SSB Hasanuddin (Habis)

Kenangan Ramang, Masa Depan SSB Hasanuddin

Arpan Rachman - Okezone
Jum'at, 12 Agustus 2011 14:19 wib
Pemain SSB Hasanuddin berlatih.(foto:Arpan Rahman/okezone)
Pemain SSB Hasanuddin berlatih.(foto:Arpan Rahman/okezone)
TELUSURILAH peta sepakbola di arah selatan mata angin dari Pulau Sulawesi. Garis batasnya takkan terhenti hanya pada nostalgia nan legendaris tentang nama besar seorang Ramang belaka.
 
“Kalau dia membawa bola, lawan sering mengira bola itu masih ada di kakinya, padahal bola itu sudah dioperkan, sementara lawannya masih mengejar dia,” ujar Haji Mahmud (72), warga Kelurahan Antang, Kecamatan Manggala, Makassar.
 
Inilah salah seorang dari jutaan penonton setia, yang dulu rela berjalan kaki sekira 20 kilometer demi menyaksikan pemain kesayangannya itu berpanggung di atas rerumputan menghijau di Lapangan Karebosi, Makassar.
 
“Tak pernah saya lihat ada lagi pemain yang bermain seperti Ramang mengolah bola,” lanjut sang kakek sambil melihat cucunya, Muhammad Farzyehan (11), gelandang di tim U-12 SSB Hasanuddin, menggiring si kulit bundar dengan lincahnya.
 
SSB Hasanuddin salah satu harapan di masa depan. Dari dalam cangkang telurnya, telah ditetaskan pelatih Bahar Muharram dkk, jago-jago yang membuktikan diri berhasil meneruskan reputasi Si Ayam Jantan dari Timur.
 
Tapi matahari belum bersinar terang. Sebab gelap karena gonjang-ganjing kusut ruwet di liga domestik menghimpit prestasi timnas yang masih mengkhawatirkan di kawasan Asia Tenggara. Kendati kesebelasan senior telah lolos ke putaran ketiga zona benua untuk Piala Dunia 2014. Meskipun belum tampak solid, regu yunior dalam racikan seorang Marinir yang terlatih telah dibebani target mencapai emas puncak setelah 20 tahun gigit jari di SEA Games.
 
Seperti fajar baru yang tersingsing dalam dunia persepakbolaan Tanah Air. Selalu ada pagi yang sama-sama kita rindukan.
 
Itu telah diawali kemegahan suara kokok mendendangkan bunyi kukuruyuk dari para pemain kecil dalam usia di bawah 12 tahun yang dengan gagahnya menatap jauh sampai ke dekat istana Alhambra yang berdiri kokoh di bukit La Sabica, Granada, nun jauh di Spanyol sana.
 
Dengarkanlah ansambel kemenangan Asnawi Mangkualam cs atas SSB Putra Banna asal kawasan yang paling barat dari negeri ini. Mereka, yang menang atau yang kalah, ialah para pemilik sepakbola yang datang dari jauh, dari sebuah masa depan penuh harapan cemerlang.
 
Walau terbersit jua nuansa rasa sedih di wajah beberapa pengurus SSB Hasanuddin yang minta namanya dirahasiakan. Bukan mencemaskan soal kelanjutan pendidikan anak asuhnya, melainkan kalau-kalau pemain menderita sakit setelah menikmati kerasnya latihan, sedangkan angka gizi yang diasup barangkali tak cukup.
 
Bagaimana Farzyehan dkk mampu berlari kencang di lapangan dan berpikir ulet di sekolah mereka? Mungkin saja faktor kepiawaian keduanya, baik berlari atau berpikir, dipengaruhi faktor antara asupan gizi yang cukup disambung dengan mantapnya latihan setiap hari.
 
(fit)
  • Mas Darto » 0 Tanggapan
    Saya sebagai pecinta sepak bola Indonesia memang prihatin dengan pendidikan sepak bola usia dini, tapi saya berharap supaya pemerintah memfasilitasi pendidikan itu. Dan juga saya berharap supaya pemerintah mendirikan lagi sekolah khusus untuk olah raga supaya bangsa ini selalu menciptakan atlit oleh raga khususnya sepak bola. Amiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiin !
    Beri Tanggapan Laporkan
  • Mohammad Ali Jinnah » 0 Tanggapan
    Ewako Makassar... Ewako Indonesia
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.
TWITTER »
twit