Arsenal yang lunglai usai kembali gugur di Piala FA, sampai kapan terus begini? (Foto: Reuters)
Betapapun Arsène Wenger berkelit segesit apapun, tapi satu kata; krisis, tak bisa tidak diakuinya. Arsenal tengah bergelut dengan krisis, dan nampaknya akan amat kesulitan untuk keluar dan kembali pulih seperti sedia kala.
Sudah dua kali berturut-turut, Meriam London tak berdentum, malah luluhlantak. Bisa dibilang, The Gunners sudah tak lagi berpeluang meraih satu pun trofi musim ini. Piala Carling sudah lepas, gelar Premier League juga sudah teramat jauh dari jangkauan.
Jangan Tanya soal piala FA, mereka belum lama ini harus melepaskan angan untuk merebut trofi kejuaraan tertua di dunia itu, usai dipermalukan tim medioker, Sunderland, 0-2 di babak perdelapan final.
Memang sedianya, Piala FA tak habisnya melahirkan kejutan, tapi setidaknya dengan gairah untuk merebut satu-satunya trofi yang tersisa dan dirasa mampu diraih, mereka bermain tidak seperti layaknya tim besar.
Belum lagi soal Liga Champions. Memang, mereka belum gugur di fase 16 besar, tapi kekalahan 0-4 di San Siro (leg pertama), membuat peluang mereka terasa berat dan sangat tipis untuk bisa membalikkan keadaan. Belum lagi lawan mereka, AC Milan, bukanlah tim kemarin sore di level Eropa. Il Diavolo sangat berhasrat untuk kembali menjadi jawara Eropa untuk kedelapan kalinya
Arsenal sudah layaknya tim medioker, yang kerap tampil labil. Suatu ketika Robin van Persie bermain amat gemilang, tapi di hari lainnya, mereka dengan mudahnya dibekuk lawan, baik tim besar maupun tim gurem. Hal itu pun diakui para punggawa Milan, sebelum bersua The Gunners, tengah pekan lalu.
The Professor pun merasa sangat pesimistis bisa balik menghantam Iblis Merah dari kota Mode tersebut di kandang sendiri, seperti yang dilontarkannya beberapa waktu silam, usai menjalani leg pertama.
Para fans Arsenal sudah tak sabar, untuk bisa melihat tim kesayangannya kembali berjaya, seperti di musim 1998/1999 atau 2001/2002, ketika meraih double dan treble winners. Masa-masa jaya tersebut seperti terlalu manis untuk terulang kembali.
Rasa rindu para fans itu pun tak pelak selalu terletup dan bahkan melahirkan cemoohan yang tertuju pada Wenger, yang sudah mengumpulkan 11 gelar selama 15 tahun belakangan ini. Tak sedikit pula yang mendesaknya untuk mundur karena menilai filosofi Wenger tak relevan lagi di era sekarang.
Filosofi Wenger, yang selalu ingin mengedepankan para talenta mudanya untuk turun ke lapangan dan merasakan ketatnya permainan Inggris yang terkenal keras. Wenger enggan mendatangkan pemain bintang, Pria berusia 62 tahun itu tetap bersikeras untuk ‘menciptakan’ bintang, bukan membelinya.
Tapi banyak yang menganggap langah Wenger itu tidak lagi bijak, terlebih terlalu banyak pemain muda di tubuh Arsenal, membuat mereka menjadi tim yang kurang dipimpin dan dibimbing para pemain senior.
Banyaknya pemain muda memang bagus untuk sebuah tim yang ingin mempertontonkan permainan ciamik, tapi bukan untuk tim yang ingin memenangkan sesuatu. Sebuah tim tak hanya butuh pemain muda nan bertalenta menjanjikan, tapi juga kematangan visi dan pengalaman untuk bisa menjuarai sesuatu yang besar.
Segenap fans Arsenal rindu untuk mendengar dentuman Meriam London yang memekakkan telinga lagi. Bukan hanya simpatisan, para rivalnya pun menantikan Arsenal kembali tangguh seperti dulu.
Karena, clash Arsenal dengan para rival-rival beratnya, seperti Chelsea, Tottenham Hotspur, Liverpool dan terutama Manchester United, akan terasa amat hambar jika Arsenal terkesan lembek ketika bersua para musuh-musuh besarnya tersebut. Tak ada lagi aroma panas yang menyelimuti pertarungan musuh-musuhnya ketika bertemu Arsenal
Jadi, sampai kapan Prof, Arsenal bisa menuntaskan lagi mimpi-mimpi dan dahaga gelar serta memulihkan reputasi, untuk memuaskan para fans dan juga rival anda?
(raw)