<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Penonton Klub-klub IPL Jatim Belum Ada Kemajuan Berarti</title><description>Beberapa pekan setelah Indonesia Premier League (IPL) belum ada sebuah terobosan baru, sehingga sejauh ini rataan penonton yang datang ke stadion masih cukup standar.</description><link>https://bola.okezone.com/read/2011/12/25/49/547071/penonton-klub-klub-ipl-jatim-belum-ada-kemajuan-berarti</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://bola.okezone.com/read/2011/12/25/49/547071/penonton-klub-klub-ipl-jatim-belum-ada-kemajuan-berarti"/><item><title>Penonton Klub-klub IPL Jatim Belum Ada Kemajuan Berarti</title><link>https://bola.okezone.com/read/2011/12/25/49/547071/penonton-klub-klub-ipl-jatim-belum-ada-kemajuan-berarti</link><guid isPermaLink="false">https://bola.okezone.com/read/2011/12/25/49/547071/penonton-klub-klub-ipl-jatim-belum-ada-kemajuan-berarti</guid><pubDate>Minggu 25 Desember 2011 23:23 WIB</pubDate><dc:creator>Kukuh Setiawan (Koran Sindo)</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2011/12/25/49/547071/zC6TfyJ9nk.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Logo IPL/Ist</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2011/12/25/49/547071/zC6TfyJ9nk.jpg</image><title>Logo IPL/Ist</title></images><description>MALANG&amp;mdash;Penonton atau supporter menjadi salah satu elemen yang tak bisa dilepaskan dari sepakbola modern. Peran supporter disebut sebagai pilar utama dalam menopang kemandirian klub dari sisi finansial yang menjadi impian di persepakbolaan Indonesia.
&amp;nbsp;
Sayang keseriusan dalam mengelola supporter maupun penonton terkesan masih belum ada pergerakan signifikan. Beberapa pekan setelah Indonesia Premier League (IPL) belum ada sebuah terobosan baru, sehingga sejauh ini rataan penonton yang datang ke stadion masih cukup standar.
&amp;nbsp;
Dari empat klub Jawa Timur yang berlaga di IPL, hanya Persema Malang yang sama sekali belum memainkan pertandingan kandang. Sedangkan tiga klub lain, Arema FC, Persebaya Surabaya dan Persibo Bojonegoro, telah mencicipi sarangnya.
&amp;nbsp;
Satu-satunya kejutan dari tiga klub tersebut adalah Arema FC. Klub yang bergeser ke Stadion Gajayana ini semula diprediksi tak begitu diminati publik bola Malang sekaligus Aremania. Nyatanya mereka yang datang ke stadion justru di luar dugaan.
&amp;nbsp;
Di dua pertandingan kandang kontra PSMS Medan dan Persibo Bojonegoro, rataan penonton mencapai 15.000 hingga 20.000. Pemasukan yang diperoleh panitia pelaksana (panpel) pertandingan juga lumayan, yakni di atas Rp900 juta untuk dua laga tersebut.
&amp;nbsp;
Ini kejutan yang mencengangan, mengingat sebelumnya Singo Edan dihancurleburkan sengketa manajemen. Apalagi tak sedikit supporter yang antipati terhadap IPL dan masih setia kompetisi terdahulu. Jumlah penonton diprediksi masih bisa terus menanjak jika Arema FC melanjutkan hasil positif.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Kapasitas Stadion Gajayana mencapai 25.000 penonton, jadi masih ada peluang meningkatkan penjualan tiket. Tapi kami akui semua juga tergantung penampilan tim. Kalau bisa stabil, kami masih yakin stadion bisa mencapai daya tampung maksimal,&amp;rdquo; terang Media Officer Arema FC Noor Ramadhan.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
Strategi yang dilakukan manajemen Arema juga sudah mulai kelihatan, misalnya memberikan door prize di pertandingan kedua kontra Persibo. Walau belum bisa diukur berapa persen peningkatan penonton karena adanya door prize, tapi paling tidak sudah ada upaya untuk menarik penonton
&amp;nbsp;
Jumlah penonton yang terbilang stabil terjadi di Gelora 10 November, Surabaya. Bonekmania yang menyaksikan pertandingan laga kandang Persebaya Surabaya kontra Semen Padang tak kurang dari 15.000 kepala dan itu sudah cukup memuaskan.
&amp;nbsp;
Sebenarnya Bajul Ijo bisa &amp;lsquo;menyeret&amp;rsquo; penonton melebihi angka itu karena kuota stadion masih jauh di atasnya. Hanya saja fluktuasi penonton bisa dipengaruhi berbagai faktor, seperti hasil laga tim sebelumnya, daya beli tiket, bahkan juga faktor cuaca sehingga penonton malas pergi ke stadion.
