MALANG — Kegembiraan Arema Indonesia melaju ke final Piala Indonesia (PI) 2010, tampaknya harus tertahan. Pasalnya, tim asuhan Robert Albert mengalami masalah serius saat menantang juara bertahan Sriwijaya FC (SFC) di Stadion Manahan, Minggu (1/8/2010).
Apalagi kalau bukan absennya bek tengah Pierre Njanka yang terkena akumulasi kartu kuning. Sebagai pelapis, di belakang kapten Arema asal Kamerun itu sebenarnya masih ada sosok Purwaka Yudhi yang selalu setia menjadi cadangan.
Tapi masalahnya, Purwaka masih dihantam cedera dan dipastikan tak bisa tampil di final besok. Satu-satunya pilihan untuk mengganjal posisi Njanka adalah Waluyo yang akan berdiri sejajar dengan Benny Wahyudi, Zulkifli dan Irfan Raditya.
Dengan pasti absennya Njanka dan Purwaka, stok lini pertahanan Arema hanya menyisakan Hermawan dan Johan Ahmad Farizi. Masalahnya, Johan masih miskin pengalaman, sedangkan Hermawan berposisi sebagai full back. “Kemungkinan besar tugas Njanka diberikan ke Waluyo,” kata asisten pelatih Arema Indonesia Liesatiadi.
Selain tergantung pada sosok Waluyo, sebenarnya ada skenario lain yang bisa dijalankan. Yakni menggeser posisi Benny Wahyudi sebagai bek tengah. Selama ini Benny lebih identik dengan posisi full back tapi juga bisa difungsikan di tengah.
Diakui Liestiadi, hilangnya Njanka menjadi pukulan telak bagi timnya, terlebih untuk laga final. Ini karena mantan pemain Persija Jakarta tersebut bukan sekadar bek tangguh. Njanka sekaligus sebagai pemimpin dan motivator yang mampu memompa semangat juang pemain muda Arema di lapangan.
Karakter tak kenal kompromi, tekel mematikan dan tangguh di bola atas, menjadikannya sosok penting bagi kesuksesan Arema Indonesia musim ini. Wajar jika pelatih Robert Albert tak bisa menyembunyikan kekecewaannya kala Njanka memperoleh kartu kuning kala menghadapi Persik Kediri di semifinal.
Njanka, yang pernah memperkuat klub Ligue 1 Prancis Strasbourg dan Sedan, sangat menyesal wasit Okki Dwi Putra mengganjarnya dengan kartu kuning. Padahal ia merasa tidak melakukan pelanggaran atau tindakan berlebihan di lapangan.
“Wasit seharusnya tidak memberikan kartu kuning kepada saya. Saya menyesal tidak bisa main di final. Tapi bagaimana lagi. Semoga pemain tidak terpengaruh dan tetap bisa memenangkan pertandingan sehingga bisa juara Piala Indonesia. Saya mendukung dari luar lapangan,” tutur Njanka.
Sementara, kemarin pagi tim Arema Indonesia meninggalkan Malang menuju Solo dengan menggunakan transportasi darat atau bus. Rencananya pagi ini Roman Chmelo dkk menjajal Stadion Manahan Solo.
(Dewi)