<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Agum: Rekonsiliasi Lebih Enak Didengar </title><description>Mantan Ketum PSSI periode 1998 - 2003 menginginkan yang terbaik bagi persepakbolaan Indonesia. Agum meminta, baik PSSI dan KPSI, bisa mengedepankan usaha rekonsiliasi.</description><link>https://bola.okezone.com/read/2012/03/15/51/594015/agum-rekonsiliasi-lebih-enak-didengar</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://bola.okezone.com/read/2012/03/15/51/594015/agum-rekonsiliasi-lebih-enak-didengar"/><item><title>Agum: Rekonsiliasi Lebih Enak Didengar </title><link>https://bola.okezone.com/read/2012/03/15/51/594015/agum-rekonsiliasi-lebih-enak-didengar</link><guid isPermaLink="false">https://bola.okezone.com/read/2012/03/15/51/594015/agum-rekonsiliasi-lebih-enak-didengar</guid><pubDate>Kamis 15 Maret 2012 18:22 WIB</pubDate><dc:creator>Decky Irawan Jasri</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2012/03/15/51/594015/xQ0oK5k6ZD.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Agum Gumelar (tengah).(Dok: okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2012/03/15/51/594015/xQ0oK5k6ZD.jpg</image><title>Agum Gumelar (tengah).(Dok: okezone)</title></images><description>JAKARTA - Mantan Ketua Umum (Ketum) PSSI periode 1998 - 2003 menginginkan yang terbaik bagi persepakbolaan Indonesia. Agum meminta, baik PSSI dan Komite Penyelemat Sepak bola Indonesia (KPSI), bisa mengedepankan usaha rekonsiliasi.
&amp;nbsp;
Bersatu demi kepentingan sepak bola Indonesia kedepannya, adalah harapan yang disampaikan pria kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, 17 Desember 1945 tersebut. Berbicara dengan hati dan penuh rasa persaudaraan, adalah satu cara untuk mendapatkan titik temu dari dua perbedaan yang terjadi saat ini.
&amp;nbsp;
Dalam kesempatan kali ini, Agum pun sangat berharap rekonsiliasi bisa diwujudkan kedua kubu. Upaya rekonsiliasi menurutnya jadi satu-satu jalan untuk menyatukan berbagai pihak yang berseteru. Karena jika terus berkonflik, bukan tidak mungkin sanksi FIFA akan diterima sepak bola Indonesia.
&amp;nbsp;
&quot;Kedua kubu harusnya berbicara dengan hati. Karena kejernihan hati yang akan mengedepankan kepentingan bangsa. Kalau terus mengedepankan kepentingan pribadi atau golongan, hukuman FIFA pasti akan datang,&quot; ungkap Agum.
&amp;nbsp;
&quot;Saya pastinya tak ingin sampai di suspend. Namun, bicara rekonsiliasi hanya enak untuk didengar. Jika melihat kondisi sekarang, kata-kata rekonsiliasi sepertinya sulit untuk dilakukan. Masyarakat harus siap-siap menerima hal itu dan bisa menyikapinya dengan positif,&quot; sambungnya.
&amp;nbsp;
Agum yang sempat menjabat Ketua Komite Normalisasi (KN) yang merupakan bentukan FIFA beberapa waktu lalu, menjadi awal terpilihnya Djohar Arifin Husin sebagai ketum PSSI yang baru. Apabila kisrus saat ini berlanjut, dirinya mengaku tidak mau lagi diposisikan sebagai Ketua KN kembali.
&amp;nbsp;
&quot;Jika memang itu terjadi. Saya menolak. Mari kita cari bersama-sama siapa yang memang bisa menyelesaikan ini semua. Tentu saja, kepentingan bangsa dan negara harus dikedepankan,&quot; tandas Agum.</description><content:encoded>JAKARTA - Mantan Ketua Umum (Ketum) PSSI periode 1998 - 2003 menginginkan yang terbaik bagi persepakbolaan Indonesia. Agum meminta, baik PSSI dan Komite Penyelemat Sepak bola Indonesia (KPSI), bisa mengedepankan usaha rekonsiliasi.
&amp;nbsp;
Bersatu demi kepentingan sepak bola Indonesia kedepannya, adalah harapan yang disampaikan pria kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, 17 Desember 1945 tersebut. Berbicara dengan hati dan penuh rasa persaudaraan, adalah satu cara untuk mendapatkan titik temu dari dua perbedaan yang terjadi saat ini.
&amp;nbsp;
Dalam kesempatan kali ini, Agum pun sangat berharap rekonsiliasi bisa diwujudkan kedua kubu. Upaya rekonsiliasi menurutnya jadi satu-satu jalan untuk menyatukan berbagai pihak yang berseteru. Karena jika terus berkonflik, bukan tidak mungkin sanksi FIFA akan diterima sepak bola Indonesia.
&amp;nbsp;
&quot;Kedua kubu harusnya berbicara dengan hati. Karena kejernihan hati yang akan mengedepankan kepentingan bangsa. Kalau terus mengedepankan kepentingan pribadi atau golongan, hukuman FIFA pasti akan datang,&quot; ungkap Agum.
&amp;nbsp;
&quot;Saya pastinya tak ingin sampai di suspend. Namun, bicara rekonsiliasi hanya enak untuk didengar. Jika melihat kondisi sekarang, kata-kata rekonsiliasi sepertinya sulit untuk dilakukan. Masyarakat harus siap-siap menerima hal itu dan bisa menyikapinya dengan positif,&quot; sambungnya.
&amp;nbsp;
Agum yang sempat menjabat Ketua Komite Normalisasi (KN) yang merupakan bentukan FIFA beberapa waktu lalu, menjadi awal terpilihnya Djohar Arifin Husin sebagai ketum PSSI yang baru. Apabila kisrus saat ini berlanjut, dirinya mengaku tidak mau lagi diposisikan sebagai Ketua KN kembali.
&amp;nbsp;
&quot;Jika memang itu terjadi. Saya menolak. Mari kita cari bersama-sama siapa yang memang bisa menyelesaikan ini semua. Tentu saja, kepentingan bangsa dan negara harus dikedepankan,&quot; tandas Agum.</content:encoded></item></channel></rss>
