Sebelum diberlakukannya peraturan Bosman transfer, keuangan bukan hal yang terlalu signifikan bagi sebuah klub, karena klub miskin bisa tidak membiarkan pemainnya pergi kendati sebuah klub kaya meminatinya.
Kini dalam sepakbola, uang adalah segalanya. Klub seperti Everton, yang memiliki dana terbatas tak kuasa menahan godaan uang berlimpah dari Manchester City agar melepas talenta muda mereka, Jack Rodwell. Seandainya tak dilepas pun, sang pemain bisa menunggu kontraknya habis, agar bisa pergi dengan status bebas transfer (aturan Bosman).
Uang menjadi kue yang diperebutkan dalam sepakbola. Pembagian hak siar yang tidak merata antara klub besar dengan klub kecil kadangkala juga menjadi penyebab klub kaya menjadi makin kaya, sementara klub miskin tetap miskin. Kecuali, tentu saja ada seorang miliuner yang rela menggelontorkan dana ratusan juta euro untuk sebuah klub yang tadinya biasa-biasanya saja, kemudian menjadikannya sebuah kekuatan baru dalam sepakbola di dunia.
Nama-nama seperti Chelsea, Manchester City, Paris Saint-Germain, Anzhi Makhachkala, Malaga, atau yang terbaru, Monaco bisa disebut sebagai bagian dari fenomena sugar daddy (sebutan untuk investor kaya) yang belakangan melanda pesepakbolaan Eropa. Taipan-taipan minyak dari Arab Saudi dan Rusia mengambil alih klub-klub Eropa untuk kemudian merusak pasaran harga pemain.
Lalu, bagaimana nasib klub-klub kecil? Selain dengan kedatangan investor kaya raya, apakah mereka sama sekali tak punya kesempatan bersaing di papan atas? Atau mungkinkah mereka bermain di kompetisi elite seperti Liga Champions, dan bukan lagi cuma menargetkan menghindari degradasi atau hanya untuk sebagai pelengkap di sebuah kompetisi.
Akankah klub-klub medioker itu tetap hanya berusaha memagari pemain-pemain bintang mereka yang jadi target klub-klub besar dan kaya? Kemudian kapan giliran mereka yang mengincar pemain-pemain klub lain untuk membuat skuad mereka lebih kuat. Apa menjadi klub kecil itu adalah semacam takdir?
“Dalam sebuah film, aktor-aktor utama jelas harus mendapat bayaran lebih mahal ketimbang para pemeran pembantu,” cetus Presiden Inter Milan, Massimo Moratti suatu waktu tentang tuntutan dari klub-klub medioker Serie A agar ada pemerataan dalam pembagian uang hak siar.
Tak ada yang salah tentu dengan pernyataan Moratti, karena bila mau realistis, kebanyakan mereka yang menonton langsung pertandingan sepakbola dari televisi mungkin hanya ingin melihat permainan Manchester United, AC Milan, Juventus, Barcelona, Real Madrid, Chelsea atau klub-klub besar lainnya. Berapa banyak dari penonton di rumah yang ingin menonton pertandingan Cagliari, West Bromwich Albion, atau Real Mallorca, kecuali tentu saja bila mereka bertemu dengan klub-klub besar.
Harus ada yang diperbaiki dari sistem, yang membuat seolah-olah klub miskin tetap miskin, dan klub kaya semakin kaya. Premier League punya pembagian hak siar lebih adil, dengan melihat di mana posisi sebuah klub di klasemen akhir musim. Posisi siapa yang lebih tinggi berhak mendapat kucuran dana lebih besar.
Bayangkan bila sebuah klub kecil tiba-tiba membuat kejutan dengan finis di papan atas, namun apresiasi yang didapat sama dengan klub yang finis di posisi di bawah sepuluh besar. Kalau begitu, untuk apa finis ditempat yang lebih baik. La Liga dan Serie A mungkin sebaiknya meniru cara Premier League dalam pembagian uang hak siar.
Klub-klub medioker tentu punya motivasi lebih untuk finis di posisi lebih baik agar mendapatkan dana lebih besar di akhir musim. Kompetisi pun berjalan lebih seru, ketat, serta bukan lagi hanya klub yang itu-itu saja yang bersaing di papan atas.
(Windi Wicaksono)
Bola Okezone menyajikan berita sepak bola terkini, akurat, dan terpercaya dari dalam negeri maupun internasional. Dukung jurnalisme berkualitas dengan tetap mengikuti update tercepat kami setiap hari.