MADRID – Jabatan kepelatihan José Mourinho di Real Madrid akhirnya dilucuti petinggi klub. Mou – panggilan Mourinho, juga sedianya menyadari bahwa musim ini, merupakan kegagalannya…musim terburuk yang pernah tercatat dalam karier emas kepelatihannya.
Sebelumnya, kontrak Mou resmi diputus pada musim ketiga oleh petinggi klub. Alasannya, jelas lantaran musim ini, Los Blancos terpaksa menelan malu tanpa gelar. Setelah gagal mengentaskan ambisi La Decima di Liga Champions, Madrid gagal mempertahankan gelar La Liga yang direbut kembali seteru abadi mereka, Barcelona.
Terakhir, Madrid juga mesti gigit jari setelah trofi Piala Raja, jatuh ke tangan saudara sekota, Atlético Madrid, pekan lalu. Untuk pertama kalinya, Mou harus mengakhiri musim minus satu pun gelar – capaian yang tak lazim di masa-masa kepelatihan sebelumnya di klub-klub lain.
Padahal pada debut musimnya, The Only One sukses merengkuh gelar pertamanya berupa Copa del Rey bersama El Real. Di musim kedua, Mou bahkan mengantarkan Madrid mematahkan supremasi Barcelona di La Liga.
“Saya gagal musim ini. Saya rasa normal untuk musim pertama saya ketika kami memenangkan Piala (Raja) – sebuah trofi di mana Madrid sudah tak memenangkannya dalam 20 tahun terakhir. Kami juga mencapai semifinal Champions League dan bertarung sengit hingga akhir di Liga dengan tim yang banyak dikatakan orang…sebagai tim terbaik dunia,” ujarnya.
“Musim kedua saya jelas bukan kegagalan karena kami memenangkan Liga melawan tim terbaik di dunia dan kembali ke semifinal Champions League, meski harus kalah adu penalti. Saya minta maaf karena selalu punya pengalaman buruk dengan adu penalti,” imbuhnya kepada SkySports, Selasa (21/5/2013).
Dan di musim ketiga alias musim ini, jelas Madrid gagal total. Sejatinya, Madrid bisa dibilang tidak mengakhiri musim tanpa gelar lantaran memenangkan Piala Super Spanyol, sebelum memulai La Liga musim 2012/2013. Tapi buat Mou, gelar itu tak masuk hitungan musim ini.
“Musim ketiga merupakan kegagalan. Musim ini merupakan yang terburuk dalam hidu saya. Bagi pelatih lain mungkin tak merasakan hal yang sama, tapi buat saya buruk sekali,” tambah pelatih nyentrik itu.
“Saya tak pernah mengakhiri musim tanpa satu pun gelar penting. Supercopa sama sekali tak membuat saya puas,” tukas eks-pembesut FC Porto, Chelsea dan Inter Milan tersebut.
(Randy Wirayudha)