Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Nike Elite Training Live 2.0

Terobosan Baru untuk Menganalisa Performa Pemain

Achmad Firdaus , Jurnalis-Kamis, 09 Februari 2012 |19:40 WIB
Terobosan Baru untuk Menganalisa Performa Pemain
Bustomi bersiap menjajal Iniesta challenge (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Perusahaan olahraga ternama dunia Nike kembali meluncurkan teknologi baru dalam upaya untuk meningkatkan performa seorang atlet sepakbola. Teknologi baru yang diusung adalah ‘Elite Training Live 2.0. (ETL 2.0)’

Program ETL ini sejatinya telah diluncurkan Nike sejak 2010 lalu. Namun, dengan pertumbuhan teknologi yang kian canggih, apparel yang berbasis di Amerika Serikat ini berinisiatif untuk meluncurkan program lanjutan, yakni ETL 2.0.

Dalam peluncurannya di lapangan sepakbola panahan, Senayan, Kamis (9/2/2012), Nike menggandeng sejumlah pemain nasional dan pelatih klub Indonesia. Mereka adalah Ahmad Bustomi, Jajang Mulyana (Mitra Kukar) dan duo pilar Sriwijaya FC, Firman Utina dan Ponaryo Astaman. Sementara, pelatih yang hadir adalah Simon McMenemy, mantan arsitek timnas Filipina yang kini menukangi Mitra Kukar.

Program ETL 2.0 ini sendiri diluncurkan dengan tujuan bisa meningkatkan performa para pemain-pemain sepakbola. Ini tak lepas dari kombinasi unik antara pelatihan fisik dan koleksi data menggunakan sebuah program digital yang dikembangkan secara khusus.

“ETL 2.0 merupakan program pelatihan yang menawarkan sebuah pengalaman pelatihan yang elite kepada pemain antara usia 15-19 tahun. Hadirnya ETL 2.0 diharapkan dapat memberikan standardisasi bagi penilaian kemampuan semua anak berbakat di Indonesia,” tutur Nino Priambodo, marketing manager Nike Indonesia seraya menyatakan bahwa program ETL 2.0 ini sudah diterapkan di sekolah-sekolah sepakbola di Eropa.

Dalam penerapannya, ETL 2.0 memiliki beragam pelatihan yang menitikberatkan pada berbagai hal yang memang diperlukan seorang pemain untuk jadi pemain hebat. Salah satu programnya dinamakan SPARQ.

SPARQ sendiri merupakan sngkatan dari Speed, Power, Agility, Reaction dan Quickness. Jadi, tahapan-tahapan inilah yang diyakini dapat membuat seorang pemain jadi lebih baik.

Untuk tahapan Speed, di sini seorang pemain akan diukur kecepatan berlarinya dalam jarak 20 meter. Sebelum memulai sprint, pemain akan terlebih dulu dipasangkan chip yang berupa gelang dengan barcode sebagai pengenal. Fungsi alat ini sendiri untuk mengukur kecepatan seorang pemain dalam berlari.

Untuk tahapan lainnya, pemain juga akan tetap dipasangkan chip tersebut yang berfungsi memberikan data valid yang terhubung dengan satelit dan bisa dilihat setelah sesi latihan. Jadi, setiap pemain akan mengetahui seberapa bagus fisik dan skill yang mereka miliki serta tolok ukur untuk meningkatkan performa mereka.

Selain program SPARQ. ETL 2.0 juga ada beberapa program tantangan seperti Iniesta Challenge yang dibuat untuk meningkatkan kontrol dan passing seorang pemain. Ada juga Pique Challenge (untuk mengasah sentuhan), Rooney Challenge (untuk meningkatkan akurasi tembakan) dan Ronaldo Challenge yang diperuntukkan untuk kecepatan.

Dalam program ini, sejumlah pemain professional mendapat kesempatan menjajal kemampuannya. Ahmad Bustomi mencoba Iniesta challenge, Jajang Mulyana (Rooney challenge), Ponaryo Astaman (Pique challenge) sementara Firman Utina menjajal Ronaldo challenge.

Usai menjajal program tersebut, mereka pun sepakat bila ETL 2.0 merupakan program yang bagus untuk menciptakan pemain-pemain yang tangguh.

“Program ini sangat penting untuk mengukur daya tahan otot dan fisik. Jadi, pelatih bisa mengukur kemampuan pemainnya. Di Indonesia, banyak klub sudah menggunakan program ini. Kami pribadi bahkan selalu menerapkannya saat latihan, bahkan lebih kompleks lagi,” tutur Firman mewakili rekan-rekannya.

“SPARQ digunakan untuk meningkatkan performa atau fisik pemain. Jadi ini sangat berguna. ETL 2.0 juga bisa diimplementasikan di SSB-SSB Indonesia dengan cara yang lebih sederhana. Contohnya dengan menggunakan media tembok dan mencatatnya secara manual,” sahut Simon McMenemy.

Terakhir, ada juga program 7 vs 7 yakni program simulasi pertandingan mini berdurasi 2x15 menit di mana setiap pemainnya ditempelkan chip di lengan. Chip ini sendiri berguna untuk merekam pergerakan pemain. Chip yang juga dilengkapi dengan GPS ini nantinya akan mengirimkan data hasil via satelit untuk kemudian bisa dilihat sang pemain.

(Achmad Firdaus)

Bola Okezone menyajikan berita sepak bola terkini, akurat, dan terpercaya dari dalam negeri maupun internasional. Dukung jurnalisme berkualitas dengan tetap mengikuti update tercepat kami setiap hari.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita bola lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement