SOLO - Persis Solo versi LPIS bercokol di papan atas. Dari lima laga yang sudah dijalani, empat kemenangan mampu diraih dan sekali menelan kalah. Tentu ini sebuah prestasi. Sayangnya prestasi di lapangan tidak berbanding lurus dengan keuangan tim.
Ya, tim kebanggaan publik Kota Solo yang berjuluk Laskar Sambernyawa ini sedang dihantam badai krisis keuangan.Badai krisis terlihat saat pemain hanya menerima bayaran bulan pertama (April) sebesar 20%. Sisanya yang 80% kapan dibayarkan belum ada yang tahu. Managemen hanya menjanjikan bisa melunasi gaji secepatnya.
Salah seorang pemain Persis LPIS yang enggan disebut namanya, mengakui sudah menerima bayaran April. Namun, besarannya hanya 20% dari total yang seharusnya diterimanya. "Ya, sudah bayaran utuk bulan pertama. Tapi itu (pembayaran 20%) dilakukan setelah rekan-rekan sempat beberapa kali mogok bertalih dan bertanding," kata dia, Sabtu (18/5/2013).
Dia juga mengakui, sejauh ini para pemain masih bersabar. Namun, kesabaran pasti ada batasnya. "Kami sudah memberikan yang terbaik untuk tim, selalu berusaha memenangi pertandingan. Hasilnya juga cukup lumayan, empat kemenangan berhasil diraih dan hanya sekali kalah. Tapi managemen tetap belum mewujudkan janjinya," paparnya.
Manager Persis LPIS Joni Sofyan Erwandi mengakui gaji pemain untuk April, belum sepenuhnya diberikan. Managemen baru membayar 20% dari gaji bulan tersebut. "Memang baru 20% yang sudah dibayarkan, sebenarnya itu sudah di atas standar rata-rata. Sisa gaji yang belum dibayarkan, pasti akan kami lunasi secepatnya," kata dia.
Dia tidak menampik saat ini tim yang berdiri sejak 1923 ini sedang dibelit krisis finansial. Beberapa faktor yang memengaruhinya antara lain kegagalan menggaet sponsor. Sebenarnya, managemen hampir deal menjalin kerja sama dengan sponsor salah satu produk rokok. Sayangnya saat Divisi Utama LPIS bergulir beberapa laga, kesepakatan tersebut urung tercapai.
Selain itu, minimnya pendapatan dari tiket penonton juga menjadi penyebabnya. Sebenarnya, animo publik Kota Solo dan sekitarnya dalam mendukung Persis LPIS berlaga di kandangnya cukup besar. Namun, membludaknya penonton tersebut tidak sebanding dengan tiket yang terjual. "Ada indikasi, penonton masuk ke stadion tanpa membeli tiket," ujar Joni.
Padahal, di era sepakbola yang tidak lagi mendapat asupan dana dari APBD, pemasukan dari penjualan tiket menjadi andalan untuk menopang gaji an operasional klub. "Kita akan evaluasi dari segi pendapatan tiket penonton. Mungkin akan ada petugas khusus di depan pintu masuk agar bisa meminimalisir penonton tidak bertiket," ungkapnya.
(Muhammad Indra Nugraha)
Bola Okezone menyajikan berita sepak bola terkini, akurat, dan terpercaya dari dalam negeri maupun internasional. Dukung jurnalisme berkualitas dengan tetap mengikuti update tercepat kami setiap hari.