Rahmad Darmawan.(foto:Heru Haryono/Okezone)
PADA suatu hari, setahun silam. Usai melatih Persija, Rahmad Darmawan menyetir mobilnya sendiri untuk mengantarkan saya dari Cijantung ke Cilandak. Kami hanya semobil berdua. Saat itu, rembang petang telah menghampiri malam. Sepanjang perjalanan menyusur sisi selatan Jakarta, banyak soal kami bincangkan. Tapi saya akan membagi kepada Anda, pembaca okezone, satu cerita saja.
Hari ini, tim nasional U-23 berpanggung di final SEA Games XXVI, Senin (21/11/2011). Siapatah orang Indonesia yang tidak kenal dengan Rahmad Darmawan atau RD, akronim populer sekaligus panggilan akrabnya? Dia pelatih Patrich Wanggai cs yang malam nanti bertanding di laga puncak melawan Malaysia.
Bagian yang hendak saya ceritakan ada hubungannya dengan negara tetangga sekaligus negeri serumpun kita. Bukan hanya soal nostalgia belaka, lantaran semasa berkarier sebagai pemain, RD pernah memperkuat Armed Forced FC di Liga Malaysia.
Di mobilnya, sore itu, RD mengaku jujur ingin benar mengadu ilmu dengan Krishnasamy Rajagopal dari Negeri Jiran. Katanya, mereka pernah duduk satu kelas dalam kursus pelatih se-Asia di Kuala Lumpur. Setelah waktu berlalu, ketika RD masih sibuk berkutat di Persija, Rajagopal mempersembahkan gelar AFF Cup 2010 kepada timnas senior Harimau Malaya.
Rasanya wajar bila kita sebagai pencinta sepakbola jadi ikut tertarik untuk merasakan keinginan kuat RD. Sebagai pemain dia pernah membintangi tim nasional, tak ada yang meragukan prestasi perwira Marinir yang jadi pilar PSSI di semifinal Asian Games 1985 ini. Saat membesut klub dalam kompetisi nasional, Persipura dan Sriwijaya FC diantarkannya melambung tinggi ke tahta juara. Tapi di level tim nasional, RD belum pernah duduk di atas kursi panas sebagai pelatih kepala.
Di sisi lain, Rajagopal, bekas kawan sekelasnya, telah jauh mengorbit di garis edar sepakbola Asia Tenggara. Pelatih asal suku Tamil itu menyematkan medali emas bagi Malaysia di SEA Games XXV Laos 2009.
Beberapa hari lalu, dari Makassar. Iseng saya kirim pesan kepada RD.
Sekadar mengingatkan dia bahwa yang diincarnya Rajagopal tapi ternyata yang datang Ong Kim Swee (pelatih timnas U-23 Malaysia). Pesan itu dijawabnya dengan penuh berkat rasa syukur serta ucapan terima kasih.Kita boleh mengartikan RD tetap berlaku sebagai seorang pelatih yang tidak pernah sedikitpun memandang remeh lawan.
Sampai ke Palembang, tak ada lagi pesan yang harus dikirim. Urusan taktik ala RD secara terperinci di lapangan, tentunya seluruh anggota timnas U-23 Indonesia telah banyak mengerti. Ada optimisme, cerita 20 tahun silam akan terulang di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.
Alasannya, terjadi grafik menanjak dari sebuah tim turnamen yang diperlihatkan Egi Melgiansyah dkk.Singkat cerita, selalu muncul asa yang dipikul bahu kekar sebelas pemain Indonesia di lapangan hijau dari masa ke masa. Lebih khusus lagi, dalam persaingan panas kepiawaian mengolah si kulit bundar di bujur peninsula kawasan Asia Tenggara, di mana tergelar pertandingan antara kesebelasan Indonesia versus Malaysia.
Sejarah SEA Games mencatat dua kali juara dicetak skuad Garuda Merah-Putih lewat kaki emas Ribut Waidi di Jakarta pada 1987 dan tangan ajaib Eddy Harto di Manila pada 1991. Adagium termasyhurmengatakan: kemenangan selalu jadi milik pemain, sedangkan kekalahan sepenuhnya tanggung jawab pelatih. Begitulah hukum sepakbola. Tapi bukan berarti kalau timnas U-23 berjaya, Rahmad Darmawan takkan mendapat apa-apa.
Kenangan yang membanggakan Indonesia diharapkan kembali lagi. Kali ini, pastikanlah para Garuda Muda menyepuh kepak-kepak sayap perkasanya dengan torehan medali emas juara SEA Games XXVI Jakarta-Palembang 2011!
(fit)