&amp;nbsp;
Angka 15.000 juga tergolong minimalis untuk klub sekaliber Persebaya dengan domain supporter yang demikian luar biasa. Apalagi diukur dari minat supporter, tim asuhan Divaldo Alves masih jauh lebih kuat dalam menarik penonton dibanding Persebaya Divisi Utama.
&amp;nbsp;
Tampaknya manajemen Persebaya masih perlu strategi khusus untuk bisa memaksimalkan penjualan tiket. Atau paling tidak menjadikan angka tersebut sebagai batas minimal jumlah supporter di Gelora 10 November, melihat prestasi Persebaya yang masih belum stabil.
&amp;nbsp;
Persibo Bojonegoro yang juga baru melakoni satu laga kandang, belum bisa diukur secara pasti berapa rataan penonton yang ke stadion. Saat pertandingan kontra Persiraja Banda Aceh, jumlah penonton berada di kisaran 5.000 kepala dan itu tergolong masih kecil.
&amp;nbsp;
Biasanya stadion berkapasitas maksimal 15.000 ini selalu terisi penuh Boromania, supporter Persibo. &amp;ldquo;Mungkin karena kompetisi masih awal. Melihat gairah Boromania musim lalu, tampaknya juga terjadi musim ini dan stadion hampir selalu penuh,&amp;rdquo; ungkap Nur Yahya, Manager Persibo.
&amp;nbsp;
Persibo sendiri hingga kini belum merancang sebuah startegi untuk menarik lebih banyak penonton ke stadion. Kapasitas stadion yang masih mungil memang masih menjadi kendala bagi tim oranye untuk memaksimalkan perolehan tiket laga kandang.
&amp;nbsp;
Yang masih menjadi pertanyaan adalah Persema Malang. Sulit untuk bicara supporter jika mengulas klub satu ini. Klub dengan supporter terkecil di Jawa Timur tersebut kemungkinan tak akan banyak berubah dibanding musim-musim sebelumnya. Maksimal hanya 5.000 pasang mata yang datang ke stadion.
&amp;nbsp;
Jika diambil rata-rata, penonton Laskar Ken Arok di Stadion Gajayana hanya mencapai 2.500 saja. Walau belum melakoni laga kandang, kondisi tribun Gajayana terlalu mudah diprediksi. Manajemen Persema tak pernah menemukan solusi jitu untuk membuat stadion penuh.
&amp;nbsp;
Malah terkadang penonton yang datang ke stadion sebagian digratiskan. Manusia yang datang ke stadion saat Persema bertanding bukanlah supporter, melainkan orang yang benar-benar ingin hiburan dari sepakbola. Atau sekadar mengisi waktu luang di sore hari.
&amp;nbsp;
Situasi seperti ini yang membuat Persema tak pernah berkembang dan terus menjadi nomor dua di Malang setelah Arema FC. Upaya manajemen yang melempar saham ke publik, nyatanya juga tidak ada respons. Mimpi untuk menjadi tim mandiri tampaknya bakal terus menjadi mimpi bagi Laskar Ken Arok.</description><content:encoded>MALANG&amp;mdash;Penonton atau supporter menjadi salah satu elemen yang tak bisa dilepaskan dari sepakbola modern. Peran supporter disebut sebagai pilar utama dalam menopang kemandirian klub dari sisi finansial yang menjadi impian di persepakbolaan Indonesia.
&amp;nbsp;
Sayang keseriusan dalam mengelola supporter maupun penonton terkesan masih belum ada pergerakan signifikan. Beberapa pekan setelah Indonesia Premier League (IPL) belum ada sebuah terobosan baru, sehingga sejauh ini rataan penonton yang datang ke stadion masih cukup standar.
&amp;nbsp;
Dari empat klub Jawa Timur yang berlaga di IPL, hanya Persema Malang yang sama sekali belum memainkan pertandingan kandang. Sedangkan tiga klub lain, Arema FC, Persebaya Surabaya dan Persibo Bojonegoro, telah mencicipi sarangnya.
&amp;nbsp;
Satu-satunya kejutan dari tiga klub tersebut adalah Arema FC. Klub yang bergeser ke Stadion Gajayana ini semula diprediksi tak begitu diminati publik bola Malang sekaligus Aremania. Nyatanya mereka yang datang ke stadion justru di luar dugaan.
&amp;nbsp;
Di dua pertandingan kandang kontra PSMS Medan dan Persibo Bojonegoro, rataan penonton mencapai 15.000 hingga 20.000. Pemasukan yang diperoleh panitia pelaksana (panpel) pertandingan juga lumayan, yakni di atas Rp900 juta untuk dua laga tersebut.
