Ilustrasi. (Foto: Maulana Surya/Antara)

2 TAHUN JOKOWI-JK: Indonesia Tanpa Kompetisi Sepakbola Resmi

Zanel Farha Wilda

Jum'at, 14 Oktober 2016 - 13:10 wib

MASA pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) akan genap berusia dua tahun pada 20 Oktober 2016. Dalam dua tahun ini, berbagai hal dalam bidang olahraga, baik itu positif maupun negatif, terjadi di Indonesia.

Salah satu hal mengecewakan yang terjadi dalam dua tahun pemerintahan Jokowi-JK adalah tidak adanya kompetisi sepakbola resmi di Indonesia. Keadaan ini awalnya disebabkan oleh pembekuan yang dilakukan pemerintah, dalam hal ini Menpora Imam Nahrawi, kepada federasi sepakbola di Tanah Air yakni PSSI.

Pembekuan yang dilakukan Menpora kepada PSSI terjadi pada 2015. Menpora mengeluarkan surat pembekuan PSSI bernomor 01307 tahun 2015 pada Jumat 17 April 2015. Namun, surat baru diumumkan ke media pada Sabtu 18 April 2015, tanggal diadakannya Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI di Surabaya.

Dalam surat pembekuan tersebut, Menpora menetapkan sanksi administratif, yaitu melarang PSSI melakukan kegiatan apa pun yang berhubungan dengan sepakbola. Menpora juga tidak akan mengakui berbagai kegiatan sepakbola yang dilakukan PSSI.

Mulai dari sini konflik Menpora dan PSSI memanas. Kritik pun hadir kepada Menpora. Menpora dinilai telah salah dalam menerapkan cara untuk memajukan sepakbola. Intervensi Menpora sangat berisiko mendatangkan sanksi FIFA, mengingat pemerintah tidak boleh mencampuri urusan federasi sepakbola dalam hal ini PSSI.

Dampaknya, FIFA benar-benar menjatuhkan hukuman pada sepakbola Indonesia terhitung sejak 30 Mei 2015 saat Kongres FIFA terjadi di Zurich, Swiss. Dalam sanksinya, FIFA melarang PSSI melakukan kegiatan sepakbola apa pun, termasuk kompetisi liga di Indonesia. Timnas Garuda pun dilarang ikut dalam kompetisi internasional.

Hukuman dari FIFA inilah yang pada akhirnya membuat Indonesia tidak memiliki kompetisi resmi di 2016. Klub-klub sepakbola terlantar, banyak para pemain sepakbola di Indonesia yang beralih profesi, seperti menjadi tukang jual jus, ojek online, dan sebagainya.

Kondisi ini tentu menuai keprihatinan. Bagaimana tidak, para pesepakbola di Indonesia tidak memiliki pemasukan lantaran tidak adanya kompetisi sepakbola. Kritik pun kembali hadir untuk Menpora dan pemerintah, karena telah dianggap sebagai biang kerok kondisi memprihatinkan ini.

Pada akhirnya, Menpora dengan bantuan beberapa pihak, mengadakan turnamen tidak resmi. Turnamen ini bisa dibilang sebagai salah satu “pertanggungjawaban” atas kondisi sepakbola yang memprihatinkan. Contoh turnamen yang diadakan adalah Piala Presiden dan Piala Sudirman.

Meski demikian, keberadaan turnamen ini tetap menuai pro dan kontra. Beberapa pemain sepakbola di Indonesia ada yang tidak menyetujui turnamen diadakan terus-menerus karena hal itu dianggap berisiko pada kondisi fisik mereka. Bukannya mendatangkan untung, mereka takut turnamen tidak resmi itu malah merugikan, seperti membuat cedera.

Setelah setahun, tepatnya pada Mei 2016, FIFA akhirnya mencabut sanksi yang diberikan kepada Indonesia, menyusul tidak adanya lagi pembekuan Menpora terhadap PSSI. Pencabutan sanksi FIFA ini pun seakan memberi napas bagi para pesepakbola yang ingin segera mengikuti kompetisi sepakbola resmi di Indonesia. Jika tidak ada kendala, kompetisi resmi sepakbola Indonesia baru akan bergulir awal 2017.

  • techno user Sunarto
    Sunarto • 2bulan lalu
    Punya mentri seperti nachrowi hanya bikin kisruh sepak bola indonesia
    Beri Tanggapan
klasemen
  • Liga Inggris
    Tim Poin
    1 Chelsea FC 31
    2 Liverpool 30
    3 Manchester City 30
    4 Arsenal FC 28
  • Liga Spanyol
    Tim Poin
    1 Real Madrid CF 33
    2 FC Barcelona 27
    3 Sevilla 27
    4 Athletic Madrid 24
  • Liga Italia
    Tim Poin
    1 Juventus 33
    2 AS Roma 29
    3 AC Milan 29
    4 Lazio 28
  • Liga Jerman
    Tim Poin
    1 Red Bull Leipzig 30
    2 FC Bayern Munich 27
    3 Hertha BSC 24
    4 FC Koln 22