<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Prandelli &amp; Collina Soroti &quot;Penyakit&quot; Rasisme di Italia</title><description>Segenap kompetisi level klub di Italia rampung digelar. Tapi sayangnya, racun bernama rasisme masih saja bercokol dalam momen-momen tertentu. Padahal penyakit laten itu sudah semestinya lenyap dari negeri pizza tersebut.</description><link>https://bola.okezone.com/read/2013/05/21/47/809974/prandelli-collina-soroti-penyakit-rasisme-di-italia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://bola.okezone.com/read/2013/05/21/47/809974/prandelli-collina-soroti-penyakit-rasisme-di-italia"/><item><title>Prandelli &amp; Collina Soroti &quot;Penyakit&quot; Rasisme di Italia</title><link>https://bola.okezone.com/read/2013/05/21/47/809974/prandelli-collina-soroti-penyakit-rasisme-di-italia</link><guid isPermaLink="false">https://bola.okezone.com/read/2013/05/21/47/809974/prandelli-collina-soroti-penyakit-rasisme-di-italia</guid><pubDate>Selasa 21 Mei 2013 00:10 WIB</pubDate><dc:creator>Randy Wirayudha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2013/05/20/47/809974/kDosQFbdeL.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Pierluigi Collina (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2013/05/20/47/809974/kDosQFbdeL.JPG</image><title>Pierluigi Collina (Foto: Reuters)</title></images><description>ROMA &amp;ndash; Segenap kompetisi level klub di Italia rampung digelar. Tapi sayangnya, racun bernama rasisme masih saja bercokol dalam momen-momen tertentu. Padahal penyakit laten itu sudah semestinya lenyap dari negeri pizza tersebut.
&amp;nbsp;
Il Tecnico Nazionale Cesare Prandelli mengakui, problema rasisme memang sudah terbilang &amp;ldquo;menahun&amp;rdquo; dan sulit diberantas. Tapi bukan berarti mustahil. Rasisme sudah menjadi sebuah kebiasaan yang sudah seharusnya bisa diatasi pihak-pihak yang berwenang dalam sepakbola Italia.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Rasisme menjadi masalah umum dalam sepakbola Italia. Untuk menjadi negara sepakbola yang dihormati, kami tak boleh memberi toleransi pada masalah itu lagi,&amp;rdquo; seru Prandelli, sebagaimana dinukil Football-Italia, Selasa (21/5/2013).
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Biasanya rasisme dimulai dari sorakan dan olok-olok biasa, tapi setelah itu Anda pasti tahu arahnya akan ke mana lagi. memang kompleks untuk memberantasnya, tapi Anda harus terus menjelaskan pada para suporter untuk menjaga perilakunya,&amp;rdquo; lanjutnya.
&amp;nbsp;
Soal rasisme yang sudah harus dijinakkan, Pierluigi Collina mengaku sepakat. Mantan wasit ternama Italia itu ingin sudah ada temuan baru untuk memecahkan masalah rasisme dengan lebih efektif.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Rasisme adalah masalah yang wajib untuk segera ditemukan solusinya,&amp;rdquo; ungkap mantan wasit yang kini memimpin Komisi Wasit UEFA tersebut.
&amp;nbsp;
Lebih jauh, pria paruh baya dengan kepala plontos nan khas itu juga ingin merevisi regulasi perihal korban &amp;ndash; dalam hal ini pemain, yang sebelumnya tak diperbolehkan bermain lagi jika meninggalkan lapangan secara sepihak ketika terjadi serangan rasis.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Tidaklah tepat jika seorang pemain, dalam kasus mempertahankan harga diri, harus diusir keluar lapangan selamanya. Jika dia merasa terpaksa keluar lapangan karena serangan rasis, tak semestinya dia benar-benar dikeluarkan dari lapangan jika pertandingan dilanjutkan kembali,&amp;rdquo; pungkas Collina.</description><content:encoded>ROMA &amp;ndash; Segenap kompetisi level klub di Italia rampung digelar. Tapi sayangnya, racun bernama rasisme masih saja bercokol dalam momen-momen tertentu. Padahal penyakit laten itu sudah semestinya lenyap dari negeri pizza tersebut.
&amp;nbsp;
Il Tecnico Nazionale Cesare Prandelli mengakui, problema rasisme memang sudah terbilang &amp;ldquo;menahun&amp;rdquo; dan sulit diberantas. Tapi bukan berarti mustahil. Rasisme sudah menjadi sebuah kebiasaan yang sudah seharusnya bisa diatasi pihak-pihak yang berwenang dalam sepakbola Italia.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Rasisme menjadi masalah umum dalam sepakbola Italia. Untuk menjadi negara sepakbola yang dihormati, kami tak boleh memberi toleransi pada masalah itu lagi,&amp;rdquo; seru Prandelli, sebagaimana dinukil Football-Italia, Selasa (21/5/2013).
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Biasanya rasisme dimulai dari sorakan dan olok-olok biasa, tapi setelah itu Anda pasti tahu arahnya akan ke mana lagi. memang kompleks untuk memberantasnya, tapi Anda harus terus menjelaskan pada para suporter untuk menjaga perilakunya,&amp;rdquo; lanjutnya.
&amp;nbsp;
Soal rasisme yang sudah harus dijinakkan, Pierluigi Collina mengaku sepakat. Mantan wasit ternama Italia itu ingin sudah ada temuan baru untuk memecahkan masalah rasisme dengan lebih efektif.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Rasisme adalah masalah yang wajib untuk segera ditemukan solusinya,&amp;rdquo; ungkap mantan wasit yang kini memimpin Komisi Wasit UEFA tersebut.
&amp;nbsp;
Lebih jauh, pria paruh baya dengan kepala plontos nan khas itu juga ingin merevisi regulasi perihal korban &amp;ndash; dalam hal ini pemain, yang sebelumnya tak diperbolehkan bermain lagi jika meninggalkan lapangan secara sepihak ketika terjadi serangan rasis.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Tidaklah tepat jika seorang pemain, dalam kasus mempertahankan harga diri, harus diusir keluar lapangan selamanya. Jika dia merasa terpaksa keluar lapangan karena serangan rasis, tak semestinya dia benar-benar dikeluarkan dari lapangan jika pertandingan dilanjutkan kembali,&amp;rdquo; pungkas Collina.</content:encoded></item></channel></rss>
