Petar Segrt.(foto:Arpan Rahman/okezone)
USIA Petar Segrt baru 14 tahun ketika Josip Broz Tito wafat pada 1980. Kematian sang pemimpin sosialis kharismatik, yang dulu disebut Bung Karno sebagai “my old friend” itu, menyebabkan kecamuk perang etnis menyala berkepanjangan di Slavia Selatan, Semenanjung Balkan.
Akibat perang, Jugoslavia pun runtuh menjadi beberapa negara berdaulat. Slovenia, Kroasia, Makedonia, Serbia, Montenegro, Bosnia-Herzegovina, dan Kosovo secara beruntun memproklamirkan kemerdekaan.
Jadi salah satu korban perang, pelatih PSM Makassar ini merasakan arti kepahitan hidup. Di tengah panasnya suhu politik yang mengumbar sentimen rasis dan situasi damai yang makin terancam konflik, lelaki kelahiran 8 Mei 1966 di Durdevac, Kroasia, itu menyeberang ke Tanah Ruhr, Jerman. Dia bergabung ke klub FC Walldorf pada 1992. Setahun kemudian, pindah kostum ke SV Waldhof Mannheim.
Sebelumnya, dia baru mulai berkarier sebagai pesepakbola yunior dimulai dari VFR Hirsau, FC Alzenberg, dan Wimberg FV Calw.
“Perang ternyata sudah menjadi bagian penting dalam sejarah hidup saya. Tapi sepakbola bisa mengalahkan perang karena sepakbola berbicara tentang persaudaraan. Di sepakbola pula saya menemukan arti cinta. Saya bahagia sebab memiliki sepakbola,” ungkap Segrt kepada okezone saat mengobrol santai di halaman Mess PSM Makassar, Jalan Tupai 65, Makassar.
Sejarah mencatat ke mana pun Segrt pergi, moncong senjata dan bau mesiu terus mengiringi langkahnya. Api tembakan pistol dan senapan, dentuman roket dan rudal, hamburan peluru mitraliur dan artileri penangkis serangan udara mewarnai kisahnya hari demi hari.
Setelah menderita cedera serius pertama kali, sewaktu memulihkan kondisi pascaoperasi, bekas bek tangguh dari dusun Durdevac itu merajut mimpinya jadi pelatih yunior di klub almamaternya, FV Calw. Usianya saat itu baru 17 tahun. Kemudian karier pemainnya berakhir lantaran cedera kedua yang fatal mengenai lututnya. Segrt memutuskan gantung sepatu di umur 27 tahun pada 1993.
Di tahun yang sama itu pula, tepatnya pada November 1993, dia menggondol lisensi B di UEFA (Konfederasi Sepakbola Eropa) di Ruit, Jerman. Sejak itu Petar Segrt menapaki jejaknya sebagai pelatih sepakbola. Lisensi pelatih UEFA “A” disabetnya pada Juli 1995 di Hennef, Jerman. Terakhir, dia mengantungi lisensi profesional UEFA di Koln pada Oktober 2001.
“Saya sudah menganggap Jerman sebagai tanah air saya yang kedua setelah Kroasia. Di batin ini, saya murni orang Kroasia tapi cara berpikir dan bertindak saya mengikuti naluri sebagaimana hidup orang Jerman,” sambung Segrt.
Sorot matanya sesekali terlihat berkaca-kaca. Ada rasa sedih yang tertanam di sana. Dia pasti menyimpan luka dari masa lalunya di Semenanjung Balkan. Wajahnya kendati ramah namun acap bersemu merah. Seperti menunjukkan karakter aslinya sebagai orang keturunan Slavia yang terkenal punya temperamen blak-blakan.“Tak mungkin saya lupakan Georgia,” tiba-tiba, ucapnya lirih.
Okezone jadi ikut melangut. Benak ini teringat dengan sajak sedih karya Rendra tentang gubuk-gubuk tua kumuh milik orang-orang miskin dalam penampungan kampung negro di Georgia.
Tapi sajak penyair termasyhur itu berjudul “Blues untuk Bonnie” berkisah tentang Georgia, sebuah kota di Amerika Serikat. Sedangkan yang diceritakan sang pelatih ialah Georgia yang lain, negara pecahan Uni Soviet di Benua Eropa. Georgia-nya mereka berdua terletak dalam peta yang berbeda.
Selama tiga tahun (2008-2011) Segrt menjabat pelatih kesebelasan nasional di sana. Georgia U-21 dia tangani pada 2008-2010 dan Georgia (Senior) pada 2011.
“Yang paling indah saya ingat kala kemenangan terbaik direbut yunior Georgia atas Rusia di Tbilisi. Itu jadi kemenangan bersejarah yang disambut gegap-gempita rakyat di sana. Coba bayangkan, konflik kedua negara memanas sejak 2008, sampai akhirnya perang benar-benar terjadi, dan di lapangan sepakbola Georgia mengalahkan Rusia!” ujar Segrt tegas namun nada suaranya tergetar.
Dulu, Honduras versus El Salvador di Amerika Selatan berperang gara-gara sepakbola. Namun perang Georgia melawan Rusia bukan buntut perseteruan di lapangan hijau.
“Saya terharu saat harus berpidato di tengah massa di Lapangan Rustaveli di Tbilisi. Mereka, ribuan orang di sana, berharap saya tidak pergi meninggalkan Georgia. Meninggalkan mereka sendirian dalam perang. Tapi keselamatan hidup saya terancam. Saya berkata: ‘Saya hanya akan pergi selama dua minggu. Membereskan urusan pribadi. Kalian teruslah berlatih sementara saya tidak ada di sini.’ Tapi ketika saya hendak kembali lagi masuk ke sana, perbatasan Georgia sudah ditutup barikade tentara Rusia,” kata Segrt menceritakan pengalamannya.
(fit)