Kisah Ibra: Dari Lihat Moggi Menangis & Saran ke Moratti

Windi Wicaksono, Jurnalis
Kamis 10 November 2011 03:02 WIB
Zlatan Ibrahimovic /Daylife
Share :

MILAN – Buku Otobiografi yang ditulis Zlatan Ibrahimovic ternyata juga mencakup skandal Calciopoli. Bahkan Ibra menjadi salah satu pemain yang paling disorot setelah Calciopoli karena keputusannya pindah ke Inter Milan, yang notabenenya rival Juventus yang saat itu masih dibela Ibra.
 
Striker AC Milan ini akan merilis bukunya yang berjudul 'Io Ibra' pada hari Jumat (11/11/2011), tetapi La Gazzetta dello Sport telah bocor beberapa kutipan menarik tentang sidang Calciopoli 2006 lalu yang tertera dalam tulisan Ibra di buku Otobiografinya.
 
"Itu sampah semua (Calciopoli), setidaknya sebagian dari itu," tulis pemain internasional Swedia itu. "Keuntungan Wasit tidak kita nikmati? Oh, ayolah! Kami berjuang keras di lapangan. Kami mempertaruhkan kaki kami dan melakukan semuanya tanpa bantuan dari wasit. Ini semua beban moral bagi kami," papar Ibra dalam tulisannya.
 
Skandal Calciopoli sendiri berpusat pada telepon yang disadap saat menerima panggilan yang dibuat oleh direktur umum Juventus Luciano Moggi. Ibrahimovic sendiri mengungkapkan apa yang terjadi dalam pertemuan krisis untuk mendiskusikan situasi dalam skuad Bianconeri saat itu.
 
"Dia mulai menangis, di sana, di depan kami semua. Rasanya seperti pukulan di perut. Saya belum pernah melihatnya lemah sebelumnya. Pria ini selalu disinari rasa kekuasaan dan kekuatan. Sekarang, tiba-tiba, saya merasa kasihan untuknya,” ungkap mantan pemain Barcelona ini seperti dilansir Football-Italia, Kamis (10/11/2011).
 
"Pertama kali saya bertemu Moggi, dia mengenakan setelan yang sangat elegan dan bermain-main dengan cerutu besar. Anda bisa memahami langsung ini adalah seorang pria yang kuat," tuturnya.
 
Ibra meninggalkan Juventus ketika Si Nyonya Tua diturunkan ke Seri B karena skandal pada 2006. Ibra memutuskan bergabung dengan saingan Juve, Inter, tapi dia menemukan masalah klub barunya itu karena ada pengkontak-kontakan pemain, terutama yang dari Brasil dan Argentina.
 
"Tantangan yang sebenarnya di Inter adalah meruntuhkan geng. Saya benci mereka dari hari pertama. Semua tim melakukan jauh lebih baik bila ada kohesi dalam skuad mereka. Dan hal itu kebalikannya di Inter,” terang pemain berusia 30 tahun ini.
 
"Saya langsung bicara kepada Presiden Massimo Moratti dan mengatakan kepadanya bahwa kami harus memecah klan-klan sialan itu. Kami tidak bisa menang jika ruang ganti tidak bersatu," tuntasnya.
 

(Windi Wicaksono)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Bola lainnya