan, Ricardo Kak&amp;aacute; yang membawa pulang trofi.
&amp;ldquo;Hadiah (Ballon d&amp;rsquo;Or) itu akan selalu jatuh pada pemain yang mencetak banyak gol, yang membuat perbedaan. Kak&amp;aacute; melakukannya di masa jayanya, begitupun yang dilakukan Cristiano (Ronaldo) dan (Lionel) Messi sekarang,&amp;rdquo; cetus Pirlo.
&amp;ldquo;Jika Xavi atau Iniesta tak pernah memenangkannya, maka saya pikir, saya pun juga tak layak memenangi Ballon d&amp;rsquo;Or,&amp;rdquo; imbuhnya kepada ABC, Selasa (17/2/2015).
Untuk saat ini, trofi prestisius itu mungkin masih dalam dominasi kedua megabintang Barcelona dan Real Madrid di atas. Tapi Pirlo punya harapan, di mana seorang gelandang murni seperti rekan mudanya di Juventus &amp;ndash; Paul Pogba, bisa muncul sebagai pemenang Ballon d&amp;rsquo;Or berikutnya.
&amp;ldquo;Paul Pogba bisa jadi masa depan buat Juventus. Dia sudah punya segalanya: fisik, teknik dan sorot mata yang tajam terhadap gawang. Dia sempurna dan bisa mengukir era baru,&amp;rdquo; tutup playmaker veteran berusia 35 tahun itu.
</description><content:encoded>
TURIN &amp;ndash; Diskriminatif. Satu kata disiratkan Andrea Pirlo jika sudah bicara soal trofi individu dengan gengsi tertinggi &amp;ndash; Ballon d&amp;rsquo;Or. Pemilihan pemenang trofi bola emas itu dianggap &amp;ldquo;pandang bulu&amp;rdquo;, selalu segregatif.
Para pemain macam Xavi Hern&amp;aacute;ndez, Andr&amp;eacute;s Iniesta atau Pirlo, takkan pernah bisa memenangi voting pemilihan raja sepakbola dunia itu.
Sang pemenang, selalu datang dari para pemain yang selalu jadi pembeda dan terutama punya rekening &amp;ldquo;gendut&amp;rdquo; dengan kumpulan saldo gol di dalamnya.
Sementara Xavi, Iniesta maupun Pirlo seperti yang dialaminya pada pemilihan Ballon d&amp;rsquo;Or 2007, harus puas hanya jadi finalis &amp;ndash; sementara kala itu rekan setimnya semasa di AC Milan, Ricardo Kak&amp;aacute; yang membawa pulang trofi.
&amp;ldquo;Hadiah (Ballon d&amp;rsquo;Or) itu akan selalu jatuh pada pemain yang mencetak banyak gol, yang membuat perbedaan. Kak&amp;aacute; melakukannya di masa jayanya, begitupun yang dilakukan Cristiano (Ronaldo) dan (Lionel) Messi sekarang,&amp;rdquo; cetus Pirlo.
&amp;ldquo;Jika Xavi atau Iniesta tak pernah memenangkannya, maka saya pikir, saya pun juga tak layak memenangi Ballon d&amp;rsquo;Or,&amp;rdquo; imbuhnya kepada ABC, Selasa (17/2/2015).
Untuk saat ini, trofi prestisius itu mungkin masih dalam dominasi kedua megabintang Barcelona dan Real Madrid di atas. Tapi Pirlo punya harapan, di mana seorang gelandang murni seperti rekan mudanya di Juventus &amp;ndash; Paul Pogba, bisa muncul sebagai pemenang Ballon d&amp;rsquo;Or berikutnya.
&amp;ldquo;Paul Pogba bisa jadi masa depan buat Juventus. Dia sudah punya segalanya: fisik, teknik dan sorot mata yang tajam terhadap gawang. Dia sempurna dan bisa mengukir era baru,&amp;rdquo; tutup playmaker veteran berusia 35 tahun itu.
</content:encoded></item></channel></rss>
