Simson Selalu Tanamkan Rasa Ketidakpuasan

A. Firdaus - Okezone
Selasa, 11 Oktober 2011 13:55 wib
Simson Rumahpasal (foto:Okezone)
Simson Rumahpasal (foto:Okezone)
BEKASI- Mengenakan kaus berwarna merah, Simson Rumahpasal asyik menyapu halaman rumahnya di daerah Kranggan Permai, Bekasi Jawa Barat pada Selasa siang pekan lalu. Sepintas, mungkin orang tidak akan menyangka, di masa mudanya, pria 61 tahun itu adalah pilar timnas Indonesia.

Di temui okezone di rumahnya, Simson menceritakan perjalanan hidupnya sehingga memilih berkarier di lapangan hijau dan menjadi pesepakbola yang diperhitungkan di eranya. “Saya selalu menanamkan sikap ketidakpuasan,” kata Simson membagi kiat.

Simson bercerita. Dia menekuni olahraga sepakbola ini sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar di Ambon atau tepatnya masih menginjak usia delapan tahun. Saat itu dia langsung aktif di dunia sepakbola dengan mengikuti kompetisi se Kecamatan hingga dia beranjak ke bangku Sekolah Menengah Pertama.

Saat ke Sekolah Menengah Atas, dia bahkan memilih sekolah khusus Olahraga, yaitu di Sekolah Menengah Olahraga Atas (SMOA) Negeri 15 di Ambon. Di SMOA dia mengikuti kompetisi se-Kota Madya Ambon. Lalu dia bergabung dengan klub Bintang Timur untuk mengikuti kompetisi PS Ambon atau lebih dikenal dengan Persatuan Sepakbola Ambon.

Bakatnya mulai tercium oleh pengamat sepakbola, bahkan hingga ke Makassar. Saat itu pula dia hijrah ke kota yang terkenal dengan Sop Konro-nya itu untuk bergabung dengan klub Mutiara Pertamina. Di situ dia bukan hanya ditawari sebagai bermain sepakbola, melainkan bekerja sebagai karyawan Pertamina. Tanpa ragu, dia pun menyetujui kontrak tersebut dan hijrah ke Makassar, tepatnya pada tahun 1973.

Bakatnya sempat tertahan di perusahaan bahan bakar minyak tersebut, karena dia tidak boleh membela klub manapun. Simson langsung berpikir cepat agar bakatnya ini tidak menjadi sia-sia. Dia pun keluar dari perusahaan tersebut, untuk bergabung ke sebuah klub yang bernama Beringin Putera, yang sekarang dikenal dengan nama PSM Makassar.

“Saat membela Beringin Putera, saya satu tim dengan Alm. Ronny Pattinasarany dan Risdianto,” ungkap Simson.

Mantan pemain yang telah menginjak usia 61 tahun ini, di tahun 1977 hijrah ke ibukota Jakarta dan bergabung dengan klub yang terkenal pada masanya saat itu, Warna Agung.

“Saat di Warna Agung, saya juga masih setim dengan Ronny, bahkan saya masih dipanggil ketika para pemain angkatan saya sudah tak memperkuat lagi, untuk membela tim itu (Warna Agung) di kompetisi Galakarya,” sambungnya.

Setelah regenerasi terjadi di klub ini, ternyata jasanya masih dibutuhkan tim. Ada beberapa pemain baru yang terkenal yang datang ke klub itu, sebut saja Widodo C Putra dan Mamesah bersaudara, Corneles dan Leo.

Para pemain Warna Agung selanjutnya bergabung ke klub Hercules, untuk mengikuti kompetisi yang diselenggarakan oleh Persija Jakarta. Sekaligus seleksi untuk memasuki skuad Macan Kemayoran. “Setelah bergabung ke Hercules, ternyata saya, Ronny (Pattinasarany), dan Risdianto dipanggil oleh Persija,” kenangnya.

