<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>&quot;Komdis Hanya Menghukum Bukan Membina&quot;</title><description>Asosiasi Provinsi (Asprov) Kalimantan Timur yang tegas menyatakan putusan Komdis hanya sebatas membunuh bukan membina.</description><link>https://bola.okezone.com/read/2014/11/03/49/1060159/komdis-hanya-menghukum-bukan-membina</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://bola.okezone.com/read/2014/11/03/49/1060159/komdis-hanya-menghukum-bukan-membina"/><item><title>&quot;Komdis Hanya Menghukum Bukan Membina&quot;</title><link>https://bola.okezone.com/read/2014/11/03/49/1060159/komdis-hanya-menghukum-bukan-membina</link><guid isPermaLink="false">https://bola.okezone.com/read/2014/11/03/49/1060159/komdis-hanya-menghukum-bukan-membina</guid><pubDate>Senin 03 November 2014 00:54 WIB</pubDate><dc:creator>Decky Irawan Jasri</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2014/11/03/49/1060159/komdis-hanya-menghukum-bukan-membina-S1ypZ6URHY.jpg" expression="full" type="image/jpeg">PSIS (berkaus biru) hanya mau menghindari skenario kotor yang dibuat PSS Sleman (berkaus hijau). (Foto: Antara/Rekotomo)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2014/11/03/49/1060159/komdis-hanya-menghukum-bukan-membina-S1ypZ6URHY.jpg</image><title>PSIS (berkaus biru) hanya mau menghindari skenario kotor yang dibuat PSS Sleman (berkaus hijau). (Foto: Antara/Rekotomo)</title></images><description>
JAKARTA - Putusan Komisi Disiplin (Komdis) PSSI terkait &quot;sepakbola gajah&quot; PSS Sleman versus PSIS Semarang kembali menelan kritik. Kali ini giliran Asosiasi Provinsi (Asprov) Kalimantan Timur yang tegas menyatakan putusan Komdis hanya sebatas membunuh bukan membina.
&amp;nbsp;Seperti diketahui bersama, nasib Elang Jawa, julukan PSS, dan PSIS di Divisi Utama 2014 sudah tamat. Setelah Komdis yang diketuai Hinca Panjaitan, memberikan hukuman berat diskualifikasi atas aksi tidak fair kedua kesebelasan. Keduanya dihukum berat, setelah sama-sama mencetak gol bunuh diri dalam laga yang berkesudahan, 3-2, untuk PSIS.
&amp;nbsp;Lewat ketua Asprov Kalimantan Timur, Yunus Nusi, dirinya menyatakan, Komdis seharusnya turut memeriksa semua elemen yang terkait didalamnya. Dan jangan langsung memberikan hukuman yang hanya &quot;membunuh&quot; kedua tim yang terlihat dalam kasus memalukan itu.
&amp;nbsp;''Keputusan Komdis aneh. Bila memberikan sanksi kepala klub, seharusnya didahului dengan investigasi oleh seluruh elemen PSSI. Harus diperiksa juga indikasi-indikasi yang memengaruhi,'' ungkap Yunus.
&amp;nbsp;Dirinya pun mengurai, setelah adanya putusan itu banyak pihak yang dimatikan secara tidak langsung. Seperti diantaranya mulai dari manajemen, pelatih, pemain, ofisial, bahkan suporter. Dengan memberi sanksi kepada klub, sama saja mematikan seluruh elemen tersebut. Apalagi hukuman sendiri, tidak boleh lagi dibanding.
&amp;nbsp;''Kalau sudah terjadi kejadian seperti ini, siapa yang disalahkan?  Jangan selalu memberi kesalahan dan sanksi kepada klub. Bila terus begitu, sepak bola Indonesia tidak akan maju. Harusnya ada hubungan yang baik antara manajemen persepakbolaan dalam hal ini PSSI dengan pelaku sepak bola (klub),'' tuturnya.

</description><content:encoded>
JAKARTA - Putusan Komisi Disiplin (Komdis) PSSI terkait &quot;sepakbola gajah&quot; PSS Sleman versus PSIS Semarang kembali menelan kritik. Kali ini giliran Asosiasi Provinsi (Asprov) Kalimantan Timur yang tegas menyatakan putusan Komdis hanya sebatas membunuh bukan membina.
&amp;nbsp;Seperti diketahui bersama, nasib Elang Jawa, julukan PSS, dan PSIS di Divisi Utama 2014 sudah tamat. Setelah Komdis yang diketuai Hinca Panjaitan, memberikan hukuman berat diskualifikasi atas aksi tidak fair kedua kesebelasan. Keduanya dihukum berat, setelah sama-sama mencetak gol bunuh diri dalam laga yang berkesudahan, 3-2, untuk PSIS.
&amp;nbsp;Lewat ketua Asprov Kalimantan Timur, Yunus Nusi, dirinya menyatakan, Komdis seharusnya turut memeriksa semua elemen yang terkait didalamnya. Dan jangan langsung memberikan hukuman yang hanya &quot;membunuh&quot; kedua tim yang terlihat dalam kasus memalukan itu.
&amp;nbsp;''Keputusan Komdis aneh. Bila memberikan sanksi kepala klub, seharusnya didahului dengan investigasi oleh seluruh elemen PSSI. Harus diperiksa juga indikasi-indikasi yang memengaruhi,'' ungkap Yunus.
&amp;nbsp;Dirinya pun mengurai, setelah adanya putusan itu banyak pihak yang dimatikan secara tidak langsung. Seperti diantaranya mulai dari manajemen, pelatih, pemain, ofisial, bahkan suporter. Dengan memberi sanksi kepada klub, sama saja mematikan seluruh elemen tersebut. Apalagi hukuman sendiri, tidak boleh lagi dibanding.
&amp;nbsp;''Kalau sudah terjadi kejadian seperti ini, siapa yang disalahkan?  Jangan selalu memberi kesalahan dan sanksi kepada klub. Bila terus begitu, sepak bola Indonesia tidak akan maju. Harusnya ada hubungan yang baik antara manajemen persepakbolaan dalam hal ini PSSI dengan pelaku sepak bola (klub),'' tuturnya.

</content:encoded></item></channel></rss>
