Kisah Sepatu Bola dari Pasar Senen

Rejdo Prahananda - Okezone
Senin, 17 Oktober 2011 11:18 wib
Sepatu Siong Vo.(foto:Rejdo Prahananda/okezone)
Sepatu Siong Vo.(foto:Rejdo Prahananda/okezone)
ANDA tahu Siong Vo? Generasi sekarang memang awam dengan nama tersebut. Tapi jika Anda gemar bermain sepakbola dan besar di era 1960 hingga 1980-an, Anda tentu sudah tidak asing lagi dengan apparel olahraga made in Indonesia tersebut.

Ya, Siong Vo merupakan sepatu bola produksi dalam Negeri. Kini Siong Vo tinggal nama.Merek sepatu tersebut kini sudah tidak diproduksi lagi.Maklum, Siong Vo kalah bersaing dengan appareal global seperti Adidas, Nike, dan Puma yang membanjiri pasar Indonesia. Padahal, di masa keemasannya, sepatu ini dipakai oleh pemain tenar Tanah Air seperti Ramang, Renni Salaki, dan Surya Lesmana.

Okezone yang coba menelusuri kisah sepatu ini menyambangi sebuah toko bernama Siong Vo di bilangan Galur, Senen, Jakarta Pusat beberapa waktu lalu. Dari situ, Okezone tahu bagaimana cerita nasib sepatu legendaris tersebut.

Pemiliknya adalah Alex. Pria 65 tahun yang masih gila sepakbola. Di usianya yang sudah kepala enam, Alex masih rajin mengolah si kulit bundar di lapangan Union Make Strength (UMS) Petak Sinkian, Glodok, Jakarta Barat, bersama teman-teman seperjuangannya.

Di lapangan peninggalan zaman Belanda yang berdiri pada 1905 ini, Okezone tidak perlu lama untuk bisa bertemu dengan pemilik toko Siong Vo tersebut. “Saya mau main bola nih, tapi kalau mau tanya-tanya, ya sudah kita duduk dulu,” jawab Alex saat disapa. Dia pun mengurungkan niatnya turun ke lapangan, padahal sudah lengkap mengenakan atribut, dan baru saja selesai pemanasan.

Alex menceritakan, Siong Vo merupakan nama pemain sepakbola kelahiran lapangan UMS yang tidak lain kakeknya sendiri. Dia sendiri merupakan generasi ketiga penerus pengelola toko sepatu itu. Penjualan sepatu ini awalnya hanya dari mulut ke mulut  hingga akhirnya bisa menembus jajaran elite pemain PSSI.

“Kekuatannya tanpa tanding, sampai bosan makainya. Bahannya orisinal dan bukan dari kulit imitasi. Bisa bertahan hingga empat sampai lima tahun,” kata Alex mengenang daya tahan sepatu tersebut.

Bagian menariknya, sepatu tersebut  dibuat bukan berdasarkan ukuran layaknya sepatu saat ini, melainkan dibuatkan pola sesuai kaki si pemain. “Jadi, sepatu tidak kesempitan atau kelebaran. Pas dengan kaki pemain, gimana mau nendang kalo tidak pas,” sambung Alex yang telah mengenakan seragam lengkap untuk turun lapangan.

Dari segi produksinya, pada zaman itu, bisa menghasilkan sepuluh pasang sepatu merupakan pencapaian yang sangat bagus buat apparel olahraga lokal, mengingat masa itu di mana orang belum begitu banyak bermain bola lengkap dengan atribut.

“Dulu sepakbola populer ya populer, tapi yang jual sepatu-sepatu sepakbola hanya Siong Vo, tidak banyak seperti sekarang,” terangnya. “Hanya segelintir orang yang memakai Siong Vo karena yang beli juga pemain bola kelas atas, bukan yang baru belajar,” sambungnya.

Dengan mata menerawang, Alex mengisahkan, saat dia masih kecil, sekitar tahun 1950-an,  30 pemain PSSI datang ke toko Siong Vo. Tujuannya satu, mengukur kaki dan kemudian dibuatkan pola. Agar nantinya, sepatu tersebut pas dikenakan.

Sampai di sini cerita mengalir, tapi raut muka pria yang pernah memperkuat Persija di dekade 1960-an itu berubah bila mengenang masa-masa kelam Siong Vo. Dia mengisahkan, sejak kerusuhan pada 1998 silam, toko tempat penyimpanan sepatu habis dibakar massa.

“Sejak itu kita sudah tidak produksi lagi, semuanya habis dan berhenti total. Sempat bikin lagi tapi udah gak lawan lagi dengan merek luar. Bersih, habis dijarah dan dibakar. Dulu, orang tahunya Siong Vo di Gang Kenanga. Bukan di Galur,” pungkasnya.

Menurut pengakuan beberapa pemain yang sempat menjadi saksi ‘ketangguhan’ Siong Vo, seperti Renni Salaki dan Surya Lesmana, mereka mengakui bahwa sepatu tersebut memiliki kelebihan luar biasa, sebelum era Adidas dkk membanjiri pasar Indonesia.

Surya Lesmana, mantan pemain timnas 1960-an pun mengakui, di era itu apparel lain seperti Adidas belum tenar seperti sekarang, dia pun masih mengandalkan Siong Vo sebagai perlengkapan tanding utama.

“Eranya beda dengan Adidas. Siong Vo ringan dan lentur Jadi, you punya sepatu pas dengan kaki. Saya selalu membawa sepatu ini saat bermain ke Eropa,” kisah pemain yang pernah berkiprah di klub Hong Kong, Mac Kinan pada 1974 itu, juga ditemui di Lapangan UMS.

“Untuk ukuran zaman dulu, Siong Vo enak dipakai. Dulu, pemain timnas Birma (sekarang Myanmar) saja mencari Siong Vo saat ke sini (bermain di Indonesia),” kenang Renni yang duduk di samping Surya Lesmana menimpali. (fit)
  • budy » 0 Tanggapan
    kira - kira Berapaan tuh harga Sepatu Siong Vo .. ? ? Klo Sepatu Futsal nya ada gk ya .. ? ?
    Beri Tanggapan Laporkan
  • aprizal » 0 Tanggapan
    sayapengemar sepak bola dari kelas 2 SD dari sampai pernah berlatih di ums saya telah mengenal eorang dokter endang witarsa saya juga telah mengenal sing vo yang ter letak di ujung jembatan itu memang terkenal sejak saya kecil tiap orang yang mengenal sepak bola pasti kenal toko sepatu siong vu kenapa siong vo tidak produksi sepatu lagi ya ? padahal produksi siong vu oke loh
    Beri Tanggapan Laporkan
  • tsubasa » 0 Tanggapan
    gw prnah make tn 80an saat masih smp n d ssb Bekasi Putra...warna hitam full....
    Beri Tanggapan Laporkan
  • Mbah Bedjo » 0 Tanggapan
    Tahun 1974 ane pernah pakai nih sepatu bola..bangga banget makainya (maklum mesti pesen & diukur dulu / taylor made ) asli dari kulit semua sampai pollnya juga dari kulit. Ada merek lain kalau nggak salah tokonya juga di daerah Pasar Senen....Merek SAM TAY.
    Beri Tanggapan Laporkan
  • Nazar » 0 Tanggapan
    Siong Vo, klo skr produksi lagi gmn y??sekalian bikin septu futsal...
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.
TWITTER »
twit