Bergabungnya dia ke Persija, membuka peluang untuk membela Tim Nasional Garuda. “Mayoritas pemain Persija saat itu menjadi pemain Timnas Garuda. Jadi bisa dikatakan Persija merupakan bayangan dari Timnas,” lanjutnya.

Berbagai even Internasional pun diikutinya bersama Timnas, dari Presiden Cup hingga ke Pra Piala Dunia. Saat itu dia juga setim dengan Rudi Williams Kelces, Hery Kiswanto, dan Malawing. Prestasi terbaiknya saat menjadi pemain Timnas di ajang Internasional adalah dengan meraih juara Merdeka Games.

Selain itu Simson juga pernah menjadi lawan tanding Johan Cruyf yang membela Diplomad Washington dalam laga persahabatan di Gelora Bung Karno. Pemain yang memiliki tinggi 175 cm ini juga sempat bertukar kostum dengan pemain Belanda itu. Tidak hanya Cruyf, legenda sepakbola Jerman, Franz Beckenbauer juga pernah menjadi lawan tandingnya. “Saat itu beliau masih membela New York Cosmos,” paparnya.

Era Kepelatihan

Ternyata Simson tak puas hanya sebagai pemain, saking cintanya dia tetap ingin terlibat di dunia sepakbola. Yaitu dengan cara membagikan ilmunya kepada para juniornya dengan cara melatih.

Langkah awal yang dilakukannya adalah mengikuti program D3 di Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK) IKIP Jakarta dengan jurusan Kepelatihan. Kemudian dilanjutkan dengan program S1 di Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia untuk mendapatkan Sertifikat kepelatihan.

Tak hanya itu, Simson juga sempat magang selama tiga bulan di Belanda, di sana dia mendapatkan pengalaman yang berarti. “Di sana (Belanda), tehnik melatihnya sangat berbeda, sebelum pertandingan mereka langsung latih tanding,” ujar Simson menjelaskan.

Awal kepelatihan, dia melatih di klub Persikota Tangerang pada tahun 1986. Selama dua tahun melatih Bayi Ajaib, julukan Persikota dia pindah ke klub yang pernah sukses bersamanya, yaitu Warna Agung. Kemudian, putra Maluku ini juga telah melanglang buana ke beberapa klub di Indonesia.

Ya, pada tahun 1999 untuk pertama kalinya, Simson melatih Persatuan Sepakbola (PS) TNI (Tentara Nasional Indonesia) Wira Malindo dan PS TNI Kopassus pada tahun 2006.

Pada saat melatih pasukan tentara ini, Simson pun berbagi kisah. “Ada perbedaan melatih pemain pro dengan para angkatan TNI ini, keunggulan mereka lebih disiplin dan memiliki fisik yang memadai. Namun, mereka juga punya kelemahan yaitu pada masalah kelenturan bermain serta teknik dasar bermain bola yang belum mereka kuasai,” ceritanya.

Menurutnya, kelemahan mereka itu yang terlalu kaku dalam bermain bola, dikarenakan para tentara tersebut selalu latihan beban yang berat di pundak mereka. “Untuk itu saya menyesuaikannya dengan memasukkan menu senam setiap kali melatih mereka,” tambahnya.

Selain itu, mereka memiliki semangat juang tinggi dan selalu bermain habis-habisan saat di lapangan. “Saya harap, para pemain timnas juga memiliki prinsip yang sama dengan yang di miliki para pasukan TNI tersebut dan yang terpenting selalu tanamkan sikap ketidakpuasan,” pesannya.

Sertifikatnya Tak Berlaku

Setiap kisah pasti tak selamanya indah, begitupun yang dialami oleh Simson. Meski sudah berusaha untuk ikut kursus kepelatihan, dari Diploma 3 hingga sertifikat kepelatihan dari FIFA. Ternyata semua tidak berlaku di era kepemimpinan Nurdin Halid tepatnya pada awal tahun 2005.

