ZURICH - Sulitnya memberantas rasialisme dalam sepakbola memunculkan salah satu gagasan, yaitu pengurangan poin suatu klub pada liga yang diikutinya. Namun, hal tersebut nyatanya ditolak oleh presiden badan tertinggi sepakbola dunia, FIFA, Sepp Blatter.
Blatter sendiri beberapa waktu lalu menerima kunjungan gelandang AC Milan, Kevin Prince-Boateng, yang sebelumnya mendapat perlakuan rasialis dari suporter klub Lega Pro -tiga divisi di bawah Serie A-, Pro Patria pada laga uji coba. Blatter kemudian menyebut Boateng sebagai pemberani -padahal sebelumnya mengecam- karena pergi meninggalkan lapangan di tengah-tengah laga.
“Apakah kita bisa menghentikan itu dengan pengurangan poin atau menurunkan (kasta) suatu tim? Ataukah ini akan membuat orang-orang yang datang ke stadion ingin pertandingan dihentikan? Sepakbola itu penuh dengan hasrat,” ujar Blatter, seperti dilansir Goal, Sabtu (6/4/2013).
“Kami harus melakukan sesuatu , tapi bahaya jika kami mengatakan kalau laga akan diulang, atau ada pengurangan poin atau semacamnya. Hal ini (justru) akan membuka pintu bagi para kelompok hooligan untuk membuat masalah,” sambung pria berusia 77 tahun tersebut.
Blatter pada dasarnya mendukung pemberantasan rasialisme, namun ia mengatakan kalau cara yang ditempuh harus disepakati bersama-sama. “Mereka berkata hal itu (tindakan rasial) perlu diberantas di seluruh dunia, (tapi) itu harus disepakati di seluruh asosiasi dan komite disiplin dan liga, serta harus dengan standar yang sama,” pungkasnya.
Follow @bola_okezone untuk update berita-berita sepakbola
(Aditya Putra)
Bola Okezone menyajikan berita sepak bola terkini, akurat, dan terpercaya dari dalam negeri maupun internasional. Dukung jurnalisme berkualitas dengan tetap mengikuti update tercepat kami setiap hari.