&amp;nbsp;
Ini kejutan yang mencengangan, mengingat sebelumnya Singo Edan dihancurleburkan sengketa manajemen. Apalagi tak sedikit supporter yang antipati terhadap IPL dan masih setia kompetisi terdahulu. Jumlah penonton diprediksi masih bisa terus menanjak jika Arema FC melanjutkan hasil positif.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Kapasitas Stadion Gajayana mencapai 25.000 penonton, jadi masih ada peluang meningkatkan penjualan tiket. Tapi kami akui semua juga tergantung penampilan tim. Kalau bisa stabil, kami masih yakin stadion bisa mencapai daya tampung maksimal,&amp;rdquo; terang Media Officer Arema FC Noor Ramadhan.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
Strategi yang dilakukan manajemen Arema juga sudah mulai kelihatan, misalnya memberikan door prize di pertandingan kedua kontra Persibo. Walau belum bisa diukur berapa persen peningkatan penonton karena adanya door prize, tapi paling tidak sudah ada upaya untuk menarik penonton
&amp;nbsp;
Jumlah penonton yang terbilang stabil terjadi di Gelora 10 November, Surabaya. Bonekmania yang menyaksikan pertandingan laga kandang Persebaya Surabaya kontra Semen Padang tak kurang dari 15.000 kepala dan itu sudah cukup memuaskan.
&amp;nbsp;
Sebenarnya Bajul Ijo bisa &amp;lsquo;menyeret&amp;rsquo; penonton melebihi angka itu karena kuota stadion masih jauh di atasnya. Hanya saja fluktuasi penonton bisa dipengaruhi berbagai faktor, seperti hasil laga tim sebelumnya, daya beli tiket, bahkan juga faktor cuaca sehingga penonton malas pergi ke stadion.
&amp;nbsp;
Angka 15.000 juga tergolong minimalis untuk klub sekaliber Persebaya dengan domain supporter yang demikian luar biasa. Apalagi diukur dari minat supporter, tim asuhan Divaldo Alves masih jauh lebih kuat dalam menarik penonton dibanding Persebaya Divisi Utama.
&amp;nbsp;
Tampaknya manajemen Persebaya masih perlu strategi khusus untuk bisa memaksimalkan penjualan tiket. Atau paling tidak menjadikan angka tersebut sebagai batas minimal jumlah supporter di Gelora 10 November, melihat prestasi Persebaya yang masih belum stabil.
&amp;nbsp;
Persibo Bojonegoro yang juga baru melakoni satu laga kandang, belum bisa diukur secara pasti berapa rataan penonton yang ke stadion. Saat pertandingan kontra Persiraja Banda Aceh, jumlah penonton berada di kisaran 5.000 kepala dan itu tergolong masih kecil.
&amp;nbsp;
Biasanya stadion berkapasitas maksimal 15.000 ini selalu terisi penuh Boromania, supporter Persibo. &amp;ldquo;Mungkin karena kompetisi masih awal. Melihat gairah Boromania musim lalu, tampaknya juga terjadi musim ini dan stadion hampir selalu penuh,&amp;rdquo; ungkap Nur Yahya, Manager Persibo.
&amp;nbsp;
Persibo sendiri hingga kini belum merancang sebuah startegi untuk menarik lebih banyak penonton ke stadion. Kapasitas stadion yang masih mungil memang masih menjadi kendala bagi tim oranye untuk memaksimalkan perolehan tiket laga kandang.
&amp;nbsp;
Yang masih menjadi pertanyaan adalah Persema Malang. Sulit untuk bicara supporter jika mengulas klub satu ini. Klub dengan supporter terkecil di Jawa Timur tersebut kemungkinan tak akan banyak berubah dibanding musim-musim sebelumnya. Maksimal hanya 5.000 pasang mata yang datang ke stadion.
&amp;nbsp;
Jika diambil rata-rata, penonton Laskar Ken Arok di Stadion Gajayana hanya mencapai 2.500 saja. Walau belum melakoni laga kandang, kondisi tribun Gajayana terlalu mudah diprediksi. Manajemen Persema tak pernah menemukan solusi jitu untuk membuat stadion penuh.
&amp;nbsp;
Malah terkadang penonton yang datang ke stadion sebagian digratiskan. Manusia yang datang ke stadion saat Persema bertanding bukanlah supporter, melainkan orang yang benar-benar ingin hiburan dari sepakbola. Atau sekadar mengisi waktu luang di sore hari.
&amp;nbsp;
Situasi seperti ini yang membuat Persema tak pernah berkembang dan terus menjadi nomor dua di Malang setelah Arema FC. Upaya manajemen yang melempar saham ke publik, nyatanya juga tidak ada respons. Mimpi untuk menjadi tim mandiri tampaknya bakal terus menjadi mimpi bagi Laskar Ken Arok.</content:encoded></item></channel></rss>