Kebijakan tersebut terpaksa diterimanya setelah Nurdin yang yang menjabat sebagai Ketua Umum PSSI saat itu, tidak menerima sertifikat dari FIFA. “Beliau hanya menerima sertifikasi dari AFC,” tambahnya. Imbasnya, Simson pun terpaksa tidak bisa menjabat pelatih di beberapa klub di Indonesia.

Bukan hanya penolakan sertifikat, akses masuk ke Gelora Bung Karno (GBK) yang menjadi ‘rumah kedua’ baginya pun tertutup. Simson mengaku kesulitan untuk melihat para juniornya berjuang membela bangsa ini. “Seharusnya sebagai mantan pemain Timnas, saya diberikan akses khusus masuk ke Senayan. Tapi saya susah sekali untuk masuk,” ceritanya.

Namun, meskipun susah untuk menonton langsung ke GBK, dia cukup bersabar dan tetap menyaksikan Garuda lewat layar kaca. “Itupun jika ada salah satu stasiun televisi yang menayangkannya,” ujar Barcelonistas ini.

Awal tahun ini menjadi titik cerah baginya, dan bagi para mantan pemain Timnas pada umumnya. Keadaan tak mengasyikan yang selama ini ia rasakan sebagai mantan pemain Timnas berakhir, seiring lengsernya Nurdin Halid. Simson kembali diakui haknya sebagai mantan pemain Timnas Garuda. Sertifikat dan akses untuk menonton langsung partai-partai Timnas ke GBK secara cuma-cuma pun kembali dirasakannya.

Meskipun saat ini dia hanya bisa membagi ilmunya ke para karyawan kantor yang ingin menggeluti permainan sepakbola. Ke depannya, dia berharap bisa terus terlibat dari dunia sepakbola tanah air.

“Bahkan, beberapa mantan pemain Timnas sudah mulai dilibatkan oleh PSSI. Bagi saya itu merupakan terobosan bagus dan seharusnya memang begitu yang dilakukan. Untuk mencari bakat-bakat muda, sudah seharusnya diserahkan kepada ahlinya,” tutupnya.

 

Profil Lengkap:

Nama : Simson Hernimus Rmahpasal

Tempat : Lohiatala, Seram, Maluku

Tgl Lahir : 21 Agustus 1950

Profesi : Pelatih Sepakbola

Sertifikat : S1 – PSSI, FIFA, KNVB Belanda, Coca Cola Go For Goal

Pendidikan : D3 Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK) IKIP Jakarta

Alamat : Perum. Kranggan Permai Jl. Cempaka 6 BS 14 No.33 Rt.005 Rw.011, Bekasi

 

Pengalaman Sebagai Pemain :

1968-1970: BintangTimur, Ambon

1970-1971: PS Ambon Yunior

1970-1972: PS Ambon Senior

1974: Mutiara Pertamina Makassar

1974: PS. Beringin Putra

1975-1977: PSM Makassar

1976-1982: Warna Agung (Galakarya)

1978: Persija Jakarta

1977-1986: Warna Agung (Galatama)

 

Tim Nasional:

1975: PSSI Garuda Aniversarry Cup

1976: Merdeka Games, Pra Olimpiade, King’s Cup

1977: Timnas SEA Games, Pra Piala Dunia

1981: Piala Presiden, Pra Piala Dunia

1982: Pra Piala Dunia, Merdeka Games, King’s Cup

 

Pengalaman Sebagai Pelatih:

1986: Persikota Tangerang

1988: Warna Agung

1991: Persita Tangerang

1993: Persijatim Jakarta Timur

1995: Persikota Tangerang

1996: PS Ketapang

1997: Persipon Pontianak

1998: Persika Karawang

1999: Persatuan Sepakbola TNI

2002: Pelatih Porda Muna, Sulawesi Tenggara

2003: Diklat Muna

2005: Pelatih Persipo Purwakarta
(fit)
TWITTER »
twit