Timnas U-19, Representasi Sepakbola 'Pedalaman'

|

Kukuh Setiawan - Koran SI

Timnas Indonesia U-19.(foto:Tarmuji Talmacsi/SINDO)

Timnas U-19, Representasi Sepakbola 'Pedalaman'
SIDOARJO - Tim Nasional (Timnas) Indonesia U-19 akhirnya berhasil mengangkat trofi AFF U-19 Youth Championship 2013. Prestasi yang ditorehkan anak-anak didikan Indra Sjafri ini memunculkan sisi menarik jika melihat sejarah pembentukan tim yang dilakukan sejak beberapa bulan lalu.

Timnas U-19 bisa dibilang tim yang merepresentasikan sepakbola 'pedalaman' karena pemainnya mayoritas bukan dari akademi klub ternama. Selain beberapa pemain yang berlabel SAD, banyak nama yang justru berlatar belakang klub yang belum terkenal di sepakbola nasional.

Bek Sahrul Kurniawan berasal dari Persinga Ngawi, Paulo Sitanggang mewakili Persid Jember, kiper Ravi Murdianto berkostum Perserang Serang, kiper Ruli Desrian asal PPLP Padang, Zulfiandi berlatar belakang PSSB Bireun, sedangan Muchlis Hadi Ning dan Fatchurrohman diambil dari Persekap Pasuruan.

Selain itu ada pemain yang dicomot dari Diklat Ragunan seperti Putu Gede Antara dan Ilham Udin Armayn. Dari daftar di atas, jelas sekali Garuda Muda adalah bakat-bakat alam dan asli lokal yang sebenarnya juga memiliki potensi tak kalah menjanjikan dibanding pemain hasil didikan klub besar.

Lantas, bagaimana Pelatih Indra Sjafri menemukan mereka? "Prosesnya panjang dan saya harus menghabiskan waktu untuk berkeliling ke pelosok dari Indonesia wilayah barat sampai wilayah timur," kata Indra Sjafri memulai percakapan. Selama proses itu, dia tak memandang latar belakang klub yang dibela pemain.

Indra membuang jauh-jauh perbedaan antara klub besar dan kecil, dengan tujuan agar pemain yang nanti bergabung adalah murni memiliki kualitas yang dibutuhkan. Tak heran jika banyak pemain yang justru berlatar belakang klub tanpa memiliki tradisi membanggakan di liga.

Mengorbankan waktu untuk keluarga, Indra terus memburu pemain muda berbakat dengan tekad ingin mengeksplorasi sepakbola di pelosok. Hasilnya, dia menemukan 20 pemain terbaik yang dibawanya ke AFF U-19 Youth Championship, menembus final menghadapi Vietnam, sekaligus merengkuh gelar juara.

"Tim ini hanya sebagian kecil saja dari bakat-bakat yang ada di pelosok Indonesia. Sebenarnya masih sangat banyak, baik yang sudah memiliki klub atau belum. Saya berharap ke depannya bakat-bakat yang kurang terpantau itu nantinya juga mendapat kesempatan," demikian Indra Sjafri.

Sekadar mengulang masa lalu, tekad Indra menjelajah negeri mencari pesepakbola muda berbakat itu ternyata lahir dari kekecewaannya tak bisa menembus seleksi tim PON Sumatera Barat ketika dia masih muda. Dia saat itu menyadari bahwa dirinya dan banyak anak laki-laki di Indonesia tak mendapatkan kesempatan walau memiliki kemampuan.

Dari situ Indra yang meletakkan jabatan sebagai kepala kantor pos untuk menjadi pelatih sepakbola, memiliki obsesi untuk mengekplorasi berlian-berlian yang belum ditambang. Dan, 20 bakat yang membanggakan itu membuktikan bahwa sepakbola kampung juga bisa menjadi kebanggaan bangsa.

"Dengan prestasi saya sekaligus ingin meyakinkan PSSI bahwa Indonesia memiliki bakat luar biasa yang tersebar di klub-klub kecil. Hanya saja banyak yang tak mendapatkan kesempatan, karena memang tidak ada yang turun memantau langsung. Saya puas dengan komposisi U-19 ini," cetus pelatih berusia 50 tahun ini.

Dia ingin pelatih-pelatih yang ditunjuk PSSI benar-benar mau turun ke daerah-daerah bahkan pelosok sekalipun untuk mendapatkan pemain berbakat. "Sulit kalau melatih tim yang pemainnya sudah ditentukan. Pelatih harus diberi kebebasan mencari pemain dan itu akan memberikan keuntungan. Timnas U-19 menjadi contohnya," kata Indra bangga.

M Fatchurrohman, bek kiri berusia 18 tahun, sebelumnya tak pernah menyangka bakal menjadi bagian Garuda Muda. Bermain di klub Persekap Pasuruan yang bahkan bukan klub profesional, pemain yang menjadi langganan starter ini merasa sangat beruntung dan berhutang kepada pelatih Indra Syafri.

"Banyak pemain muda dari klub-klub besar yang mungkin lebih kelihatan. Tapi ternyata pelatih Indra percaya dengan pemain dari klub kecil. Saya tak pernah menyangka mendapatkan kesempatan seperti ini. Karena itulah saya berusaha bermain sebaik mungkin untuk membalas kepercayaan pelatih," tutur Fatchurrohman.

Kini perjalanan Indra Sjafri mengunjungi lebih dari 40 kota dari Nangroe Aceh Darussalam hingga Pulau Alor telah berbuah trofi AFF U-19. Dia mengatakan tak akan berhenti mengeksplorasi bakat-bakat di pedalaman yang sama sekali belum terpantau petinggi-petinggi PSSI.
(fit)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    • At a Glance

      Culasnya si Rajawali

      Untuk pribadi-pribadi yang benar-benar mengutamakan prestasi sepakbola di atas segalanya, berbagai cara bakal dihalalkan demi target di depan mata. Sejumlah cara culas pun mulai merambah, baik dengan cara “menyelam” atau diving hingga memainkan sepakbola negatif.

    • At a Glance

      Thohir: Zanetti Enggak Aneh-Aneh

      Presiden Inter Milan Erick Thohir menjawab sejumlah pertanyaan wartawan ketika hadir di acara media gathering operator seluler, Tri, di Bandung, Selasa 26 November. Erick mengungkapkan kemungkinan Inter Milan untuk kembali tur ke Asia.

    • At a Glance

      Erick Thohir Enggak Kebayang jadi Presiden Inter

      Erick Thohir membuat nama Indonesia lebih sering dibicarakan di Italia, karena gebrakannya mengakuisisi, salah satu raksasa sepakbola Negeri Pizza itu, Inter Milan.

    Baca Juga

    Blatter Dituntut Segera Tinggalkan FIFA