Richardo Polnaya (putih tengah).(foto:facebook)
Mencari pemain futsal putri Indonesia yang mumpuni memang bukan perkara mudah. Meski futsal sudah berkembang sejak 2002, saat ini hanya segelintir kaum hawa yang punya hati menendang-nendang barang bulat itu. Tidak heran saat seleksi timnas untuk SEA Games 2011 lalu, pelatih mau tidak mau harus menyaksikan ‘futsal ala ikan lele’ lebih dulu sebelum akhirnya menemukan 14 pemain.
Di Indonesia pemain dengan teknik dan dasar mengolah si kulit bundar memang harus diakui masih langka. Dibandingkan dengan Thailand, Vietnam atau Myanmar saja Indonesia lumayan tertinggal. Padahal, kemampuan seperti passing, shooting, heading atau keeping, adalah kemampuan dasar yang harus dimiliki pemain futsal.
Persiapan timnas juga minim, hanya 8 bulan, sedangkan Thailand yang sudah ikut Piala Dunia tiga kali saja sudah mempersiapkan diri selama lima tahun, dan Myanmar tiga tahun.
Akibatnya, di lapangan SEA Games kemarin, Srikandi Indonesia tidak berdaya. Terkapar 6-0 oleh Vietnam, dibantai 8-0 saat jumpa Thailand dan dibungkam Myanmar di partai perebutan medali perunggu 4-2. Satu-satunya kemenangan ditorehkan saat Maulina Novryliani dkk meladeni Filipina dengan skor telak 10-2.
Maulina Cs ini lah pemain-pemain terbaik yang berhasil ditemukan. Mereka dikumpulkan pelatih futsal putri Viernes Ricardo Polnaya dari sejumlah klub yang mengikuti kejuaraan nasional. Selain itu bakat dari kampus-kampus juga ikut dicomot. Alasannya, futsal putri di kampus punya kompetisi yang lumayan rutin setiap tahun.
Di awal masa seleksi, 34 pemain berhasil direkrut. Ricardo lalu memantau mereka dengan membuat latihan sparing partner, untuk menyaring pemain yang dianggap layak masuk timnas. Dan ternyata memang situasinya memprihatinkan, tidak sedikit pemain yang seperti hanya tahu menendang-nendang bola tanpa pemahaman memadai tentang permainan futsal.
“Awalnya mereka main seperti lele, semua pemain berebut satu bola.Kita ajari cara bermain, logikanya, tapi belum sampai ke situ, karena mereka baru belajar,” kenang Ricardo tergelak.
Mau tidak mau, tim pelatih harus memulai membentuk tim dari nol. Sebelum bicara strategi, Richardo memoles mereka dengan teknik dasar bermain bola. Menggenjot fisik juga jadi menu latihan yang tidak kalah penting. Para pemain pun digenjot bertanding dengan tim-tim pria untuk belajar menghadapi pressure di lapangan.
”Kalau tim cewek, sudah ga ada lagi lawannya,” kata pria yang akrab disapa Ado ini. Timnya juga sempat dibawa try out satu kali di Jepang melawan tiga klub lokal, tapi hasilnya kurang maksimal karena waktu pertandingan terlalu mepet.
Nah masalahnya, belum urusan teknik selesai, mental pemain juga jadi pekerjaan rumah besar. Yang tidak kalah peliknya lagi, para pemain menurut Ricardo cenderung lebih peka perasaannya alias gampang sakit hati. Kalau kesentil sedikit perasaannya, pemain bisa-bisa kabur alias tidak mau lagi datang latihan.
“Saya keras, di lapangan saya teriak, tapi bukan memaki. Tapi saya juga tanya kalau saya begitu mereka masalah tidak.Harus pintar-pintar mendekati,” kisahnya. “Kalau di kampus lebih gampang karena mereka punya fondasi, kebetulan saya melatih di kampus saya UNJ, ada mata kuliah sepakbola juga kan. kita rangkul dulu, setelah mereka mau dan main, nah itu yang penting. Setelah itu pelan-pelan bisa kita kasih penekanan.”
Setelah melalui seleksi tahap pertama, 22 Pemain yang lolos masuk ke pusat pelatihan alias mess. Pemain tidak lagi pulang pergi, namun mereka tinggal bersama-sama. Di situ persoalan lain baru muncul.
“Pas kumpul baru banyak masalah. Pemain putri ini kadang iri-irian sesama teman. Ada saja masalah seperti itu, tidak mudah memang,” pria kelahiran 1976 di Saparua ini berkisah.Karena 80 persen pemain berasal dari kampus, kultur senior-junior juga masih terbawa. Mereka juga tidak lepas dari perselisihan karena latar belakang asal kampus.
Kalau sudah begini, Ado mengumpulkan pemain dan meminta mereka menanggalkan ego, dan mengingatkan bahwa mereka sedang membawa nama negara. Beban yang berat.
Lain saat latihan lain lagi ketika bertanding. Yang paling kentara karena jam terbang kurang, pemain kena sindrom demam panggung, terutama saat menghadapi Thailand di laga perdana. “Pucat. Nervous bukan main. Kalau sudah begitu, saya cuma bisa bilan ‘common smille, smille’,“ kata Ado sambil menggerakan bibirnya ke samping dengan jari, seolah mengajarkan pemain cara tersenyum.Upaya itu dilakukan sebagai cara meminta para pemain untuk bisa melepas ketegangan.
Setelah dua kali melakoni laga super berat, di hari ketiga, Indonesia baru menemukan irama permainan dan melibas Filipina. Sayangnya, di partai terakhir melawan Myanmar, mental pemain yang belum terasah, drop setelah insiden bunuh diri di babak pertama. Di babak kedua Indonesia sering kecolongan dengan serangan balik.Saat latihan, pemain memang tidak mudah menyerap taktik bermain. Mereka sering lupa lagi cara bertahan setelah melahap menu latihan strategi menyerang.
“Tapi dalam pandangan saya mereka sudah bagus. Saya minta mereka dipertahankan untuk dipersiapkan SEA Games di Myanmar,” imbau pemain timnas futsal era 2003-2008 itu.
Untuk membangun timnas yang tangguh,memang masih membutuhkan waktu. Tapi, tidak perlu pesimistis, bakat di Indonesia bisa digali. Jika pengurus Badan Futsal Nasional tidak sibuk mengurusi ego dan kepentingan kelompok, futsal putri bisa lebih maju dan berbicara minimal di pentas Asia Tenggara dulu. Salah satu caranya, BFN harus menggelar kompetisi rutin sebagai ajang pembinaan mengangkat bakat-bakat yang masih terpendam di "kubangan lele".
(fit)